BERTOBAT, PERCAYA & MENGIKUTI-NYA

Hari Minggu Biasa III (24 Januari 2021)

Yun. 3:1-5; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,7,8-9;

1Kor. 7:29-31; Mrk.1:14-20.

Kitab Nabi Yunus mengisahkan murka Allah dan rencana-Nya untuk menghukum Niniwe karena dosa-dosanya. Mereka karena mengingkari perjanjian dengan Allah sehingga menutup jalan masuknya rahmat Allah. Tetapi sebelum melaksanakan hukuman-Nya, Allah memperingatkan mereka melalui Yunus.  Kepada mereka Yunus menyampaikan berita penghukuman yang akan Allah jatuhkan, tidak menyinggung agar mereka bertobat dari tingkahnya yang jahat. Hal ini menunjukkan bahwa kesediaannya karena terpaksa. Ia lebih berharap bangsa itu dihukum daripada bertobat dan diampuni. Di luar harapan Yunus,  justru terjadi bukan hanya raja dan rakyat yang berkabung tetapi juga binatang peliharaan. Namun di luar dugaan ketika melihat pertabatan  orang Niniwe Allah pun menyesal. Allah tidak jadi membinasakan mereka. Penyesalan Allah juga sesuatu yang tidak diduga oleh orang Niniwe.

Dari kisah ini banyak berisi hal-hal tidak terduga. Di satu sisi Yunus tidak menduga orang Niniwe akan menanggapi pemberitaannya, di lain sisi orang Niniwe sendiri tidak menduga bahwa Allah akan menjawab perkabungan mereka. Maka benarlah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”  Allah tidak pernah menolak orang yang menyesali dosanya. Sekalipun manusia merasa sangat jauh dari Tuhan, tetapi Tuhan tidak membiarkannya.

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menyampaikan bahwa dirinya terus mengimbau agar jemaat tetap menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Himbauan Paulus ini sepertinya paradoks, karena orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah tidak beristeri, orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis, dan seterusnya. Paulus tidak bermaksud membingungkan,  tetapi mau menegaskan dan mengingatkan  bahwa tugas utama mereka adalah melayani Tuhan dan memusatkan perhatiannya pada pelayanan jemaat. Dua hal yang dituntut adalah mengutamakan pelayanan, bukan fokus pada kepentingan pribadi. Mereka yang serius dalam pelayanan juga perlu memperhatikan keseimbangan antara pelayanan dan keluarga sehingga tanggungjawabnya dapat terlaksana dengan baik.

Dalam Injil hari ini dikisahkan  Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya saat mereka sedang menjalankan rutinitas sebagai nelayan. Petrus dan Andreas dipanggil saat sedang menebarkan jala.  Yakobus dan Yohanes dipanggil saat sedang membereskan jala dalam perahu. Mereka didatangi Yesus saat sedang melaksanakan tanggungjawabnya. Seperti mereka, kita pun dipanggil. Hanya saja panggilan itu kerap kita abaikan dengan berbagai alasan dan pembenaran yang rasional, misalnya belum waktunya, tidak layak, tidak mampu,  dan lain-lain.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk bertobat. Pertobatan adalah pembaruan diri, dari berdosa,  menyesal, tidak mengulangi berbuat dosa, dan hidup menjadi baik dan lebih baik. Bertobat itu mengubah pikiran,  hati, dan perilaku dari dosa untuk berpaling kepada Allah.  Dalam Perjanjian Lama, bahasa Ibrani bertobat adalah syuv artinya berputar, berbalik kembali.

Di dalam Perjanjian Baru,  bahasa Yunani untuk pertobatan adalah metanoia  yang artinya perubahan hati, yakni pertobataan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan, dan berputar balik dari dosa kembali kepada Allah. Kata lain dari pertobatan  adalah epistrophe artinya kembali, berputar, meninggalkan jalan sekarang,  dan berniat menjalani hidup yang baru.

Pertobatan pada satu pihak adalah pilihan, tetapi pada sisi yang lain adalah karunia Allah. Dialah yang menarik hati manusia melalui pekerjaan Roh Kudus supaya bertobat. Tanpa anugerah Allah, tidak mungkin manusia bisa mengalami pertobatan sejati.  Maksud kemurahan Allah adalah menuntun engkau kepada pertobatan. Kita bukan saja dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada-Nya, tetapi juga dipanggil untuk mengikut Dia dalam pelayanan.  Mengikuti Yesus berarti mengutamakan Dia di atas segala-galanya. Orang-orang yang mengikuti Dia bersedia memikul kuk dan belajar kepada-Nya. Oleh karena itu, janganlah berhenti pada tahap panggilan untuk bertobat dan percaya, tetapi juga meresponi panggilan-Nya. Dengan demikian kita menjadi murid-murid yang berkenan kepada-Nya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *