Membangun Gereja – Memberdayakan Umat

BAGANSIAPIAPI –  Berhubung bangunan lama gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius-Bagan Tanjung, Paroki St. Petrus dan Paulus-Bagansiapiapi, Riau kurang memadai perlu dibangun baru. Peletakan batu pertama pembangunan baru gereja oleh Pastor Paroki St. Selengkapnya

Kala Gereja Kembali Dibuka

PADANG – Setelah pemerintah menyatakan masuk masa New Normal dalam pandemi Covid-19,  dalam waktu yang sama Paroki Santa Maria Bunda Yesus dan Paroki Santo Fransiskus Assisi  Padang membuka kembali gereja meng­adakan Perayaan Selengkapnya

Koperasi Sehat

PADANG –  Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2019 Koperasi Kredit (Kopdit) Lestari Padang berbeda  dari biasanya. Pelaksanaan RAT yang sudah matang direncanakan Minggu, 22 Maret 2020 dua hari sebelumnya terpaksa dibatalkan.   Selengkapnya

SMA “Sanmar” Pekanbaru: Napak Tilas Sejarah

Keberadaan SMA Santa Maria Pekanbaru berkat jasa besar Pastor Adolfo La Ruffa, SX. Missionaris Serikat Xaverian (SX) asal Italia inisiator berdiri dan pembangunan gedung sekolah ini. Pastor La Ruffa juga berperan aktif dalam mengembangkan SMA Santa Maria. Pastor La Ruffa berpandangan jauh ke depan. SMA Santa Maria lahir karena kebutuhan sekolah menengah atas (SMA).

SMA Santa Maria Pekanbaru: Menghadirkan Indonesia Mini

Masyarakat kota Pekanbaru khusunya, provinsi Riau umumnya mengenal dan tahu SMA Santa Maria Pekanbaru. Sekolah di bawah asuhan Yayas­an Prayoga Riau (YPR) ini berada di Jalan Ronggowarsito, Sukamaju, Sail, Pekanbaru, Riau.
SMA Katolik satu-satunya di Pe­kanbaru ini dikenal terutama prestasi­nya yang tidak diragu­kan lagi. Di tambah letaknya yang strategis, di jantung kota Pekanbaru, mudah dikenali masyarakat. Akses menuju sekolah begitu mudah, baik dengan angkutan umum atau kendaraan pri­badi. Di sekitar sekolah berdiri per­kantoran pemerintah antara lain, Mapolda Riau (di depan gerbang SMA), kantor Gu­bernur Riau (di belakang sekolah), dan Gedung Pusat Pelayanan Admi­nistrasi kota Pekan­baru, dan lain sebagainya.

Waspadalah Terhadap Nabi Palsu

Romo Kebet mendapatkan kisah dari rekan sejawatnya. Sebut saja Romo Lukas. Ceritanya begini…..
Seseorang mengaku Insinyur Daniel menelponku. “Syalom….! Benar ini Romo Lukas?”
Saya jawab benar.
“Saya Insiyur Daniel. Berkat doa-doa Romo, karir saya sekarang bagus. Saya diangkat menjadi manajer di perusahaan tambang, tetapi di lepas pantai. Saya sedang mendarat di Balikpapan. Waktu saya singkat, Romo. Sebagai rasa syukur, saya ada sedikit dana. Mungkin bisa bantu karya pastoral atau kebutuhan pribadi Romo.” katanya.
Ingatan saya menerawang, mengingat dan mencari-cari orang yang bernama Daniel, bergelar insinyur.
“Sebenarnya saya ingin sowan (datang) Romo, sekalian nyekar (berziarah) ke makam ibu. Tetapi tidak ada cuti, masih pandemi lagi”, katanya.
Kalau itu bisa diaturkan. Kapan baiknya?
“Atau Romo, monggo (silakan) ke tempat kami. Apa pun nanti kami tanggung,” lanjut Daniel.
Ir. Daniel minta nomor rekening bank. Saya berikan lewat SMS.
“Romo tunggu sebentar saya transfer ya?” lanjutnya.
Tidak lama kemudian, Ir. Daniel menyatakan bahwa sudah transfer Rp 10 juta! Waah….rezeki nomplok, bisa untuk nyambung bayar SPP anak asuh. Batinku.
“Sudah Romo, silahkan dicek!” katanya meyakinkan.
Aku lihat lewat mobile banking di HP belum masuk, Saya katakan, kalau Bapak sibuk, tinggal saja. Mungkin sinyal kurang bagus!
“Betul. Gangguan sinyal. Romo ke ATM terdekat saja. Nanti bukti tran­saksi bisa Romo print!” katanya.
Saya ke ATM dekat pastoran.
“Kalau Romo sudah di ATM, masukkan kartu, terus pin. Tekan transaksi lainnya. Cepat yaaa, Romo. Saya sudah dipanggil teman. Terus ada tulisan transfer, Romo pilih itu. Pilih bank lain, tekan lagi. Ketik jumlah yang saya sumbangkan tadi!’ katanya.
Sampai di situ, saya merasa ada yang tidak lazim. Saya penerima, kok malah menekan transfer. Berarti saya mengirim. Saya panjangkan akal, gantian mengerjainya. Saya pura-pura keliru mencet sehingga mesti diulang lagi.
“Pelan saja, Romo. Ulang dari awal ya, Romo.”
Saya pura-pura mengikuti perintahnya. Sudah, sudah masuk! Terima kasih. Lain waktu kalau berkenan disumbang lebih banyak yaa….!
Merasa saya kerjai, Ir. Daniel menutup teleponnya.
Selesai membaca kisah itu, Romo Kebet terdiam akan akan hati-hati kalau mengalami hal yang sama. Lalu Romo Kebet mengambil secarik kertas dan pena.
“Cerdiklah seperti ular, tetapi tidak seperti Insinyur Dani­el. Hati-hatilah terhadap nabi-nabi palsu di zaman kini!” tulisnya. (ws)

PERUTUSAN & PEMBERIAN KUASA

Minggu Biasa XV (10 Juli 2021)
Ams 7:12-15; Mzm. 85:9ab, 10, 11-12, 13-14
Ef 1:3-14; Mrk 6:7-13

 

SETIAP ORANG memiliki gaya hidup dengan penampilan masing-masing. Ada orang yang meniru gaya hidup tokoh idolanya, dari cara berbusana hingga penampilannya. Ada juga orang yang punya style, gaya sendiri, tidak mau meniru siapa pun. Orang ini menjalani hidup seperti dirinya, berjalan apa adanya dan semestinya, tanpa melihat, meniru yang dilakukan oleh orang di sekitarnya. Seseorang dengan gaya hidupnya yang khas dan unik ini terkadang susah dipahami.


Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk memiliki dan melaksanakan gaya hidup yang baru, yakni gaya hidup “salib”. Gaya hidup salib adalah gaya hidup yang rela berkurban dan lepas bebas dari hal-hal yang mengikat. Gaya salib memang tidak menyenangkan dan membuat pemiliknya bisa mengalami penderitaan. Namun demikian, jika gaya hidup salib ini dilaksanakan, akan menyenangkan dan membahagiakan siapa pun pelakunya.
Hidup bergaya salib, dilakukan Tuhan Yesus dengan cara memanggil dan mengutus para murid-Nya untuk pergi berdua-dua. Dalam perutusan itu, para murid dibatasi untuk tidak membawa bekal dalam perjalanan, tidak memakai alas kaki, dan tidak membawa dua baju. Suatu syarat yang tidak biasa. Tetapi memang semua orang beriman telah dipanggil menjadi pelayan dan siap diutus ke manapun dan di manapun. Dengan syarat itu dimaksudkan agar mereka fokus, tidak terikat oleh hal-hal remeh temeh. Fokus utama dari semua itu adalah mewartakan Kerajaan Allah pada setiap orang. Dalam kondisi yang demikian Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Yang diberikan Tuhan kepada mereka jauh lebih hebat, yaitu kuasa. Para murid diberi kuasa, sampai mengusir roh-roh jahat.
Bacaan pertama hari ini, mengisahkan Nabi Amos yang diusir Raja Amazia karena pewartaannya. Amos tidak diperkenankan bernubuat di Bethel karena tempat itu dianggap sebagai tempat kudus bagi raja, kediaman suci yang tidak diperbolehkan siapapun, kecuali Raja. Amos menjawab raja Amazia itu dengan mengatakan bahwa dirinya bukan seorang nabi, juga tidak termasuk golongan para nabi, melainkan hanya peternak dan pemungut buah pohon ara hutan. Dari pekerjaannya itu, sesungguhnya Allah telah memanggil dan mengutusnya agar bernubuat kepada umat Israel. Hal ini menunjukkan cara Allah mengutus setiap orang untuk menjadi pewarta dan saksi-Nya di mana pun. Allah tidak memperhatikan status dan latar belakang para pekerja-Nya. Tua atau muda, miskin atau kaya yang dilihat-Nya hanya kesiapsediaan yang harus dimiliki setiap utusan, tidak perlu memperhitungkan banyaknya imbalan yang diterimanya.


Kita yang percaya Kristus, dipanggil dan diutus untuk menjadi pewarta-Nya. Dasar perutusan itu adalah baptisan suci dan amanat dari Yesus ketika kembali kepada Bapa-Nya. “Karena itu, pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu…..”(Mat 28:19-20). Dasar inilah yang memampukan kita untuk mengambil bagian dari tri tugas Kristus sekalipun tidak mendapat upah. Yang mau ditegaskan dalam menjalankan karya itu adalah fokus pada pewartaan. Segala sesuatu yang bersifat duniawi ini dilepaskan agar perutusan itu tidak terganggu. Inilah gaya hidup salib, bertolak dari zona hidup yang aman, meninggalkan kesenangan, hidup dalam kesederhanaan. Jika segalanya ditinggalkan, bagaimana dengan kehidupan kita? Allah telah memperhitungkan segala keperluan hidup untuk pengikut-Nya. Allah mengeri dan akan mencukupi kebutuhan para pewarta-Nya. Biarlah itu menjadi penyelenggaraan Allah dan manusia tidak perlu sibuk mengurus keperluan jasmaninya saja.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Filipus mengungkapkan bahwa setiap orang yang menjalankan pelayanannya untuk Tuhan akan menerima ganjarannya. Allah telah memberi kuasa untuk berkuasa atas segala yang jahat. Manusia mengenakan perlengkapan senjata Allah, supaya dapat bertahan melawan iblis dan kekuatan dari si jahat. Sabda Tuhan hari ini, memanggil kita untuk hidup dengan gaya salib. Tugas sebagai orang yang telah dipanggil dan diutus adalah membawa wajah Tuhan yang penuh kebaikan, kasih dan pengampunan dalam kehidupan. ***

Pengaruh Pandemi Tak Berarti

Gultom Gerhard Sinaga
Koperasi Konsumen Serba Usaha (KKSU) CU ‘Hati Nurani’ Bondar, Desa Tambusai Barat,
Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu-Riau.

“Mulanya, kami bergerak pada usaha simpan-pinjam, sesuai kebutuhan anggota, kini punya usaha lain. Unit simpan-pinjam tetap menjadi usaha pertama dan utama Koperasi Konsumen Serba Usaha (KKSU) CU ‘Hati Nurani’ Bondar, Desa Tambusai Barat, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu-Riau. Hingga 31 Desember 2020, koperasi ini punya 6.597 anggota, total aset 125 Miliar Rupiah,” kata Gultom Gerhard Sinaga (46) koperasi ini.
Di wilayah Paroki St. Ignatius Loyola-Pasir Pengaraian, Riau, selain itu (KKSU) CU ‘Hati Nurani Ada juga satu koperasi sejenis lainnya Pandemi Covid 19 yang telah berlangsung lebih setahun ini mengguncang sendi-sendi kehidupan perekonomian masyarakat.Banyak terjadi kelesuan usaha, pemutusan hubungan kerja (PHK), pe-rumah-karyawan dan mengarah pada resesi ekonomi. Akan tetapi kondisi itu tidak berpengaruh pada koperasi ini. Pertambahan jumlah anggota menjadi 7.335 orang dan aset mencapai 133 Miliar Rupiah pada 27 Mei 2021. Pertumbuhan aset dan anggota berlangsung normal, bahkan bertambah enam staf/karyawan yang mengikuti pelatihan (training). Total ada 24 karyawan dan satu manajer,” tambahnya.
Sejak menjadi manajer pada 2012 hingga kini, Sinaga menilai tiadanya pengaruh buruk secara ekonomi pda koperasi. Sembilan puluh persen anggota kami petani kelapa sawit! CU ini terus menggeliat dan bertumbuh. Itu artinya masyarakat tidak percaya pada koperasi ini.Enam bulan pertama setelah dinyatakan resmi sebagai pandemi oleh pemerintah, sempat terjadi banyak anggota terpengaruh oleh opini yang berkembang lewat media massa dan media sosial. Tetapi itu hanya sebentar!
Dapat dikatakan, pinjaman kredit/utang di kalangan anggota CU kami tidak ada permasalahan karena sebenarnya mampu mengangsur. Opini umum yang berkembang kala itu memang sempat ‘menggelisahkan’ walau kala itu karyawan yang bergaji di bawah lima juta memperoleh ‘tambahan penghasilan’, berupa bantuan langsung tunai sebesar enam ratus ribu Rupiah setiap bulan selama empat bulan. Operasional CU kami berlangsung normal saja hingga kini,” tambah Sinaga – salah satu perintis dan pendiri koperasi ini pada 9 September 2002.
Meski pandemi Covid-19 tidak menghambat, namun tetap melakukan sosialisasi yang berkelanjutan pada anggota maupun calon anggota. Biasanya, lanjut Sinaga, sosialisasi melalui gereja dan para ketua kelompok. Kini ada 22 ketua kelompok. Setiap kelompok wajib menyelenggarakan pendidikan tentang CU, minimal dua kali setahun. “Bagi kami, yang utama dan pertama, kehadiran CU ini menjadi kebutuhan anggota dan masyarakat dengan pelayanan yang baik; bukan sebaliknya. Di beberapa tempat, kehadiran CU menjadi kebutuhan pengurus, bukan anggota, sehingga mengalami banyak hambatan. Sungguh membanggakan karena keberadaan CU ini mendapat dukungan dari paroki.
Sinaga menjelaskan, dari keanggotaan, sekitar 20 persen anggota CU ini beragama Katolik, selebihnya Protestan dan Islam. Selain usaha simpan-pinjam, CU ini bergerak pada penyediaan pupuk untuk pertanian dan perkebunan. Untuk menambah aset, KKSU CU ‘Hati Nurani’ memiliki kebun kelapa sawit seluas 70 hektar. Kami berencana membuka Pertashop bekerja sama dengan Pertamina. Selama ini, pelayanan dan penyaluran kredit/pinjaman berlangsung lancar. Tidak ada kendala. Angsuran kredit anggota pun lancar meski dalam pandemi dan resesi sekalipun. Kalaupun ada kredit macet, di CU kami di bawah 2 persen, sementara ukuran/standar berstatus sehat bila di bawah 5 persen. Diakui atau tidak, kehadiran CU harus berdampak positif bagi masyarakat. Karena itu, setiap insan CU harus mempraktikkan nilai-nilai CU dengan baik dan benar, serta diaplikasikan dalam pelayanan anggota. Saat anggota terlayani dengan baik, citra koperasi dan pengurus di tengah masyarakat akan baik pula. Kepercayaan publik pun bertambah. Tatkala publik percaya, CU eksis selamanya, sebab dasar CU adalah kepercayaan dan kerja sama,” tukas mantan Ketua Stasi Silayang-layang, Paroki Pasir Pengaraian periode 2011-2018 berpikir. (selai)

CU: Penolong di Masa Sulit

Resesi ekonomi melanda dunia saat ini, termasuk Indonesia. Kondisi sulit ini terjadi terutama karena pandemi Covid-19. Banyak keterbatasan yang dibuat pemerintah agar virus Corona tidak menyebar dan mematikan warga. Di masa sulit ekonomi ini, kita harapkan tidak hanya ada bantuan dari pemerintah dan lembaga lain, tetapi masyarakat sendiri juga bisa bertahan hidup dan mencari terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan ekonominya.
Credit Union (CU) bisa menjadi salah satu solusi. Sebab CU adalah sebuah lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang simpan pinjam yang dimiliki oleh anggotanya, dikelola oleh anggotanya dan bertujuan untuk menyejahterahkan anggotanya. Dengan gerakan simpan pinjam di CU, para anggotanya dapat memajukan roda ekonominya dalam bentuk jualan kecil-kecilan di tempat tertentu, jualan online, membentuk Usaha Kecil Menengah (UKM), dan lain sebagainya.
Istilah CU lebih terkenal daripada kepanjangannya “Credit Union”. Credit Union berasal dari dua kata Latin: “credere” yang artinya percaya, dan “unio” yang artinya persatuan, kumpulan. Jadi Credit Union adalah persatuan/kumpulan orang-orang yang saling percaya, yang terikat satu sama lain dalam satu kesatuan dan kesepakatan bersama untuk menabungkan uang mereka, sehingga tercipta modal bersama untuk dapat dipinjamkan kepada para anggotanya yang dapat dipercayai dengan tujuan saling membantu demi kesejahtaraan bersama. Umumnya di Indonesia CU dikenal juga dengan istilah Kopdit (Koperasi Kredit).
Menurut UU No. 17 tahun 2012 pasal 1 ayat 1, “Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.” Sekilas, CU sama dengan koperasi simpan pinjam lainnya atau lembaga perbankan lainnya. Namun sebenarnya berbeda. CU berbentuk koperasi dan CU adalah koperasi simpan pinjam. Tetapi koperasi simpan pinjam belum tentu CU. Perbedaan ini tampak dalam beberapa prinsip CU yang tidak ada di dalam koperasi simpan pinjam lainnya.
Pertama, adanya prinsip swadaya. Modal CU diperoleh dari para anggotanya sendiri. CU tidak mendapatkan modal dari lembaga lain. Modalnya dari uang simpanan anggotanya sendiri dan hanya memberikan pinjaman kepada anggotanya yang jujur dan berwatak baik. CU mengenal falsafah: “Dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota”. Karena itu kelangsungan hidup CU sangat ditentukan oleh anggotanya sendiri.
Kedua, prinsip solidaritas atau kesetiakawanan. Motto CU adalah “Anda susah saya bantu dan saya susah Anda yang bantu.” Pinjaman di CU hanya diberikan kepada para anggotanya. CU mengutamakan kepentingan hidup bersama daripada kepentingan diri pribadi. Setiap anggota CU harus ingat akan kewajibannya untuk menabung dengan teratur dan membayar angsuran pinjamannya. Kejujuran dan ketertiban dalam CU bertujuan agar para anggotanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh bantuan.
Ketiga, adalah prinsip pendidikan. CU memberikan pendidikan kepada para anggotanya agar bebas dari kesulitan ekonomi, agar anggotanya memiliki pola pikir positif dalam mengelola keuangan untuk meningkatkan harkat hidupnya. Lewat pendidikan, para anggota CU dapat mengerti hak dan kewajibannya, lebih rasional dan bijaksana dalam mengelola uang, dapat mengetahui kondisi keuangannya sendiri dan juga mengetahui perkembangan CU-nya. CU memiliki motto ini juga: ”Dimulai dengan pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dikontrol oleh pendidikan dan bergantung kepada pendidikan.” Di CU, pola pikir orang diubah. Orang harus menabung dulu untuk dapat meminjam uang.
Keempat, ada juga prinsip inovasi. CU selalu berusaha agar para anggotanya diperbarui hidupnya, menemukan cara-cara baru untuk semakin meningkatnya ekonomi mereka. Kelima, prinsip kesatuan. CU sangat tergantung dari kesatuan hati, moral, dan tindakan baik dari para pengurus dan anggotanya. Semua anggota harus menjadi subyek yang aktif dan partisipatif. Jika tidak, akan mudah terjadi penyimpangan, yang akan berakibat buruk seperti adanya kredit macet, modal cekak, bangkrut, sampai ada yang masuk penjara. Kadang-kadang terdengar plesetan nama koperasi yang jelek. Misalnya ada istilah “kuperasi” artinya koperasi menjadi tempat dan sarana untuk aku peras uangnya. Ada istilah “koperisi” (koper isi), artinya koperku kuisi dahulu. Dulu ada juga istilah plesetan “KUD”, yaitu “Ketua Untung Duluan”, dan lain sebagainya. Tentu saja istilah plesetan ini dibuat oleh orang-orang berdasarkan pengalaman negatif mereka dan bukan menjadi identitas koperasi yang seharusnya ada dan berjalan baik. Akibat adanya penyimpangan, orang menjadi trauma, takut bahkan antipati terhadap CU. Penyimpangan yang berlarut-larut tidak hanya timbul karena kegagalan pengurus dalam mengelola usaha, tetapi juga karena banyaknya anggota CU yang tidak peduli, kurang tahu atau tidak berperan aktif dalam mengawasi kinerja pengurus dan pengawas CU sebagai pemegang mandat dari RAT.
Di masa resesi dan sulit saat ini, tentu ada CU yang macet dan kesulitan. Namun kita harapkan banyak CU telah membantu kesulitan ekonomi para anggotanya. Untuk menghindari penyimpangan, diperlukan sistem yang baik, bersih, transparan, aman, akuntabel, dan responsibel. Credit Union ini tidak sama dengan Western Union yang tujuannya untuk mencairkan uang yang dikirim dari tempat lain. Gerakan CU adalah salah satu penjabaran dari Ajaran Sosial Gereja (ASG), yaitu cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan bantuan. Keuskupan, lewat Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) ikut mendukung, memfasilitasi dan membina CU agar sehat dan berguna bagi umat dan masyarakat luas. ***

Mengajak OMK Meneladan Bunda Maria

SANTA MARIA SIBERUT – Delapan puluh lima (85) Orang Muda Katolik (OMK) dari lima stasi se-Wilayah Sagulubbeg, Paroki St. Maria Diangkat ke Surga-Siberut, Kepulauan Mentawai mengikuti pembinaan tentang spiritualitas Bunda Maria. Pembinaan bertema: “Devosi Kepada Bunda Maria” ini dilaksanakan di gereja Stasi Santa Lusia-Mapinang dari 29 – 31 Mei. Peserta berasal dari Stasi Sagulubbeg (12 orang), Lumago (23), Siribabak dan Buga (37), dan Mapinang (13). Utusan OMK dari dua stasi lainnya (Masi dan Mongan Tepuk) berhalangan hadir.
Selama tiga hari berkumpul, melalui berbagai materi dan metode, panitia mengupas teladan pengorbanan Bunda Maria dan mengajak OMK meneladani kebaikannya terutama di di tengah pandemi saat ini. Hari pertama kegiatan, Sabtu (29/5) malam, kegiatan diawali dengan berdoa Rosario dilanjutkan ‘nonton bersama’ (nobar) bagian pertama film kisah ketaatan dan perjuangan Bunda Maria dari Nazareth. Usai menonton, dilanjutkan berpengalaman (sharing) di antara peserta.
Hari kedua, Minggu (30/5), setelah Perayaan Sabda, aktivitas dilanjutkan dengan kegiatan sosial. Peserta dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama mengumpulkan batu untuk tambahan pembangunan gereja Stasi Mapinang – yang sedang dalam proses pembangunan. Kelompok dua memperbaiki jalan penghubung antara dam dan Dusun Mapinang yang selalu digenangi air tatkala pasang naik. Kelompok tiga mengumpulkan kayu bakar untuk membantu dua keluarga yang telah berusia lanjut.
Malam harinya (30/5), peserta kembali berdoa berdoa Rosario bersama dan menonton film bagian kedua. Usai nonton, peserta berbaur dalam dinamika kelompok terkait kisah dalam film dan aksi sosial yang dilakukan siang hari. Hari terakhir (31/5), pada sesi pertama, katekis muda lulusan STKIP “Widya Yuwana”-Madiun. Elisabet Berta Sababang, S.Pd., membawa peserta mendalami bahan tentang “Devosi dan Teladan Bunda Maria” dan “Penghormatan Kepada Bunda Maria”. Sebagai refreshing sekaligus internalisasi nilai-nilai yang didapat sepanjang pendalaman materi, peserta juga diajak melakukan terlibat luar ruangan (out-bound). Semua rangkaian pembinaan OMK ditutup dengan Ibadat Sabda dilanjutkan malam gembira.
Tatkala dihubungi, nara hubung GEMA di Stasi Sagulubbeg ini mengungkapkan tujuan pembinaan agar peserta (OMK) mengambil makna keteladanan dan pengorbanan Bunda Maria. “OMK pun jangan merasa rugi saat mengikuti setiap proses kegiatan di stasinya. Peserta OMK pun diharapkan menjadi orang muda yang siap ambil bagian dalam tugas menggereja dan memasyarakat. Selain itu, OMK setempat pun mau berdevosi kepada Bunda Maria walau bukan pada bulannya (Mei dan Oktober). Direncanakan, adanya sebuah tempat ziarah di Wilayah Sagulubbeg,” ungkap Stepanus lagi.
Lewat aktivitas out-bond dan bakti sosial, sambung Stepanus, warga OMK semakin terpanggil rela berkorban (segi waktu dan tenaga) untuk membantu orang lain tanpa pamrih. Terkait (rencana) tempat ziarah, Stepanus menyatakan OMK di wilayah ini bakal rutin dalam ibadat pembukaan dan penutupan Rosario. Untuk mewujudkan rencana tersebut, lanjutnya, warga OMK tiap stasi menggalang dana untuk mempunyai patung Bunda Maria serta merencanakan lokasi pembangunan goa sederhana Bunda Maria.
Kegiatan pembinaan OMK ini mendapat dukungan penuh umat Katolik Stasi St. Lusia Mapinang. Selain berupa dukungan untuk makan bersama/resepsi usai pembinaan berlangsung, umat juga bersedia menerima tumpangan peserta OMK dari luar Stasi Mapinang. (hrd)

Apa itu Over Thinking?

Over thinking (OT) adalah saat seseorang melihat banyak hal sehingga mempengaruhi aneka kegiatan. Sebenarnya, boleh saja menampilkan banyak hal, jangan sampai mengganggu dan mempengaruhi kegiatan/aktivitas yang dilakukan, tetapi hanya yang baru, merupakan hal-hal yang tidak biasa. Batasannya sederhana: apakah seseorang merasa nyaman atau tidak nyaman dengan pikirannya sendiri?
Jika ada sesuatu (masalah) misalnya, apakah berpengaruh maksimal atau mengganggu tugas/pekerjaan sehingga tidak mengganggu ketenteraman tidur, dan sebagainya? Bila ya, berarti individu yang bersangkutan mengalami OT. Tatkala berpikir, ada pola pikir yang bisa dikontrol dan tidak bisa dikontrol. Misalnya, bagaimana tugas bisa diselesaikan.Ini berarti dalam batas yang bisa dikontrol. Atau mau makan apa? Mau pergi ke mana? Di masa pandemi Covid-19 yang belum jelas akhirnya, cukup banyak kalangan yang OT, terutama masalah terkait dengan keuangan/keuangan.
Contoh lain, berkaitan dengan pekerjaan/tugas mahasiswa atau peserta didik. Setelah mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) dan menyerahkan kepada guru atau, peserta didik atau mahasiswa yang OT menduga-duga, “Jangan-jangan guru atau dosen sedang tidak dalam suasana hati yang tidak baik sehingga tidak menerima tugas atau PR yang diberikan. Atau, jikapun diterima, akan dinilai dengan angka rendah atau jelek.” Bagi peserta didik atau mahasiswa, pemikiran yang dapat dikontrol selama tugas atau PR belum diserahkan.Namun, setelah diserahkan untuk diperiksa, hal tersebut tidak dapat dikontrol lagi.
Maka, ciri-ciri OT bila seseorang berpikir untuk hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Kalau seseorang terlalu banyak pemandangan hal-hal yang tidak bisa dikontrol; maka hal tersebut akan mengganggu kenyamanan dan ketenangan hidup. Seseorang bisa dilanda kecemasan, stres, mengalami gangguan tidur atau menjadi malas-malasan bekerja, bahkan bahan pikiran terus-menerus. Sebagai contoh, mungkin ada di antara orangtua yang terlalu memperhatikan (OT) bila anak remajanya bersepeda atau mengendarai mobil akan terserempet atau mengalami kecelakaan di jalan.Yang bisa dikontrol adalah mengawasi mengarahkan yang aman, memberikan nasihat atau petuah, membekali dengan perlengkapan helm, dan sebagainya. kontrol, adalah hal-hal yang tidak dapat dikontrol. Naluri sebagai orangtua agar anaknya tetap selamat pasti ada dan wajar,
OT memang berbeda tipis dengan istilah “berpikir terlalu jauh atau terlalu maju ke depan”. Pada satu sisinya, ada aspek positifnya, karena berisi rancangan dan rencana masa mendatang dengan sejumlah target atau sasaran tertentu. Beda lagi dengan kekhawatiran berlebihan (anxietas) yang mempengaruhi fisik, misalnya sesak nafas, sesak. Maka, sehubungan dengan OT, berikut tips sederhananya.
Pertama, terlebih dahulu memeriksa terlebih dahulu: pemikiran yang bisa dan tidak bisa dikontrol! menyadari ada hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan, serta tindakan yang dapat dilakukan! Bagian yang bisa dikontrolnya? (misalnya emosi, perasaan, perilaku). Yang jelas, setelah melakukan nasihat, pembekalan, petuah pada anaknya, keyakinan bahwa Tuhan melindungi anak/remajanya tersebut.
Kedua, lakukanlah (penggantian) pada hal-hal yang tidak disukai agar dapat lebih menenteramkan diri sendiri. Hal itu dilakukan agar tidak terlalu memengaruhi hidup dan pikiran. Langkah ‘pengalihan’ dapat dilakukan lewat aktivitas ringan atau melakukan hobi secara berkala/rutin agar tidak ada suatu obyek (masalah) yang dihadapi.Mesti ditanamkan keyakinan bahwa orang itu telah memberikan yang terbaik. Setelah itu, semua diserahkan kepada Semesta yang menentukan.
Ketiga, berdoa dan menyerahkan semua beban/persoalan/pemikiran kepada Tuhan setelah semua upaya terbaik yang telah dilakukan dan diberikan. (***)

Iman Berawal dari Bibit Pisang

Antonius Taileleu (77) salah satu saksi mata sekaligus pelaku sejarah kebera­daan Gereja Katolik Stasi Beleraksok, Paroki St. Maria Assumpta-Sikakap, Kepulauan Mentawai. Lelaki kelahiran Beleraksok-Pagai Selatan 8 Desember 1945 ini menjadi Katolik saat berusia 15 tahun. Sejak tahun 2014, Antonius bersama keluarganya menetap di lokasi baru, jauh dari tepian pantai, tempati tinggal sebelumnya. Masyarakat setempat, termasuk keluarga Antonius direlokasi akibat gempa bumi dan tsunami (2007 dan 2010).

Antonius mengenang awal mula agama Katolik masuk ke kampungnya. Suatu waktu, Antonius diajak orang­tuanya ke Matobe’ Sare­re-Pagai Utara mencari bibit pisang. Di kam­pung itu, mereka bertemu Gerson – salah satu umat Katolik pertama di Matobe’ Sarere. Dalam catatan sejarah, umat Katolik pertama di Mato­be’ Sarere dibaptis pada 13 Januari 1957. Dari perbincangan sekitar bibit pisang, beralih ke soal agama baru, yaitu: Katolik. Antonius dan orangtuanya tertarik dengan ‘agama baru’ ini. Setelah beberapa kali bolak-balik Beleraksok – Matobe’ Sarere, mereka menyata­kan mau menjadi Katolik. Sebe­lum­nya, mereka penganut Protes­tan agama yang dianut mayoritas masyarakat Pagai Selatan. Sejalan waktu, satu keluarga lainnya, masih kerabatnya menyu­sul menjadi Katolik. Dua keluarga inilah umat perdana di stasi ini, (lokasi lama Beleraksok). Pada 1 Januari 1965, Antonius menikahi Ida Maria Saogo (71) diber­kati Pastor Grapolli, SX (alm). Pada tahun yang sama, dibangun gereja di Mongan Naipuk (lokasi lama Beleraksok) berukuran 8 meter kali 25 meter. Saat itu, paroki dipimpin Pastor Zilvano Zulian, SX (alm). “Pembangunan gere­ja ini berujung kekisruhan karena ditentang penganut agama mayoritas. Kehadiran agama Katolik menimbulkan pro-kontra, namun bebe­rapa waktu kemudian, enam keluarga justru menyatakan diri menjadi Katolik,” katanya.
Antonius melanjutkan kisahnya, gempa bumi tahun 2007 dan 2010 merusak bangunan gereja dan rumah masyarakat. Gempa 2010 yang diikuti tsunami merenggut jiwa 28 warga. Untuk keamanan dan kenya­manan, pemu­kiman warga direlokasi, terma­suk bangunan gereja. Ketua Stasi selama empat windu (32 tahun) ini mengenang kepindahan bangunan gereja dan saat-saat menerima kunjungan pastor bersama tim pastoral di stasinya. “Pastor yang melayani Paroki Sikakap silih berganti. kalau kunjungan selalu menginap di rumah kami. Pada kun­jungan pastoral itu berlangsung penerimaan Sakramen Tobat, Misa Kudus, rekreasi, pen­dalaman iman dan katekese umat.” katanya. (hrd)

 

Iman Berawal dari Bibit Pisang

Antonius Taileleu (77) salah satu saksi mata sekaligus pelaku sejarah kebera­daan Gereja Katolik Stasi Beleraksok, Paroki St. Maria Assumpta-Sikakap, Kepulauan Mentawai. Lelaki kelahiran Beleraksok-Pagai Selatan 8 Desember 1945 ini menjadi Katolik saat berusia 15 tahun. Sejak tahun 2014, Antonius bersama keluarganya menetap di lokasi baru, jauh dari tepian pantai, tempati tinggal sebelumnya. Masyarakat setempat, termasuk keluarga Antonius direlokasi akibat gempa bumi dan tsunami (2007 dan 2010).

Antonius mengenang awal mula agama Katolik masuk ke kampungnya. Suatu waktu, Antonius diajak orang­tuanya ke Matobe’ Sare­re-Pagai Utara mencari bibit pisang. Di kam­pung itu, mereka bertemu Gerson – salah satu umat Katolik pertama di Matobe’ Sarere. Dalam catatan sejarah, umat Katolik pertama di Mato­be’ Sarere dibaptis pada 13 Januari 1957. Dari perbincangan sekitar bibit pisang, beralih ke soal agama baru, yaitu: Katolik. Antonius dan orangtuanya tertarik dengan ‘agama baru’ ini. Setelah beberapa kali bolak-balik Beleraksok – Matobe’ Sarere, mereka menyata­kan mau menjadi Katolik. Sebe­lum­nya, mereka penganut Protes­tan agama yang dianut mayoritas masyarakat Pagai Selatan. Sejalan waktu, satu keluarga lainnya, masih kerabatnya menyu­sul menjadi Katolik. Dua keluarga inilah umat perdana di stasi ini, (lokasi lama Beleraksok). Pada 1 Januari 1965, Antonius menikahi Ida Maria Saogo (71) diber­kati Pastor Grapolli, SX (alm). Pada tahun yang sama, dibangun gereja di Mongan Naipuk (lokasi lama Beleraksok) berukuran 8 meter kali 25 meter. Saat itu, paroki dipimpin Pastor Zilvano Zulian, SX (alm). “Pembangunan gere­ja ini berujung kekisruhan karena ditentang penganut agama mayoritas. Kehadiran agama Katolik menimbulkan pro-kontra, namun bebe­rapa waktu kemudian, enam keluarga justru menyatakan diri menjadi Katolik,” katanya.
Antonius melanjutkan kisahnya, gempa bumi tahun 2007 dan 2010 merusak bangunan gereja dan rumah masyarakat. Gempa 2010 yang diikuti tsunami merenggut jiwa 28 warga. Untuk keamanan dan kenya­manan, pemu­kiman warga direlokasi, terma­suk bangunan gereja. Ketua Stasi selama empat windu (32 tahun) ini mengenang kepindahan bangunan gereja dan saat-saat menerima kunjungan pastor bersama tim pastoral di stasinya. “Pastor yang melayani Paroki Sikakap silih berganti. kalau kunjungan selalu menginap di rumah kami. Pada kun­jungan pastoral itu berlangsung penerimaan Sakramen Tobat, Misa Kudus, rekreasi, pen­dalaman iman dan katekese umat.” katanya. (hrd)