Membangun Gereja – Memberdayakan Umat

BAGANSIAPIAPI –  Berhubung bangunan lama gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius-Bagan Tanjung, Paroki St. Petrus dan Paulus-Bagansiapiapi, Riau kurang memadai perlu dibangun baru. Peletakan batu pertama pembangunan baru gereja oleh Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Bagansiapiapi, P. Martinus Suparjiya, Pr, Kamis (5/11).

Kepada GEMA , P. Marti­nus berharap pembangunan gereja ini menjadi kesempatan memberdayakan umat setempat, bukti mandiri dan berbuah. Meski demikian, paroki tetap mendukung stasi ini. Kunjungan pastor ke stasi ini sekali sebulan, pada minggu terakhir. Selesai pembangunan gedung baru, gedung lama dibongkar karena tidak layak digunakan lagi,

Ketua Panitia Pelaksana Pembangunan Gereja, Reminson Sinaga menginfor­ma­sikan, bangunan lama seluas 48 meter persegi dengan rincian ukuran 6 meter kali 8 meter, dibangun tahun 2001. Gereja baru dibangun seluas 200 meter persegi dengan rincian ukuran 20 meter kali 10 meter. Tinggi bangunan 5 meter, dilengkapi menara setinggi 12 meter. Pada awalnya, hanya 7 keluarga di stasi ini, sekarang 30 keluarga. Umat terpaksa berdiri di luar saat beribadah di gereja lama. Tidak ada tempat duduk yang memadai. Beberapa dinding dan atap seng pun telah lepas. “Kami nekat membangun gereja baru ini, bukan karena punya banyak uang, tetapi karena kebutuhan mendesak umat,” ungkapnya.

Sinaga menambahkan, panitia menggerakkan umat untuk berswadaya mengumpulkan dana. Setiap keluarga di stasi ini beriur dua puluh ribu Rupiah per bulan sejak 2018. Selain itu, umat diajak bergotong royong menimbun tanah rawa dan menmbuat tiang/tonggak pancang penyangga bangunan. Panitia bersyukur Ketua Stasi punya kemampuan bertukang yang dapat diandalkan. Selain itu, panitia berharap pihak lain mendukung dana.  Dukungan dari paroki pun ada, termasuk kolekte khusus pembangunan gereja di stasi ini.  Bangunan gereja stasi ini terletak sekitar empat puluh menit perjalanan mobil ke arah timur Bagansia­piapi. Mayoritas umat setempat petani yang menanam padi, keladi, jagung, dan kelapa sawit. Sebagian kecil sebagai nelayan. Menurut penuturan Sinaga, kepanitiaan yang dipimpinnya lebih bersemangat mendirikan bangunan baru gereja ini karena juga mendapat dukungan dari Pastor Yakobus Ganda Nababan, Pr. yang berasal dari stasi ini. “Rumah orangtua Pastor Ganda sekitar 4 km dari bangunan gereja ini. Dalam percakapan dengan Pastor Ganda, kami mendapat penegasan pastor berupa dukungan penggalangan dana dari Padang,” ungkap Sinaga.

Setiap Minggu, umat stasi merayakan Sabda, kecuali ada kunjungan pastor. Dua bulan pertama masa pandemi Covid-19 tidak ada kegiatan, begi­tupun doa lingkungan tiap Rabu.  Kini, aktivitas kembali normal. Selama pastor berkunjung, pelayanan umat ke pusat paroki (jam 8 pagi), dan dua stasi terdekat (Rajabejamu  pukul 11 dan Bagan Tanjung pukul 14). Pelayan­an rohani dilakukan oleh dua pastor yang menetap di Dumai. (hrd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *