Suka Koor, Walau Mulanya Buta Not!

Mengaku mulanya buta, tetapi suka koor atau paduan suara. Itulah Reynaldi Cahaya, S.IKom. (26) Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Teresia Katedral Padang. “Saya merasa bersukacita ketika umat atau penonton merasa terberkati lewat nyanyian yang kami nyanyikan. Saya senang merasa sesuai dan memuliakan Tuhan lewat paduan suara, meski mulanya saya buta, ”ucap kepada GEMA.

Sewaktu berstatus mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), pemuda kelahiran Padang 29 Mei 1994 ini bergabung dalam Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UAJY (2013). Rey , panggilannya, sempat mengikuti beberapa kali konser bersama PSM UAJY, di antaranya Konser “Sing, Love & Live” (2014). Bersama rombongan yang sama, ia mengikuti Konser Jogjapolitan (Juli 2015), Konser Pre Competition PSM UAJY Goes to World Choir Games Rusia (Juni 2016). Bersama PSM UAJY pula, Rey mengikuti dua kali perlombaan. “Kami mengikuti Lomba Festival Penabur International Choir (2014), kategori mix dan folklore . PSM UAJY mendapat dua perak (perak) , ”ucapnya mengenang.

Berkat koor, sulung tiga bersaudara pasangan Handri Cahaya dan Emerentia Hastuti ini sempat bertandang ke luar negeri mengikuti lomba World Choir Games di Sochi, Rusia (2016) yang diikuti 76 negara. PSM UAJY mengikuti tiga kategori, mendapatkan emas (emas) kategori paduan suara dan cerita rakyat . Uuntuk kategori pop show choir , mendapat perak (silver) . “Selain konser bersama PSM UAJY, saya sempat dua kali ikut konser dalam rangka tugas akhir teman-teman Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan konser bersama para musisi klasik Yogyakarta,” ungkapnya bernostalgia.

Sarjana Ilmu Komunikasi UAJY (2017) mengaku interaksinya dalam paduan suara bermula dari kelompok Koor Magnificat Paroki Katedral Padang (2009-2012). Tak lama setelah gempa 30 September 2009, Rey membantu kegiatan pembagian sembako dan puing-puing bangunan bersama teman-teman. “Bu Silviani Tanoto memperkenalkan dan mengajak bergabung ke dalam Koor Magnificat . Saya hanya bermodalkan rajin berlatih, lama-kelamaan suka dengan koor. Saat bergabung, saya sama sekali tidak punya dasar bernyanyi dan buta tidak, ”katanya.

Warga Rayon Vincentius, Wilayah VI, Katedral Paroki Padang ini memantapkan kemampuannya bernyanyi dalam koor saat kelas X SMA Don Bosco Padang. Rey mengikuti ekstrakurikuler Paduan Suara (Padus) di sekolahnya. Saat kuliah (2012-2017), kesukaannya bernyanyi dalam koor yang masih berlanjut, hingga tamat kuliah. Kini, Rey berwiraswasta. Di lingkungan Gereja, pemilik suara bass ini menjadi pemazmur dan pernah bergabung dalam Persekutuan Doa Karismatik Muda Mudi Karismatik Katolik (PDMKK) Dominiko Savio, Katedral Padang.

Dari kelompok koor ini, Rey mengaku mendapat banyak pelajaran, antara lain turut membentuk karakternya, misalnya komitmen kuat, rendah hati, mau mendengar, membangun kesatuan hati bersama sebagai suatu kelompok. Dengan hal-hal positif tersebut akan tercipta suatu nyanyian yang indah dan bisa memberkati orang yang mendengarnya. “Sisi duka yang saya rasakan, ketika tidak semua anggota hadir berlatih atau suasana batin kurang bagus sehingga mempengaruhi kelompok,” ujarnya.

Libatkan Rey terbaru dalam kelompok koor tatkala bersama 26 mewakili Provinsi Sumatera Barat dalam ajang  LP3KN Virtual Choir Festival 2020 (28 / 10-10 / 11). Dua tahun sebelumnya, Rey ikut dalam rombongan LP3KD Provinsi Sumatera Barat pada Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional I 2018 di Kota Ambon, Provinsi Maluku. Dari dua ajang lomba ini, menurut Rey ‘paduan suara virtual’ lebih melelahkan paduan suara biasa. “Saat pengambilan suara dan gambar (video) bisa berulang-ulang, bahkan hingga puluhan kali. Mesti diulang dari awal dan melelahkan. Berbeda dengan paduan suara biasa, hanya sekali tampil, ”katanya. (hrd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *