Jalan Menjadi Orang Suskes

Semua orang pasti setuju bahwa pendidikan membantu seseorang mencapai kesuksesannya. Hanya saja, pendidikan bukanlah satu-satunya hal yang menentukan keberhasilan tersebut. Kepandaian tanpa pembentukan karakter yang baik hanya akan menghasilkan sebuah ijazah dan tidak menghasilkan generasi yang berbudi luhur.  Dengan ada­nya pendidikan, seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian, kekuatan spiritual, dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Hanya saja, saat ini di Indonesia, benarkah skill lebih menentukan keberhasilan seseorang dibandingkan ijazah?  Rasanya belum! Jika seseorang melamar pekerjaan, hal pertama yang ditanyakan adalah ijazah atau lulusan. Bukan,   “Skill atau keahlian Anda apa?”

Lalu benarkah ranking, IPK dan NEM tidak mempengaruhi kesuksesan seseorang seperti pernyataan Mas Menteri Nadiem?

Keahlian Menjadi Tuntutan

Guru SMA Don Bosco Padang,  Drs. Vincensius Limbong (54) menyatakan sangat setuju. Apalah artinya nilai tinggi, kalau tidak memiliki keahlian (softskill)! Mereka hanya akan menjadi penonton.  Saat ini,  zaman sudah berubah.  Orang yang punya softskill, berkarakter, mampu bersaing, produktif, berjiwa entrepreneurship, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, mampu menjalin link (jejaring) melalui teknologi informasi IT, menghargai orang lain, disiplin kuat yang akan memenangkan persaingan.

Menurut Pak Limbong kalau seseorang memiliki keahlian, setelah tamat sekolah atau kuliah tidak ada istilah menganggur dan tidak khawatir akan hidupnya. Mereka bisa menciptakan lapangan untuk dirinya sendiri dan orang lain sesuai kebutuhan masyarakat. Orang-orang seperti di atas akan mampu menangkap peluang sebagai jalan menuju kesuksesan hidupnya.  Dalam hal ini, lanjut guru pelajaran Sosiologi ini, Mendiknas Nadiem Makarim telah membuktikan dengan mendirikan perusahaan transportasi online.

Sementara itu,  Engelbert Rindo Matur (29) berpendapat kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh banyak faktor.  Ia mencontohkan seorang pilot pasti dituntut memiliki pengetahuan cukup tentang sistem koordinat yang menentukan navigasi agar menjaga pesawat bisa sampai tujuan dengan selamat. Kalau tidak memiliki pengetahuan cukup, ia tidak bisa lulus dari sekolah penerbangan. Pengetahuan itu juga mesti didukung dengan keterampilan sehingga layak untuk menerbangkan pesawat. Teori saja tidak cukup.   “Jadi kesuksesan seseorang dalam profesi tertentu,  di­pengaruhi oleh pengetahuan yang dilengkapi dengan skill.”  kata Pak Ebet panggilan akrabnya.

Lebih lanjut guru SD Tirtonadi ini menambahkan  pengetahuan dan skill yang cukup, kalau didukung karakter yang baik akan memuluskan seseorang mencapai kesuksesannya.  Hanya saja, katanya, harus diakui dalam dunia kerja  di Indonesia masih berpatokan pada diri administrasi, salah satunya dibuktikan dengan ijazah. Gagasan yang disampaikan  Mendiknas itu sangat ideal dan mesti menjadi cita-cita bersama. “Saya juga setuju dengan pendapat Mendiknas itu.  Tetapi fakta di lapangan, sembilan puluh persen  kualifikasi untuk melamar pekerjaan masih dilihat dari Indeks Prestasi Komulatifnya (IPK), lanjut guru asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Guru Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar Dedikasi Edukasi Kualiva (SD DEK) Padang,  Yanti Kristina Simandalahi (26)  berpendapat  bahwa pendidikan yang mengantarkan seseorang mencapai kesuksesan merupakan sebuah proses panjang.  Kesuksesan tidak bisa dicapai dengan cara instan.  Hanya saja, dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya masih menekankan  nilai akademik. Parahnya lagi di Indonesia pencapaian nilai akademik itu hanya berdasar pada test (ujian) yang cenderung melupakan arti sebenarnya dari materi yang diajarkan.  “Kita dibutakan dengan metode pembelajaran yang sifatnya abstrak, mengutamakan hafalan. Jawaban atas materi yang diujikan atas hafalan berlembar-lembar atau  rumus-rumus,” katanya.

Yanti juga menyatakan setuju dengan sepuluh hasil riset tersebut.  Kesuksesan seseorang memang tidak hanya ditentukan dari perolehan nilai pada selembar ijazah,  tetapi ditentukan dari kemampuannya dalam menghidupi kesepuluh riset tersebut (etika). Nilai dalam bentuk angka, lanjutnya tidak cukup untuk menempa peserta didik menjadi pribadi yang tangguh. Sebaliknya, pengalaman akan membuat seseorang mampu bersaing dalam mencapai kesuksesan.

 

Prestasi Penunjang Sukses

Guru kelas III SD Negeri 23, Bojakan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Rinus Parumba (27) berbeda pendapat. Menurutnya IPK, NEM dan Ranking itu sangat mempengaruhi guru dalam memberikan  penghargaan kepada peserta didiknya.  Pemberian penghargaan ditentukan  pemberian ranking; dari urutan  satu, dua dan seterusnya.

Rinus menjelaskan di dalam kelas selalu ada peserta didik, yang memiliki kemampuan yang melebihi rata-rata, sedang, dan rendah.  Guru yang bertanggungjawab memberikan penghargaan dalam pencampaian prestasi tersebut.  Jika guru memberikan penghargaan tanpa berdasarkan pada nilai yang diperoleh itu akan membuat peserta didik  tidak lagi mau belajar atau semangat belajar turun.  Penghargaan haruslah diberikan sesuai dengan pencapaian nilai-nilai masing-masing dengan tetap nilai  etika dan kesopanan peserta didik. “Kalau hanya etika dan kesopanan saja yang menjadi pertimbangan, anak bisa berpikir sia-sia belajar,  kan yang penting sopan nilainya akan bagus”, ungkap guru asal Monganpoula, Siberut  Utara ini.

Menurut guru alumni program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Yogyakarta ini jika hanya etika dan kesopanan yang dinilai, pola pikir peserta didik tidak akan berkembang. Mereka hanya akan mencari zona nyaman,  tidak berpacu naik ke jenjang lebih tinggi atau tidak semangat berkompetisi.  Menurut Rinus, ukuran kesuksesan itu setiap orang berbeda.  Ada orang yang berprinsip yang penting sukses secara ekonomi, menjadi kaya sehingga sekolah, apalagi yang tinggi-tinggi tidak perlu.

Bagi  Maria Yofita Nona (24) pendidikan bukan hanya untuk mengejar pangkat atau gelar. Belajar atau pendidikan adalah proses untuk menuju hidup berkualitas yang dilandasi nilai-nilai moral,  seperti kejujuran, ketaatan, kesetian, disiplin, tanggung jawab dan lain-lain. Nilai atau karakter diri yang membuat seseorang bermartabat. Setelah menempuh tingkatan pendidikan, tentu seseorang ingin mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajarinya. Dunia pendidikan tidak cukup mengejar sisi intelektual, tetapi harus membuka wawasan peserta didik agar mampu berpikir kritis, kreatif,  dan berinovatif. Guru SD Yos Sudarso padang ini menegaskan pendidikan jangan hanya mengejar nilai di atas kertas, tetapi harus juga menguatkan mental. Sehingga ada keseim­bangan dalam pribadi peserta didik.

 

(Satrianti Patriot  Samangilailai, S.Pd.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *