Tetap Merasa Khawatir

Tentu ada kekhawatiran atas pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19), walau sekarang dalam era New Normal. Kekhawatiran tersebut beralasan, karena hingga kini belum ada vaksin atau obatnya. Atas keadaan ini, langkah pencegahan diri sendiri dan keluarga, saya selalu ingatkan agar selalu memakai masker dan selalu menyediakan hand sanitizer saat bepergian.

Kami bepergian hanya karena benar-benar ada keperluan dan tidak berlama-lama. Saya berusaha menghindari pusat keramaian, semacam pasar, mall, rumah duka. Kalau pun tidak terhindarkan ke tempat tersebut, sepulangnya, saya segera mandi dan berganti pakaian.  Pada akhir tahun 2019 hingga awal Januari 2020, berita tentang Covid-19 seolah masih jauh dari tempat kita (di Padang), yakni di Wuhan, Tiongkok. Kini, virus itu ada di dekat kita, tetapi tidak kasat mata. Banyak warga Padang terkena Covid-19. Tidak diketahui pihak pembawa (carrier) sehingga menular ke orang satu ke orang lainnya.

Kita bisa mencegah dan menghindari Covid-19. Hingga kini (18/6), di Sumatera Barat dan khususnya Kota Padang, belum menunjukkan tanda-tanda akan ‘melandai’, berkurang. Saya melihat kurangnya kesadaran warga. Masih banyak warga ke luar rumah tanpa memakai masker dan berkumpul-kumpul.  Terjadi penumpukkan sejumlah orang saat pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT).  Aspek kesehatan terabaikan ketimbang aspek ekonomi. Alasannya, tidak bisa berlama-lama stay at home tanpa berbuat sesuatu dan ekonomi keluarga mesti diurus dan mesti makan. Masyarakat lebih takut efek ekonomi ketimbang efek Covid-19.

Sebenarnya, sosialisasi atau hal-ikhwal Covid-19 sudah cukup dilakukan pemerintah lewat berbagai media. Hanya saja, terasa sungguh menyesakkan dada dan menjengkelkan tatkala didapati warga tidak mau peduli lagi. Kalau begini situasinya, entah kapan pandemi ini berakhir?! Virus ini bakal berpindah, bertransmisi dari orang ke orang lainnya.

Kita mesti berbuat dan tidak bisa terus hidup dalam ketakutan sepanjang waktu. Bagaimana pun juga, kehidupan mesti berkelanjutan. Kembali pada sua­sana kehidupan normal kembali. Tetapi, patut dicermati, (situasi) normal sekarang berbeda dengan normal dengan waktu sebelumnya. Walaupun kita ‘berdamai’ dengan kondisi Covid-19 – hingga vaksinnya ditemukan – kita tetap harus melakukan upaya pencegahan sesuai Protokol Kesehatan.

Sebagai ibu tiga kanak-kanak – ada yang sudah bersekolah, saya setuju pembelajaran dalam jaringan (daring). Keselamatan anak lebih penting dan utama. Wajar bila kalangan orangtua khawatir anaknya terpapar Covid-19. Sebagai seorang dokter, saya membayangkan, kalau penyakit lain, orangtua masih bisa menemani anaknya; namun bila positif Covid-19, orangtua pun tidak bisa menemani anaknya.  Kalau kesulitan belajar orangtua bisa membantu. Lha…. kalau terkena Covid-19! Bila ada keluhan learning from home,  misalnya kebingungan orangtua, ketidaksabaran, pulsa habis, jaringan lelet belum apa-apanya,  daripada anak terpapar Covid-19.  Anak  sulung saya kelas III SD sekilas tahu tentang Covid-19. Dua adiknya belum paham. Mereka hanya tahu libur karena Corona, kalau pergi mesti cuci tangan dan menggunakan masker atau menyiapkan hand sanitizer.  Tidak terasa telah empat bulan kami tidak bisa bersama-sama ke gereja. Harap dimaklumi. Ini karena kondisi, bukan kemauan kita. Sangat penting kerja sama semua pihak demi keselamatan bersama.

 

Hilda Aripin

Dokter Praktik Klinik Pratama Kota Tua, Padang, Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *