Orangtua Dituntut Kreatif

Kalau orang dalam pembelajaran offline, peserta didik bisa lebih santai , tidak demikian dengan pembelajaran online.    S alah satu orangtua peserta didik TK Mariana, Theresia Rina Trihapsari (31) mengaku selama anak belajar online bisa dikatakan  juga bersekolah penuh , sebagai peserta didik dan guru. Selama mendampingi anaknya, tentu mendengarkan dan memperhatikan guru sekolah yang sedang mengajar. “Saya harus memahami materi dan tugas yang diberikan oleh guru sekolah bisa juga mengajar anak”, katanya.

Bu Tere – panggilan akrabnya mengaku kewalahan karena anak dua zoom meeting together. Setelah kesulitan itu dikomunikasikan ke sekolah, jadwal salah satu anaknya diubah. Atas kebijakan sekolah, pertemuan zoom rapat Allea (TK A) pukul siang (13.00-14.00 WIB) dan Gracio (TK B) zoom rapat pukul 09.00-12.00 WIB.

Bu Tere mengaku, awalnya tidak hanya kewalahan membagi waktu untuk mendampingi anaknya, tetapi kewalahan juga saat menghadapi sikap anak-anaknya yang tidak terbiasa belajar secara online.   Suasana di rumah yang berbeda dengan sekolah, menurutnya mempengaruhi suasana hati anak. Kalau mood sama-sama sedang tidak baik, menurut pengalamannya menjadi uirng-uringan dan marah-marah. Orangtua pun terbawa emosi.

Tantangan terberat yang dirasakan Bu There adalah harus membiasakan hal yang tidak biasa. Seumur hidupnya, zaman sekolah belum pernah mengalami pembelajaran yang berani, di rumah lagi. Ini benar-benar yang sangat berat bagi anak-anak TK. Karena pada nyata anak TK bersekolah untuk bersosialisasi, memperkenalkan anak pada kehidupan sosialnya, untuk mengenal lingkungan dan masyarakat yang lebih luas. Pada masa pandemi ini semua diputar balik. Anak harus belajar di rumah seperti yang sudah profesional, duduk di depan meja belajar mendengarkan dan melihat layar handphone atau laptop, lalu mengerjakan yang diberikan gurunya. Setelah tugas selesai, sebagai bukti gambarnya dikirim kepada gurunya.

Ibu yang hobi memasak ini mengakui pendidikan sangat penting masa depan anak-anak. Jika mengajar sendiri tanpa ada sekolah formal orang tua akan menetapkan sendiri, karena tidak tahu modulnya atau program pembelajaran yang diberikan. Jika mengajar sendiri tanpa bantuan guru, orangtua mudah terbawa emosi, karena menuntut anak cepat bisa menulis, membaca, menghitung, dan lain sebagainya. Sangat penting bagi sekolah formal dan kerja sama dengan guru. Jika ada kesulitan bisa berkomunikasi dengan guru yang pastinya lebih mengerti bidangnya. “Saya ambil sisi positifnya saja meskipun berat,” tukasnya.

Ada juga perbedaan kesibukan orangtua saat sekolah online dengan sekolah tatap muka. Menurut Bu There, di masa orangtua normal hanya direpotkan mengantar dan menjemput anak. Paling aman dalam mendampingi dan mengawasi pekerjaan rumah (PR). Orangtua kurang tahu pembelajaran yang hanya melihat anak dari catatatan di buku agenda. Orang tua tidak pusing dengan kegiatan anak karena sudah membantu guru di sekolah. Sedangkan pada pembelajaran yang berani, peran orangtua sangat menentukan. Tugas dan praktek sekolah anak dilaksanakan di rumah. Orangtua mesti mendampinginya.

Pengalaman pertama mendampingi anak-anaknya belajar daring, Ada mengaku kewalahan dan laporan pusing. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, berusaha mencari damai dengan keadaaan, menjadi terbiasa, akhirnya menikmati keadaan. Dengan sekolah online , ada nilai positif dan negatifnya. Nilai positifnya seperti anak jarang sakit, melupakan gadget karena selesai sekolah lewat zoom, kegiatannya disusun dengan baik. Nilai negatifnya, anak-anak tidak mempunyai teman, cepat bosan di rumah, sering marah,  dan protes ingin bersekolah biasa lagi. “Dengan kondisi itu, orangtua harus membuat suasan hati anak tidak musah bosan. Orangtua harus kreatif, membuat kegiatan yang menunjang minat bakat anaknya berkembang, misalnya membuat kerajinan kotak pensil dari kardus, membuat figura dan lain sebagainya,” ungkap ibu muda asal Yogyakarta ini.

Dengan pembelajaran online ini, lanjutnya, lebih tua tahu perkembangan dan kemampuan anak-anaknya. Lebih banyak dan rahasia sebagai bahan refleksi, ternyata tugas guru di sekolah yang berat. Orangtua dituntut kreatif seperti guru di sekolah. “Saya tidak mengizinkan anak-anak manja, tetapi tetap mendidik mereka mandiri. Mereka harus mempunyai jiwa berkompetisi. Kalau di sekolah ada lomba, saya ikutkan. Kalau menang, dapat hadiah uang yang bisa digunakan untuk membeli mainannya sendiri. Ada sebab akibatnya. Kalau mau mainan baru harus berusaha menabung atau dari hasil jerih payah sendiri ”, ungkap ibu Tere.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *