Mengasah Sikap “Welas Asih”

Profesi bisa memposisikan seseorang bukan hanya milik keluarga saja. Ibarat kendaraan bermotor, tidak lagi plat hitam, tetapi plat kuning.  Hal demikian yang dirasakan dr. Anan­to Pratikno, SpOG, MARS (52). “Ketika se­dang asyik di rumah atau di mana saja, kalau ada telepon dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Yos Sudarso Padang, saya terpaksa meninggalkannya.  Saya bersyukur istri, anak-anak, dan teman-teman dalam di organisasi memaklumi tuntut­an profesi saya,”  katanya.

Yang dikatakannya benar. Ketika GEMA sedang mewawancarainya  terpaksa ‘terpeng­gal’ karena ada telepon dari IGD. Bagi Pak Dokter Nno – panggilan akrabnya, boleh dikatakan waktu dua puluh empat jam sehari tidak cukup. Di tengah aktivitasnya sebagai dokter spesialis kandungan, lelaki kelahiran Kayuaro 6 Juli 1968 ini menjadi Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) PSKP Santu Yusuf Cabang St. Fransiskus Assisi, Padang (2014-2016). Kini ayah lima anak ini menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Anggota Cabang (MPAC).

Wakil Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Fransiskus Asisi Padang periode 2018-2020 ini,  aktif menggereja sejak menjadi murid SD Negeri I/75 Kayuaro, Kerinci. Saat itu, Nno menjadi putera altar di Gereja Santa Maria Asumpta, Bedeng VIII Kayuaro. “Saya ingat, pastor tidak mau memberikan Komuni meski telah menjadi putera altar, karena  saya belum menerima Komuni Pertama,”  kenangnya.  Kegiatan menggerejanya  terus berlanjut,  saat pindah ke Padang bersekolah di SMP Yos Sudarso dan SMA Don Bosco Padang. Saat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand) pun, aktivitas menggereja juga tak ditinggalkannya. Saat kuliah strata satu (S1) FK Unand (1988-1996),  suami Theresia Susiyanti ini menjadi Wakil Ketua Legio Maria Presidium Cermin Kekudusan di parokinya. “Saat itu juga, saya tidak sungkan menjadi putera altar meski berstatus mahasiswa. Saya pernah ikut Paduan Suara Nafiri. Sebelum resmi sebagai dokter, saat co-ass di FK Unand, saya membantu RS Yos Sudarso dalam kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu) di Pasarusang dan Bukit Gado-Gado,” kenangnya.

Dokter RS Yos Sudarso Padang sejak tahun 2005 ini mengaku termovitasi menggereja berawal dari ketidaksukaannya  menganggur atau bengong-bengong  kalau ada waktu luang.  Orangtuanya,  khususnya ibu,  pastor paroki,  dan Ketua Seksi Kepemudaan Keuskupan Padang kala itu, Pastor Sandro Peccati, SX senantiasa mendorong dan memotivasinya. Tentang hasil yang diperoleh dari  keaktifannya menggereja, Ketua Tim Aksi Bantuan (TAB) Covid 19 Paroki St. Fransiskus Asisi Padang ini mengaku mendapatkan rasa gembira, ketenangan, dan keyakinan Tuhan akan membantunya. “Tentang hasil, saya serahkan sepenuh­nya kepada kuasa Tuhan. Yang saya rasa­kan, semangat dan sikap welas asih  terus ber­tambah. Tentang hasil materi, saya tidak menyangka,  karena tidak banyak berharap,  tetapi Tuhan terus memberi,” akunya.

Anggota Seksi Keluarga DPP setempat ini mengakui adanya ‘risiko’ dari profesi yang dijalaninya. Dokter spesialis kandungan alumni Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah (2004) ini menuturkan, “Kadang, saya terpaksa batal ikut acara keluarga yang sudah direncanakan, karena tiba-tiba ada operasi caesar, pasien yang mau melahirkan. Begitupun saat mengikuti kegiatan perkumpulan dan DPP, kalau tiba-tiba ditelepon rumah sakit harus meninggalkannya. Saya senang, semua pihak memak­lumi tuntutan profesi saya ini. Penanganan pasien lebih diutamakan!”

Alumni pendidikan strata dua (S2) Pro­gram Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Unand tahun 2011 ini mengakui  tuntutan profesi untuk melayani sesama ini mengambil waktu keber­samaan untuk keluarga. “Bagi saya dan keluarga, tidak mengherankan bila baru beberapa menit tiba di rumah, mesti keluar lagi  dan ke rumah sakit, karena ada pasien yang mesti dioperasi, tidak bisa ditunda lagi  karena berbagai sebab.”  katanya. (hrd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *