Tak Kuasa Menolak!

Selama tiga tahun (2017-2020), warga RT 01 RW 06 Kelurahan Pangkalan Kerinci Timur, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kota Pangkalan Kerinci, Riau puas dengan kinerja Candra Hutabarat (38). Ayah tiga anak ini terpilih lagi sebagai Ketua RT periode 2020-2023, memimpin 217 kepala keluarga. “Saya mau buktikan bahwa umat Katolik bisa terjun ke tengah masyarakat dan berkontribusi,” tandasnya.

Kepada GEMA, lelaki kelahiran Duri, Riau, 24 Oktober 1982 ini mengungkapkan  hasratnya berkiprah ke tengah masyarakat yang majemuk. Candra ingin menghapus kesan umat Katolik sebagai kelompok yang tidak mau berbaur dengan umat beragama lainnya. Karyawan sebuah perusahaan swasta ternama di Kabupaten Pelalawan, Riau, sejak tahun 2002 ini mengakui semula tidak berniat mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua Rukun Tetangga (RT). Namun atas desakan dan dukungan sejumlah pihak, akhirnya ia luluh.

Hidup berkelompok atau berorganisasi telah dijalani Candra, bermula dalam Serikat Tolong Menolong (STM) yang terbentuk tahun 2010. Anggota STM terbatas kalangan umat Kristiani (Katolik dan Protestan) sebagai wadah tolong-menolong dalam suka dan duka. Kini, terdapat 78 keluarga anggota STM. Candra termasuk salah satu pendiri, pernah sebagai pengurus, kini menjadi penasihat STM. Saat pembentukan STM, Candra banyak terlibat dalam perencanaan, pnyusunan tata tertib,  dan aturannya (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga), serta getol mengajak kalangan lebih tua untuk bergabung.

Candra mengenang, meski dirinya terlibat aktif di tengah masyarakat, misalnya dalam kegiatan 17 Agustusan dan dua kali sebagai Ketua Tempat Pemungutan Suara (TPS) setempat, tidak tersirat sedikit pun keinginan mencalonkan diri sebagai Ketua RT. Saat pemilihan Ketua RT 01 tahun 2017 silam, dirinya malah berpikir tentang pembentukan Panitia Pemilihan Ketua RT. Ketika tiba di lokasi pertemuan, dirinya malah didaulat menjadi salah satu calon. “Tidak ada niat sama sekali, saya sadar masih muda dan belum layak menjadi ketua.  Figur yang lebih berumur tentu menjadi pertimbangan tersendiri.” katanya.

Meskipun merasa diri tidak layak, karena terus didesak banyak pihak, alumni SMA Negeri 1 Duri (2001), Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau ini pun angkat tangan dan tak kuasa menolak. Dukungan pun pada dirinya mengalir dari berbagai kalangan karena melihat pergaulan sosialnya yang tidak membeda-bedakan atau mengotakkan diri. Saat pemilihan ada tiga kandidat. Dua calon lain,  ustad dan mantan Ketua STM. Tatkala pemilihan itu (2017), Candra mendapat suara terbanyak (74 keluarga).

Kala pertemuan perdana para Ketua RT se-Kelurahan Pangkalan Kerinci Timur, ternyata Candra yang paling muda.  Meski demikian, warga menilai dirinya berhasil menjalankan peran, fungsi, tugas, dan tanggung jawab Ketua RT pada periode pertama, sehingga dianggap layak melanjutkan periode kedua. Berbekal pengalaman  periode pertama, kini Candra tidak canggung lagi sebagai Ketua RT 01. “Menjadi Ketua RT itu menjadi pelayan masyarakat.   Memang ada suka-dukanya, namun kalau saya ingat ajaran Katolik tentang pelayanan, hanya suka cita yang rasakan,” katanya.

Sebagai Ketua RT, lanjut Candra dirinya harus siap melayani setiap saat. Candra pun siap setiap saat pintu rumahnya  diketok,  tengah malam sekalipun. Candra sadar perangkat RT adalah ujung tombak birokrasi pemerintahan dalam melayani  masyarakat. Suatu ketika istrinya  menasehati agar  dirinya tidak terlalu memanjakan warga, karena khawatir semua persoalan yang dialami bakal diadukan kepada Ketua RT. Candra mengakui kehhawatiran isterinya itu wajar.

Sejak menjadi Ketua RT 01, suami Elisabet br. Gultom (38) ini tidak pernah dan tidak mau menerima uang apa pun bila dimintai bantuan dan pelayanan warga.  Pada setiap urusan ke-RT-an, Candra menolak pemberian warga yang kerap dinamakan uang tinta, uang pena, uang rokok, uang kopi, dan sebagainya! Selama satu periode sebagai Ketua RT ini, terasa ada kepuasan tersendiri. “Saya belajar dan menyerap makna bahwa menjadi orang Katolik bukan hanya sebatas pergi beribadah ke gereja atau doa di lingkungan/rayon/kring! Menjadi Ketua RT wujudnyata kehadiran umat Katolik di tengah masyarakat. Iman perlu diwujudkan dalam tindakan. Itulah ‘nilai plus’ umat Katolik. Pihak lain dapat menilai individu Katolik yang ramah, baik, dan penuh kasih kalau kita hadir dan bersama mereka,” ungkapnya berefleksi. (hrd)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *