Teknologi Informasi dan Dunia Anak

Tanggal 20 Juli 1969 adalah hari bersejarah bagi Amerika  Serikat dan dunia. Pada hari itu, Apollo 11,  misi luar angkasa Amerika Serikat, berhasil mendaratkan manusia pertama di bulan. Komandannya Neil Amstrong.  Peristiwa ini disiarkan langsung oleh TV di seluruh dunia dan ditonton oleh jutaan pemirsa.  Pembicaraan tentang Apollo 11 ini sangat luas, tidak hanya di koran, majalah, radio danTV, tetapi juga di warung-warung kecil, bahkan masuk dalam pelajaran di sekolah karena sering ditanya guru waktu ujian. Amstrong berkata bahwa langkahnya di bulan adalah “satu langkah kecil bagi seorang manusia, tetapi satu lompatan besar bagi umat manusia.”

Sejak peristiwa itu, terjadi kemajuan besar dalam dunia teknologi. Di sekitar tahun 1980-an, di banyak tempat, timbul kursus-kursus komputer. Pada pertengahan tahun 1990-an, teknologi informasi dan komunikasi mulai menampakkan kekuatannya dan mengungguli industri lain. Kini, hampir di seluruh sektor hidup, manusia menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, baik di bidang sosial, budaya, agama, pendidikan, ekonomi, politik, pertahanan, dan lain sebagainya. Teknologi ini bersifat dinamis dan inovatif.

Dulu, di sekolah dasar menengah ada mata pelajaran wajib komputer.  Kini tidak ada lagi. Paling-paling mapel ekskul sekarang.  Komputer tidak lagi menjadi mata pelajaran bagianak-anak, tetapi sarana ajar bagi guru. Anak-anak sekarang ini sudah terlahir di zaman komputer (gadget). Mereka lebih pintar menggunakannya daripada gurunya yang berumur 50 tahunan.

Banyak bidang kehidupan memakai teknologi digital. Maklum kita berada di zaman Revolusi Industri 4,0. Masa pandemi Covid-19 ini mempercepat kesadaran kita akan pentingnya teknologi informasi ini. Untuk mencegah penularan virus Covid-19, pertemuan yang melibatkan banyak orang (kerumunan) dilarang. Pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan tata hidup baru (new normal), perlunya social and physical distancing dan menaati protokol kesehatan. Yang banyak muncul sekarang adalah yang serba online: jual-beli online, belajar online, Misa online, dan lain sebagainya. Tentulah nilai yang online ini tidak sama dengan nilai kehadiran fisik.

Kita beryukur atas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kini muncul dorongan kuat untuk bekerja dan belajar dengan memanfaatkan teknologi.  Sistem kerja dari rumah, belajar dari rumah atau pembelajaran jarak jauh baik online (daring-dalam jaringan ) maupun offline (luring-luar jaringan) menjadi pilihan.  Tentulah metode jarak jauh ini sendiri bukan yang ideal atau bersifat permanen. Anak-anak tetap membutuhkan pembelajaran tatap muka.  Pembinaan karakter,  mental dan spiritual tidak bisa lewat pembelajaran jarak jauh saja.

Ada beberapa dampak positif bagi anak-anak dengan belajar berbasis teknologi (e-learning): pertama, proses belajar mengajar semakin menarik, sebab pelajaran tidak lagi melulu mendengarkan dari guru, tetapi ada juga tampilan audio visualnya;  kedua, materi pelajaran dapat diakses dengan cepat; ketiga, sumber pengetahuan tidak hanya dari guru di sekolah, tetapi juga dari internet,  Rumah Belajar, Modul, Buku Sekolah Elektronik, dan lain sebagainya; keempat, evaluasi tidak melulu dengan tatap muka atau pakai kertas, bisa juga secara online; kelima, belajar tidak hanya dengan datang kesekolah, tetapi bisa juga kombinasi (hybrid) dengan jarak jauh, sehingga bisa menghemat biaya transportasi dan menjaga kesehatan/keamanan diri.

Namun ada juga dampak negatifnya, antara lain: pertama, karena perlu akses internet, maka butuh biaya tambahan untuk membeli pulsa, kuota internet, atau jaringan wifi;  kedua, perlu membeli dan punyag adget (smartphone) yang cocok untuk melakukan kegiatan online dan sesuai jumlah anak yang belajar; ketiga, membuat anak malas menulis tangan; keempat, membuka peluang bagi anak melakukan plagiat,  tindakan curang dan melanggar hak cipta (HAKI); kelima, anak tidak tahu dengan pasti mana informasi yang benar dan salah, karena semua tersedia begitu saja di internet;  keenam, karena sering copy paste, anak berkonsentrasi untuk jangka pendek (short span of attention); ketujuh, ada bahaya anak kecanduan gadget, terlibat judi online, melihat video kekerasan/porno. Maka sangat perlu ada kebijakan dari pemerintah dan pengawasan/pendampingan dari orangtua dan guru agar anak-anak tidak jatuh dalam hal-hal yang negatif.

Teknologi dan sains akan selalu berkembang. Kreatifitas anak tidak pernah mati. Selalu ada penemuan dan inovasi baru di bidang yang mereka minati. Ini tampak dari berbagai lomba dan olimpiade yang mereka ikuti. Namun teknologi hanyalah alat/sarana.  Subjeknya tetaplah manusia. Karena itu, semua kemajuan teknologi ini harus diikuti dengan pembinaan iman dan moral yang benar dan baik bagi anak-anak. Jika tidak, manusia akan menjadi bagaikan robot-robot yang memiliki Artificial Inteligence (AI). Padahal manusia adalah citra Allah (Kej 1:26), ciptaan Tuhan yang “sungguh amat baik” (Kej 1:31) yang punya hati untuk mencintai Tuhan dan sesamanya.

 

 

Padang, 12 Juli 2020

Administrator DiosesanKeuskupan Padang

P. Alexander Irwan Suwandi, Pr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *