Tatkala Rumah Tuhan Dibangun

Gereja disebut juga rumah Tuhan. Benarkah Tuhan membutuhkan rumah? Bukankah Allah itu mahabesar sehingga tidak bisa dimuat dan dibatasi dalam sebuah rumah? Dalam Kitab Suci kita baca raja Daud ingin membangun rumah Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan sudah melindungi dia dari segala musuhnya, sehingga dia dapat menetap di dalam istananya. Lalu dia berkata kepada nabi Natan, “Lihat, aku ini tinggal dalam rumah dari kayu cemara Libanon, padahal Tabut Allah tinggal di bawah tenda saja”. Lalu nabi Natan berkata kepada raja Daud: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Tuhan menyertai engkau.” Tetapi malam itu juga Tuhan berkata kepada nabi Natan: “Pergilah dan sampaikanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman Tuhan: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?” Tuhan tidak berkenan raja Daud yang membangun Bait Allah. Tuhan berkata kepadanya: “seorang dari putramu akan Kuangkat menjadi raja. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku…” (2Sam 7:1-5, 12-13).

Demikianlah raja Daud yang punya keinginan membangun rumah Tuhan, tetapi Tuhan tidak merestuinya. Anaknya, yaitu Raja Salomo, yang diperkenankan Tuhan membangun Bait Allah. Raja Salomo membangun Bait Allah dalam 7 tahun (1Raj 6:1-38). Lamanya ini bukan karena izinnya sulit, sebab izinnya itu sudah ada, yaitu dari raja sendiri. Juga bukan karena biaya, karena uangnya dari raja juga. Lamanya karena syarat-syarat ukuran dan bentuk bangunan Bait Allah yang ketat dan materialnya yang prima, unggul dan mahal, termasuk dilapisi emas.

Pendirian sebuah gereja tidaklah gampang. Kadang terkendala lahan, izin, dana, material, dlsb. Di tempat tertentu, izin sering menjadi masalah. Lamanya ke luar izin berbeda-beda. Ada yang lumayan cepat, ada yang lambat dan sangat lambat, bahkan tak kunjung ke luar sehingga umat beribadat di tempat yang seadanya, tak mencukupi dan tak layak.

Membangun sebuah gereja tidak mudah. Tidak semudah yang dibayangkan sekelompok orang. Ada yang berasumsi orang Kristen itu banyak uang, sehingga mudah membangun gereja. Padahal faktanya tidaklah demikian. Umat Kristen adalah masyarakat biasa saja. Kebanyakan termasuk golongan rendah, hanya sedikit dari golongan atas. Dana merupakan sebuah masalah. Membangun sebuah gereja pasti membutuhkan dana yang besar, padahal uang itu tidaklah mudah dikumpulkan. Butuh perjuangan. Dan tergantung dari kemurahan hati banyak orang.

Disamping soal izin dan dana, kadang keindahan arsitektur membuat gerejanya lama siapnya. Ini terjadi terutama dengan gereja-gereja di Eropa yang indah dan megah. Ada gereja yang perlu waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun untuk selesai. Misalnya, basilika St Petrus di Roma. Gereja ini aslinya dibangun tahun 326 oleh Kaisar Konstantinus. Tetapi dalam bentuknya yang sekarang basilika St Petrus  itu mulai dibangun tahun 1506 dan selesai tahun 1626. Jadi perlu waktu 120 tahun.  Dan ada pula gereja yang belum selesai sampai sekarang. Gereja Sagrada Familia di Barcelona (Spanyol), karya arsitek Antoni Gaudi, membutuhkan waktu 138 tahun dan belum selesai sampai sekarang.  Gereja ini dibangun oleh umat dan untuk umat. Mulai dibangun tahun 1882 dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2026 mendatang. Gereja di Indonesia umumnya dibangun lebih sederhana dan bergaya modern atau mengikuti budaya lokal, walau kadang dipandang “megah” dari bangunan sekitar. Biasanya tidak membutuhkan waktu lama, paling sekitar 1-2 tahun.

Keinginan mendirikan sebuah gereja bukanlah keperluan yang tanpa kebutuhan mendasar dan mendesak. Keputusan diambil dengan beberapa alasan, misalnya banyaknya jumlah umat Katolik di daerah itu dan gedung yang ada tidak memadai lagi, adanya lahan yang mencukupi untuk membangun gereja dan fasiltas pastoralnya, tersedianya pastor yang bisa menetap dan melayani umat di sana, adanya kemungkinan dana yang cukup untuk membangun gereja dan membiayai kehidupan pelayanan di tempat itu, dlsb.

Kita tahu Tuhan tidak hanya hadir di gereja, di mana ada Tabernakel. Allah hadir di dalam hati setiap orang, sebab setiap orang yang dibaptis adalah bait Allah, karena Roh Allah tinggal di dalamnya (1Kor 3:16). Allah hadir dalam setiap keluarga yang berdoa, sebab di mana 2-3 orang berkumpul dalam nama-Nya, Allah hadir di sana (Mat 18:20).  Allah hadir dalam setiap sakramen, khususnya Ekaristi. Jadi, kita selalu bisa mengalami kehadiran Allah, walaupun tak punya gereja.

Gereja adalah tempat ibadat umat Kristen. Tentu, sebagai orang beragama, pastilah ingin dan pantas memiliki rumah ibadat yang layak. Dan sebagai warga negara, tentulah setiap warga negara berhak memiliki rumah ibadat dari agama yang diakui negara. Jika rumah, toko, sekolah, restoran, hotel, atau tempat hiburan bisa mendapatkan izinnya, kadang orang bertanya mengapa gereja sulit mendapatkan izin? Padahal gereja dibangun untuk kebaikan, untuk membina aspek mental spiritual umatnya.

Tampaknya sulitnya membangun rumah Allah secara fisik seperti sulitnya juga kita membangun kediaman Allah secara batin dalam hati kita masing-masing. Semoga di tahun 2021, kita dapat lebih menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Allah yang mahabaik. Selamat Natal dan Tahun Baru.

Padang, 8 Desember 2020

Administrator Diosesan Keuskupan Padang

Alex I. Suwandi, Pr.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *