Sempat Paksa Rela

Kesuksesan kadang datang setelah melewati  pengalaman jatuh bangun. Yang penting pantang menyerah dan selalu berusaha, karena selalu ada “belokan”.  Pengalaman seperti itulah yang dirasakan aktivis Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Maria Bunda Yesus (SMBY) Padang,  Frederica Rosabel Ramli (19).

Abel – panggilannya, sebelum aktif dalam kegiatan OMK, aktif dalam kelompok Bina Iman Remaja (BIR) di parokinya.  Anak kedua dari 3 bersaudara pasangan Freddy Ramli dan Manuella Rosita ini  ikut dalam pembuatan drama video klip, mengisi acara Natal, ulang tahun paroki, seminar, dan kepanitiaan kegiatan paroki.  Dari berbagai kegiatan yang diikutinya itu, remaja kelahiran Padang 29 Maret 2001 ini terbantu dalam pengembangan iman dan kepribadiannya.  Hanya saja, kadang ia merasa “paksa rela”  menerimanya. Abel teringat saat diminta sebagai bendahara OMK.  Karena merasa tidak sanggup, ia berusaha menolaknya. Tetapi, karena terus didesak dan teman-teman OMK mendukung, “paksa rela” diterimanya tugas itu.

Selain memperoleh banyak pengalaman, Abel mengaku semakin peduli dengan sesama, lebih peka pada kebutuhan orang lain. Saat terlibat dalam berbagai kepanitiaan, Abel mempelajari kelebihan dan kekurangan sesama OMK sehingga wawasannya  semakin luas. “Saya senang, saat berkumpul, dapat berbagi cerita dan bercanda ria, melepaskan diri dari beban pikiran. Semua itu menuntut saya mam­pu membagi waktu dan perhatian antara kegiatan di rumah, kampus, dan organisasi,” akunya.

Seksi Olah Raga OMK Wilayah St. Markus Paroki SMBY Padang ini juga aktif dalam paduan suara OMK paroki, ikut seleksi Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tingkat Kota Padang dan lomba pemazmur. Pembina PAUD-BIA Paroki SMBY ini didaulat menjadi Ketua Panitia Paskah OMK 2019. Kala itu, ia bingung dan takut hingga mau mengundurkan diri. Setelah banyak dukungan niat itu diurungkannya.  Mahasiswa Jurusan Teknologi Informatika Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Putra Indonesia (UPI) ini selalu terkenang dengan banyaknya  kebersamaan yang dijalaninya bersama saudara seiman.  (hrd)

 

Sempat Sembuyikan Identitas

Sarjana Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas, Medan (2017) ini masuk seminari tahun 2011 dan memilih Ordo Kapusin Medan. Tahun 2017, lelaki kelahiran Pasarambasang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, 7 Juli 1991 ini menjalani masa orientasi pastoral di salah satu paroki Berastagi, Sumatera Utara (2017).  Namun, setahun kemudian, Juli 2018, Henro Herianto Simanullang, S.Fil. (29) mengambil keputusan tidak melanjutkan pendidikannya sebagai calon imam, sekaligus  mengundurkan diri dari Persaudaraan Kapusin Medan. “Untuk melayani umat  tidak  selalu dengan menjadi imam,”  katanya.

Meskipun tidak berlanjut, Henro panggilan Alumni SMA Swasta RK Santa Maria, Pakkat (2010) ini merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari Ordo Kapusin. Selama menjadi anggota komunitas ini (2011-2018) banyak pengalaman didapatkannya terutama pengolahan diri sebagai pribadi yang bersyukur. Ia percaya  semua yang dijalani telah diatur oleh Tuhan.  Setelah tidak tinggal di dalam biara, anak keempat 6 bersaudara dari pasutri Saluhut Simanullang dan Tiarna br.  Manalu ini mesti memulai kehidupan baru dari nol, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku  bukan berasal dari keluarga mampu dan tidak mau terus membebani orangtuanya.  “Saya mesti berjuang sendiri,  tidak mau terus menyusahkan orangtua dan saudara, apalagi sayalah yang membuat keputusan meninggalkan persaudaraan Kapusin,” katanya.

Tidak lama setelah mundur dari persaudaraan Kapusin, Henro meninggalkan wilayah Sumatera Utara dan merantau ke Dumai. Tepat 18 Juli 2018, ia menjejakkan kaki di kota minyak ini. Ia mengawali kehidupan baru sebagai perantau dengan menjadi Guru Agama Katolik di SMA Santo Tarcisius Dumai. Di Dumai, Henro berusaha dan sempat ‘menyembunyikan identitasnya’ sebagai calon biarawan, tetapi hanya bertahan seminggu.

Sebagai pendatang baru di Dumai, Henro segera menyesuaikan dirinya dan berupaya mengenal umat paroki setempat.  Awal Januari 2020, Henro dipercaya sebagai Seksi Liturgi Dewan Pastoral (DPP) Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai Henro untuk periode 2020-2023.  Pada Maret 2020, ia diangkat penyuluh agama Katolik dari Kantor Kementerian Agama Kota Dumai yang berlaku mulai Maret 2020.  Henro juga aktif  dalam kegiatan pembinaan remaja.  Di luar sekolah, guru musik organ dan olah vokal ini tidak menempelkan statusnya sebagai guru, namun sebagai teman. “Bertemu dengan Orang Muda Katolik (OMK) menyenangkan dan ingin berlama-lama sebagai orang muda,” tuturnya. (hrd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *