Terpaksa Banting Stir

Saat mendampingi tiga anak belajar dari rumah (learning from home) silam dalam masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19), banyak waktu saya tersita karena harus menemani mereka belajar secara online. Ada sisi positifnya juga bagi saya: harus bersikap lebih cerdas agar dapat menambah penghasilan keluarga dan asap dapur terus mengepul.  Semula, saya tidaklah pandai berjualan, kini banting stir berjualan dari rumah, karena penghasilan suami berbeda dibandingkan waktu sebelumnya.

Dalam situasi pandemi Covid 19 menuju hidup kenormalan baru (New Normal), bukanlah berarti kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan juga turut berakhir pula. Saya yang tinggal di daerah kompleks perumahan turut merasa takut tatkala mendapat kabar ada warga kompleks ternyata positif Covid 19. Tetapi, saya tetap berserah diri dan mohon perlindungan Tuhan dijauhkan dari penyakit ini, selain melaksanakan Protokol Kesehatan.  Tetapi, ada hikmah pandemi Covid 19 ini, karena setiap kita lebih peduli kesehatan, sayang dan perhatian pada diri sendiri serta keluarga. Begitupun dengan Protokol Kesehatan menjadi kebiasaan hidup.

Maka, kalau tidak sangat perlu sekali, saya tidak akan keluar rumah. Hal demikian juga saya ajarkan pada tiga anak. Sejak ‘belajar di rumah saja’, anak-anak mengisi waktunya dengan membahas tugas-tugas online yang diberikan gurunya, menonton televisi, atau bermain handphone – dengan waktu yang dibatasi. Bisa terjadi, ada kebosanan tersendiri mereka ‘terkurung’ sekian lama di rumah. Patut saya syukuri, sebelum pandemi Covid 19 pun, mereka termasuk “anak rumahan” dan tidak banyak tuntutan. Untuk mengusir kejenuhan, kami rekreasi bersama murah meriah saja.

Sadar tidak mungkin terus-menerus mengurung diri di rumah, kalau tidak terpaksa sekali, saya ‘membekali diri’ dengan menggunakan masker dan minum vitamin C setiap hari. Agar daya tahan tubuh prima. Sepulang dari pasar, saya segera mandi. Hal demikian juga dilakukan suami. Di pintu masuk rumah, disediakan hand-gel. Puji Tuhan, saya senang melihat teman-teman atau orang yang datang berbelanja ke rumah juga peduli kesehatan, termasuk jaga jarak dan gunakan masker. Kalau saya mengantar ke rumah pemesan jualan, tetap jaga jarak. Bahkan, saat menerima uang belanjaan teman, diletakkan dalam kantong plastik. Saya tidak banyak kontak langsung atau memegang uang, karena dianggap sebagai media yang rentan penularan.

Meski telah empat bulan pandemi dan New Normal, namun jujur masih ada kekhawatiran saya penyebaran Covid 19. Saya sadari, kita tidak bisa hidup terus dalam kecemasan dan ketakutan, melainkan harus tetap bersemangat, berusaha, dan berdoa. Hidup ini berlanjut terus.  Tetapi, semua itu saya bawa dalam doa, karena saya yakin dan percaya Tuhanlah yang paling berkuasa.  Saya yakin, semuanya indah pada waktunya. Yang penting, saya telah berusaha memberikan yang terbaik untuk suami dan anak-anak. Saya prihatin dan sedih mendengar berita tentang sesama yang dinyatakan tertular positif Covid 19. Kota Padang akan terus berstatus Zona Merah. Aktivitas harian pun terganggu dan terbatas.

Namun, saya melihat ada yang berbeda di tengah masyarakat kita akhir-akhir ini. Bahkan, saya nilai, warga termasuk  kalangan ‘pemberani’ dan tidak takut/khawatir adanya pandemi Covid 19. Bukannya tanpa alasan, banyak warga bersikap tidak terlalu peduli lagi dengan arahan atau petunjuk pemerintah. Bagi saya pribadi, terpenting sekarang adalah membentengi diri sendiri dan keluarga. Biasanya, kalau ada warga yang terpapar dan positif, barulah heboh dan kucar-kacir. Suatu tabiat yang tidak terpuji memang. Belum semua warga memakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan sebagainya. Semua upaya yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid 19 sangat tergantung pada kesadaran dan keikutsertaan semua warga masyarakat, di saat PSBB maupun New Normal.

 

(Yanlina Jafar – Ibu rumah tangga tiga anak, Warga Rayon St.Martha, Wilayah XI, Paroki Katedral St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Padang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *