Kala Gereja Kembali Dibuka

PADANG – Setelah pemerintah menyatakan masuk masa New Normal dalam pandemi Covid-19,  dalam waktu yang sama Paroki Santa Maria Bunda Yesus dan Paroki Santo Fransiskus Assisi  Padang membuka kembali gereja meng­adakan Perayaan Ekaristi ming­guan.  Setelah hampir empat bulan gereja ditutup, tidak ada aktivitas peribadatan dan kegiatan lain  yang mengumpulkan umat, kedua paroki ini memulai aktivitasnya,  Sabtu (4 Juli) dan Minggu (5 Juli) 2020. Atas pembukaan kembali gereja ini umat menyambut gembira, namun tidak serta semua umat merasa puas. Karena masih ada pembatasan anak-anak dan umat  berusia 65 tahun ke atas “dilarang” mengikuti misa.

Sebelum perayaan Ekaristi dimulai, Seksi Liturgi Dewan Pas­toral Paroki (DPP) Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang, Adrianus Anto Zalukhu mem­beri­kan penjelasan awal kepada 40-an umat yang hadir. Kepada umat, Anto menekankan penting dan perlunya kesadaran serta tanggung jawab umat paroki untuk menjaga dirinya sendiri dan sesama. “Hal ini bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Kitalah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri dan juga sesama. Maka, ikuti dan patuhilah Protokol Kesehatan Covid 19! Kita gunakan masker terutama kalau keluar rumah atau bepergian, sering cuci tangan, menjaga jarak!” tandas Anto.

Pengamatan GEMA pada hari Minggu pagi, umat di paroki ini yang mengikuti Perayaan Ekaristi mesti menjalani serangkaian prosedur sebelum memasuki ruang peribadatan. Setiba di lokasi umat wajib masker, petugas mengukur suhu tubuh umat yang datang menggunakan thermo-gun. Suhu badan tidak boleh melebihi 37,5 derajat Celsius, bila berlebih umat yang bersangkutan dipersilakan istirahat. Umat yang sakit tidak diperkenankan mengikuti misa. Begitupun dengan anak-anak dan umat berusia lanjut, di atas 65 tahun. Langkah selanjutnya, umat cuci tangan pada tempat yang telah disediakan. Tatkala akan masuk ruang peribadatan, tersedia kotak kolekte disertai dengan hand-sanitizer. Di dalam ruangan, umat duduk pada tempat yang telah ditandai berjarak. Petugas liturgi dan pastor bermasker. Saat menerima Komuni pun, antarumat berjarak dengan penandaan di lantai. Pastor dan petugas pembagi Komuni (prodiakon) pun menggunakan penutup wajah (face shield). Uniknya, umat tetap bernyanyi dengan lagu-lagu yang dikenal dan dihafal umat. Tidak ada ta­yang­an di proyektor dan penggunaan buku nyanyian (Madah Bakti), se­perti biasanya.

Secara terpisah, Wakil Ketua DPP, Tadeus Eliakhi Gea mengung­kapkan kegem­biraannya atas misa perdana ini yang dilaksanakan di parokinya.  “Telah empat bulan umat di paroki ini tidak bisa menggereja akibat pandemi Covid 19. Saya dan umat lainnya di paroki ini sangat merindukan kehadiran Tuhan dalam Komuni Suci. Selama ini, kami hanya bisa mengikuti misa online. Kini, setelah bisa misa lagi meskipun masih dalam era New Normal ini, kami merasa lega. Apalagi kami selama ini mengalami banyak pembatasan walau masih bisa mengikuti misa secara live streaming. Dengan menaati Protokol Kesehatan,  saya dan kita tentu berharap dapat terhindar dari paparan Covid 19,” ucapnya.

Terkait dimulainya kegiatan di paroki ini, Pastor Paroki,  P. Agus­tinus Mujihartono Lelonobroto, Pr menyatakan bahwa bila paroki lain di keuskupan ini menyeleng­gara­kan misa perdana pada awal Juni dan ada kesan paroki agak terlam­bat melaksanakannya, sebenarnya kami telah mengadakan tiga minggu sebelum hari ini (5/7) tetapi secara terbatas. Tetapi, secara resmi, yang dapat diikuti semua stasi pada kesempatan ini (4-5/7). Mengapa? Karena kami perlu mensosialisasikan pada seluruh umat paroki. Tujuannya agar umat yang akan mengikuti Perayaan Ekaristi benar-benar dapat mengikuti Misa secara lahir batin dan sungguh, meski terikat dengan Protokol Kesehatan Covid-19,” ujarnya.

Imam Diosesan Padang ini menambahkan ada sejumlah langkah yang dilakukan sebagai persiapan menuju Misa Perdana di era New Normal di paroki ini, yaitu pertemuan dengan semua perangkat DPP dan sekaligus sosialisasi menuju misa perdana. “Beberapa petunjuk praktis dibahas serta hal-hal yang diperlukan disiapkan untuk merealisasikan Protokol Kese­hatan, misalnya: menyiapkan tempat cuci tangan, menyedia­kan alat pengukur suhu badan, menyiapkan tempat duduk umat di gereja yang sesuai dengan protokol, penya­daran di tingkat umat untuk bersiap. Begitupun dengan pengaturan jadwal misa. Kalau biasanya, tidak ada jarak waktu usai misa pertama dengan misa kedua. Kini, ada kesempatan satu jam lebih untuk persiapan dari misa pertama ke misa kedua,” ungkapnya.

Selain itu, sambung P. Agus, sejumlah langkah dilakukan berupa penyemprotan, sterilisasi dan disinfektan oleh petugas agar umat bisa hadir dengan ‘aman’ pada misa kedua. Dibeberkannya pula bahwa jadwal baru misa pada masa New Normal di paroki. Misa Kudus berlangsung setiap Sabtu senja di dua tempat berbeda, pusat paroki dan Wilayah Paulinus-Jondul Rawang. Pada hari Minggu, berlangsung dua kali misa di pusat paroki, pukul 07.15 dan 09.30 WIB. Pastor Agus mengakui, pada misa perdana belum banyak umat mengikutinya, masih sebagian kecil umat. Dari tiga kali penyelenggaraan misa Sabtu-Minggu (4-5/7), belum mencapai setengah total umat. “Biasanya, sebelum pandemi Covid 19, gereja dipenuhi umat. Namun kini, tidak sampai setengahnya. Mungkin, masih ada perasaan takut, cemas. Tetapi, bisa jadi karena sosialisasi kepada umat belum maksimal. Kelak, penyelenggaraan Misa Kudus juga akan dilakukan di Stasi Sago, Balaiselasa, dan Sungaipisang,” tuturnya mengakhiri.

 

Umat Kecewa, Tapi Maklum

Dibukanya kembali gereja dan diadakannya kembali misa di gereja tidak serta merta membuat umat  gembira. Mengapa? Karena tidak semua umat belum boleh meng­ikutinya. Sesuai protokol kesehatan  Anak-anak dan umat di atas 65 tahun “dilarang” mengha­dirinya. Pembatasan itu juga ber­dampak bagi umat yang memiliki anak-anak (belum menyambut komuni), salah satunya warga  Rayon Santa Karina, Paroki Santo Fransiskus Assisi Padangbaru, Lesmeria Situmorang.

Ibu dua putera ini menyatakan kecewa, tetapi dapat memaklumi aturan tersebut. Sebenarnya keluarga ini sudah ingin sekali ke gereja, tetapi tidak ada pilihan lain. Niat tersebut terpaksa ditunda untuk sementara waktu, tetapi tidak tahu sampai kapan batas waktunya.  “Sementara, kami terpaksa menahan diri tidak mengikuti Misa di gereja,” katanya.

Di Paroki Santo Fransiskus Assisi Padangbaru pelaksanaan Perayaan Ekaristi juga dilaksanakan sesuai dengan Protokol Kesehatan Covid-19.  Jauh hari sebelum pelaksanaanya sudah dilakukan sosialisasi ke tengah umat, antara lain melalui Group WhatsApp (WAG).  Jadwal  perayaan Eka­risti juga ditambah dan jaraknya waktu antarmisa diperpanjang. Di pusat paroki, dari tiga kali Misa:  Sabtu malam, pukul 18.30 WIB, Minggu pagi pukul 06.30 WIB, Misa pukul 08.00 WIB menjadi pukul 09.00 WIB dan ditambah Minggu sore, pukul 17.00 WIB. Namun, mulai bulan Agustus 2020, misa Minggu Sore, pukul 17.00 WIB ditiadakan.

Di Stasi Santo Ambrosius Ta­bing dari sekali Misa pada Minggu pagi, ditambah misa pada Minggu sore, pukul 17.00 WIB. Demikian pula di Stasi Kristus Bangkit Pasarusang ditambah Misa, pada Sabtu malam, pukul 19.00 WIB, sebelumnya hanya sekali Misa, Minggu  pagi, pukul 10.45 WIB.

Di gereja paroki, protokol kesehatan dilaksanakan sejak umat memasuki pintu  gerbang. Seperti biasa, hanya pintu utama yang menghadap jalan Sudirman yang dibuka.  Langkah persiapan sebelum umat masuk gereja dilakukan di gedung bekas asrama.  Langkah selanjutnya, petugas melakukan pengukuran suhu tubuh umat, kemudian me­masukkan uang kolekte (persembahan) di kotak yang disedia­kan. Tahap terakhir, umat mencuci tangan, selanjutnya baru memasuki gereja.

Di dalam gereja,  sebelum dan di sela-sela perayaan Ekaristi – seperti petugas pengantar;   petugas menje­laskan tentang langkah-langkah yang mesti dilaksanakan umat sesuai protokol kesehatan antara lain cara memakai masker dan menerima komuni.  Penjelasan secara lisan ini, disertai dengan peragaan oleh petugas khusus. Di gereja paroki ini, untuk penerimaan komuni ada pembatas dinding kaca antara umat dengan pastor atau prodiakon.

Pembukaan gereja dan pelaksanaan misa perdana di masa New Normal di wilayah Riau berbeda-beda waktu  pelaksana­annya.  Pastor Paroki St. Petrus Rasul, Kota Batak, Petapahan, Riau, P. FX Tri Priyo Widarto, SCJ misa perdana di era New Normal di paroki ini telah dimulai sejak 6 Juni 2020. Misa berlangsung dua kali, Sabtu (pukul enam sore) dan Minggu (pukul 07.30 WIB). Di pusat paroki ter­dapat 165 keluarga Katolik.”  “Meskipun gereja sudah dibuka kembali dan misa dilaksa­nakan, kegiat­an  pertemuan-per­­te­­muan yang mengumpulkan umat belum kami seleng­garakan,” katanya.

Ketua Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) Dewan Pastoral Paroki Santa Maria a Fatima Pekanbaru, Nico Situmorang  melaporkan bahwa di parokinya pembukaan gereja dan misa perdana di era New Normal baru dimulai hari Minggu, 1 Agustus 2020. Sama seperti di paroki-paroki lain, sebelum me­laksanakan perdana itu dilaksa­na­kan sosialisasi kepada pengurus DPP dan para ketua lingkungan, hari Minggu, 19 Juli 2020.  Dalam pertemuan selama dua jam itu,  pastor paroki P. Emilius Sakoikoi, Pr. selain menjelaskan tentang protokol kesehatan yang mesti dilakukan umat yang menghadiri misa di gereja, sangat menekankan agar setiap warga paroki tetap mentaati segala aturan tersebut dengan ketat dan disiplin.  Hal ini dilakukan semata-mata demi kepentingan bersama; baik diri sendiri dan orang lain.

Untuk menghindari terjadinya kerumunan umat dan memungkin­kannya social distancing  Misa Mingguan di paroki ini juga ditambah menjadi enam  kali. Sabtu dua kali Misa (pukul 17.00 dan 19.30 WIB) dan hari Minggu empat kali misa (pukul 06.00 WIB, 09.00 WIB, 12.00 WIB, 15.00 WIB dan 17.00 WIB). Tidak ada penjadwalan khusus bagi umat lingkungan, tetapi bebas memilih waktu yang untuk Misa.  “Untuk melayani anak-anak dan umat di atas 65 tahun yang tidak boleh mengikuti misa di gereja,  Tim Komsos Santa Maria menyiarkan misa pukul 09.00 WIB secara live streaming.  Mereka dipersilakan mengikuti misa online pada jam ini”, ujar Nico.   (hrd &ws)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *