Kerjasama Untuk Pendidikan Anak

Bagi sebagian orang tentu sulit membayangkan mengajar anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) secara online – berani (dalam jaringan). Bisa dibayangkan, bagaimana “membina” anak-anak yang tidak bisa tenang, tidak bisa duduk manis dan diam tersebut. Karena masa pandemi Covid-19, proses pendidikan berjalan, sementara tidak boleh pembelajaran tatap muka (off line), mau tak mau pembelajaran online.

Kalau untuk jenjang pendidikan lebih tinggi (SMP dan SMA), peserta didik sudah bisa mandiri. Orangtua tinggal mengontrol. Kalau untuk anak usia dini, hingga SD kelas kecil tentulah orangtuanya “ikut bersekolah”. Berbagai upaya upaya dilakukan dengan baik oleh guru, penyelenggara pendidikan (yayasan, pemerintah), dan orang tua agar dapat memberikan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

Marilah melihat pengalaman proses pembelajaran secara berani bagi di tingkat PAUD dan TK. Jenjang pendidikan PAUD dan TK untuk mempersiapkan anak dengan cara memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap, perilaku, yang sifatnya menyenangkan. Boleh dikatakan PAUD dan TK sebagai tempat bermain yang indah, nyaman, dan gembira bagi anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, namun tidak mengabaikan pembelajaran.

Menurut Kepala TK Mariana Padang, Regina Dwi Astuti, SE, S. Pd (36) selama pandemi Covid-19 sekolah yang dipimpinnya mau tak mau melayani pembelajaran yang berani. Para guru dan orantua sama-sama menggunakan aplikasi zoom meeting . Karena TK usia masih bermain sambil belajar, tidak mungkin diwajibkan rapat zoom tiap hari. Jika diwajibkan tiap hari, lama-lama juga akan menimbulkan kejenuhan dan menjadi penderitaan bagi anak. Bayangkan, setiap pukul 9 pagi harus berada di depan HP atau laptop. “Kami mengambil kebijakan belajar lewat aplikasi zoom pertemuan hanya tiga kali seminggu,” kata Bu Regina.

Untuk kelancarkan proses sekolah online , lanjutnya para guru sudah mendapatkan pelatihan di bulan Juni 2020. Pelatihan sebanyak tiga kali difasilitasi oleh Yayasan Prayoga Padang. Jika sebelum pandemi, guru senior tanpa membawa buku bisa mengajar, tetapi dalam masa pandemi ini semua harus belajar. Bahkan belajar dari nol. “Karena hal baru, baik guru maupun junior berlatih bersama menggunakan aplikasi zoom ini sebagai penunjang pembelajaran online. Setelah mendapat pelatihan, para guru yang diuji coba di antara sesama guru. Melalui proses ini, para guru saling berlatih dan mendukung.” Guru TK memang dituntut lebih kreatif dan inovatif, sehingga tidak boleh monoton dalam mengajar dan menyampaikan materi. Kalau menarik pasti tidak menjenuhkan bagi anak, “lanjutnya.

Lebih jauh, Regina menjelaskan proses pembelajaran online yang dilaksanakan di sekolahnya. Pertemuan zoom tiga kali seminggu (Selasa dan Kamis) dengan guru kelas masing-masing, Jumat dengan guru bahasa Inggris. Hari Senin dan Rabu, guru mengirim tugas dan video pembelajaran. Dalam video tersebut, guru merekam dan menjelaskan satu mata pelajaran dan cara pembuatannya, contoh seperti melipat kertas. Secara detail guru menjelaskan dan memperagakan cara melipat kertas sampai menjadi sebuah karya. Durasi video 5-10 menit lalu dikirim di grup kelas. Dengan proses ini, lanjutnya, orangtua mempunyai peran penting. Orangtua mesti mendampingi anaknya, mesti tahu moodatau suasana hati anaknya sehingga anaknya bisa belajar sambil bermain diajak. Prosesnya anak bayaran anaknya bersama-sama menonton video pembelajaran yang dikirim gurunya. Mesti dengan ajakan yang lembut. Misalnya, “Yok …… sayang, duduk sama Mama. Kita lihat hari ini Nona  (Ibu Guru) bilang apa ya di video. Kita lihat yuk! ” Waktu untuk belajar dengan video ini ditentukan oleh orangtua, boleh pagi, siang atau sore sesuai suasana hati anak. Dengan ajakan yang menarik, diharapkan membangkit semangat anak untuk belajar.

Hal demikian tentu berbeda dengan proses pembelajaran melalui pertemuan dari guru. Pukul 9 pagi, anak anaknya duduk di depan layar hp atau laptop. Jika kegiatan zoom meeting dilakukan setiap hari, pasti akan menyiksa anak. Sedangkan anak kelas II SD saja kalau sedang suasana hati yang buruk  – suasana hatinya kurang baik susah diajak ikut pembelajaran. Oleh sebab itu, proses pendidikan apa pun (offline dan online) jangan sampai menumbuhkan mind set  tidak baik dalam pikiran bahwa belajar (bersekolah) itu tidak menyenangkan, apalagi menyiksa. Kalau pola pikirburuk tertanam pada anak akan sangat berbahaya, karena anak akan minimal 15-18 tahun di dunia pendidikan. “Jadi kesan pertama belajar itu harus baik dan menyenangkan bagi anak,” jelas guru kelahiran Padang, 11 Januari 1984 ini.

Jadwal pembelajaran online di TK Mariana Padang, lanjutnya berbeda dengan masa normal. Namun demikian, materi atau muatan pembelajaran sama. Kalau ada yang baru, karena faktor waktu dan juga catatan Kurikulum yang tak terkalahkan dalam masa pandemi. Guru tetap mengajarkan materi bahkan mengajak anak bermain melalui aplikasi zoom meeting. Guru mengajarkan kepada mereka secara langsung cara menghitung, menggunting kertas, menempel, menulis, melipat dan lain-lain. Lewat zoom meeting ini guru juga meninggalkan intruksi tugas, misalnya untuk motorik anak, menangkap bola, latihan (menulis dan membaca) hasilnya berupa video atau foto yang dikirimkan guru untuk dijadikan bintang dan rekaman suara (voice note) sebagai pujian dan masukan yang membangun.

Di TK Mariana Padang saat ini ada lima kelas: playgruop, TK A dan TK B masing-masing dua kelas. Karena kondisi peserta peserta didik berbeda-beda, sekolah mengambil kebijakan bahwa guru mengajar dua sift (pagi dan sore hari Senin dan Rabu). TK Mariana tidak mewajibkan tugas harus cepat dan saat itu, tetapi dilihat dari moodatau suasana hati anak. Guru hanya menghimbau “lebih cepat lebih baik”. Jumlah peserta didik dalam situasi normal 100-an anak. Tetapi selama pandemi sekarang hanya 68 siswa, dengan 4 guru kelas dan 1 guru bahasa Inggris. Mata pelajaran di TK, ada enam aspek yaitu: agama, seni, motorik, pengetahuan, bahasa, dan sesuai tema di modul (kurikulum). “Suka-duka pada masa pandemi ini sangat sepi. Kami rindu dengan anak-anak, tingkah laku mereka yang menggemaskan,” ujar Bu Regina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *