Ketika Anak Berani Bertanya

“Sudahlah jangan banyak bertanya!”,  ” Cerewet amatlah kau!”   Tanpa disadari orangtua sering mengatakan  dua kalimat tersebut kepada anak-anaknya.  Masih banyak kalimat lain yang senada dan dianggap sebagai hal biasa.  Tetapi sesungguhnya,  kalimat tersebut menjadi “pembunuh” kreativitas anak.

Umumnya anak usia SD sudah bisa dan berani mengemukakan pendapatnya. Tetapi, dalam kenyataannya, tidak semua anak berani bertanya atau menyatakan pendapat­nya. Mengapa anak cenderung pasif dan diam.

Ada anak yang mengalami kesulitan mengekspresikan yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Cirinya, saat diminta berkomentar tentang sesuatu, terbata-bata mengucapkan kalimat, bahkan diam seribu bahasa  tak bisa mengeluarkan kata-kata sama sekali. Menghadap anak demikian, jangan keburu mencap anak itu tidak cerdas,  sebab ada hal yang memengaruhinya

.

  1. Sifat introvert. Anak berkarakter pendiam cenderung jarang bicara. Menghadapi anak demikian, berilah pertanyaan yang merangsang, namun jawabannya singkat. Misalnya, ” Menurutmu lebih asyik pergi ke mal atau ke pantai, ya?” Anak akan menjawab berdasarkan alasan yang dimilikinya. Saat awal merangsang keberanian anak lakukan berdua saja dan mintalah kepadanya untuk tidak takut bertanya.
  2. Sulit bicara. Pada kasus gagap atau cadel, anak yang kerap diledek teman-temannya lama-kelamaan malu berbicara. Akibatnya anak menjadi sulit mengemu­kakan pendapatnya atau bertanya. Karena itu, berilah motivasi kepada anak untuk membangun rasa percaya diri dan jangan pedulikan olokan orang-orang. Jika rasa percaya dirinya tumbuh dengan baik, anak pun akan mudah memberikan pendapat.
  3. Memikirkan akibat. Mungkin anak berpikir, jika memberikan pendapat bisa tidak mengenakkan. Seperti, jika mengemukakan pendapat, guru akan mencecar dengan pertanyaan berikut, sementara anak belum siap. Wajar jika anak enggan berpendapat, karena takut diberi pertanyaan lain yang mungkin tidak siap dijawabnya. Maka mintalah anak memper­siapkan argumen (alasan) dan data yang baik sehingga ketika ditanya kembali bisa menjawabnya.
  4. Adaptasi lebih lama. Ada anak butuh waktu lebih lama (lamban) untuk beradaptasi di lingkungan barunya. Anak kerap malu jika diminta pendapatnya. Menghadapi anak demikian, tidak perlu khawatir, hal ini akan berangsur hilang seiring anak bisa beradaptasi.
  5. Kurang stimulasi. Mungkin di rumah atau sekolah anak tidak terstimulasi dengan baik sehingga merasa takut, malu, ragu, berpendapat dan bertanya. Hal ini terjadi pada anak yang mengalami pola asuh otoriter. Semua yang sudah ditetapkan oleh orangtua, tidak boleh dibantah. Pola pendidikan di sekolah  yang konvensional, anak diam dan duduk manis kala guru sedang menerangkan bisa berpengaruh. Maka berilah kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapatnya. Hasilnya, anak akan peka terhadap lingkungannya dan memiliki jiwa kepemimpinan. Memang hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan

Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Psikolog dan pemerhati anak mengata­kan untuk menumbuhkan jiwa kepemim­pinan anak harus distimulasi sesering mungkin mengungkapkan pendapat dan bertanya.

Untuk beberapa masalah anak bisa dilibatkan untuk dimintai pendapatnya. Namun tidak semua pendapat anak harus dituruti. Apalagi jika berhubungan dengan kebutuhan orang lain. Seorang anak masih memiliki keterbatasan dalam mengolah informasi. Mereka masih berpikir pra-operasional dan bersifat egosentris. Terka­dang pendapat yang diutarakan sesuatu yang dilihat dari sudut pandangnya sendiri. Melibatkan anak pada forum diskusi akan memberikan dampak positif. Anak dapat berkomunikasi dengan baik pada orang-orang, memiliki kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah atau problem solving, memiliki rasa empati dan peduli pada lingkungan serta memiliki kemampuan menganalisa kebutuhan sekitarnya.

Orangtua juga dapat melakukannya di lingkungan rumah. Misalnya mendiskusikan tanggung jawab anak dalam membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang kakak dapat diminta sebagai panutan untuk adiknya. Dengan diberikan kepercayaan, anak yang lebih tua dapat menyampaikan pendapat tentang cara mengasuh adik, memberi aturan termasuk kewajibannya. Sementara si adik dapat mengungkapkan pendapatnya mengenai aturan-aturan yang dibuat kakaknya. Ketika berdiskusi dengan anak, gunakan kata-kata yang bijak agar anak merasa dihargai. Jika ada sesuatu yang keliru dengan pendapat anak, kemukakan agar anak belajar menghargai orang lain. Sampaikan alasan, keberatan, manfaat serta kerugian yang anak dapat dengan penda­patnya.  Convention on the Rights of Chil­dren pasal 12 ayat 1 antara lain menyatakan:

  1. Ciptakan suasana demokratis.

Pembicaraan ringan dapat menciptakan suasana santai. Hilangkan kesan otoriter orangtua. Dengarkan saat anak bicara. Jangan memotong pembicaraannya, apalagi mengabaikannya, karena anak mudah meniru yang orangtua lakukan.

  1. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti. Kemampuan anak dalam menangkap pesan yang disampaikan tidak secepat orang dewasa. Perbendaharaan katanya masih sedikit. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Luruskan jika penda­patnya tidak benar. Tidak semua anak mengerti dan mengetahui semua yang disampaikannya itu adalah benar. Ajarkan sikap sportif. Anak harus belajar meng­hargai pendapat orang lain dan menerima pendapat orang lain yang lebih baik. (Diolah dari berbagai sumber oleh Windi Subanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *