HIDUP DI DALAM PANGGILAN ALLAH.

Hari Minggu Biasa IV (31 Januari 2021)

Ul. 18:15-20; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9;

1Kor. 7:32-35; Mrk.1:21-28.

Dalam kehidupan sehari, kita menemukan orang-orang  Kristen yang hidup denga profesinya masing-masing. Ada orang Kristen yang hidup sebagai pelaku bisnis (pengusaha), petani, guru, dokter, sopir, nelayan, politisi, pejabat, penjual sayur atau penjual obat,  dan aneka profesi lain. Satu hal yang mesti dihayati, apa pun pekerjaan atau profesi dan dimana saja dijalani,   orang-orang Kristen menjadi duta Allah.

Bacaan-bacaan Kitab Suci ini membantu kita untuk memahami kuasa dan kewibawaan Ilahi Tuhan. Musa di dalam bacaan pertama merupakan figur yang menghadirkan kewibawaan ilahi Tuhan di hadapan umat Israel. Menurut Musa, Tuhan akan menunjukkan kehendak-Nya melalui para nabi-Nya. “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” kata Musa. (Ul 18:15). Tuhan berkata kepada Musa, “Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”

Paulus dalam bacaan kedua mendorong jemaat di Korintus untuk memiliki kewibawaan ilahi sesuai panggilan hidup mereka. Hal khusus yang ditekankan Paulus adalah hidup selibat yang dipersembahkan kepada Tuhan dan demi mengabdi Tuhan dan Gereja-Nya. Kaum selibater menunjukkan wibawanya dengan memusatkan perhatian dan pelayanan untuk Tuhan dan Gereja demi pengudusan dirinya.

Seperti apakah panggilan Allah itu? Ketika orang Israel dipanggil keluar dari Mesir, mereka menjalani panggilan Allah. Ketika mereka masuk ke tanah perjanjian, Tuhan memerintahkan mereka tetap hidup sesuai panggilan Allah (ayat 13), yaitu menjadi duta Allah. Bangsa Israel diperintahkan oleh Allah untuk tidak ikut dalam kebiasaan buruk, misalnya kekejian dan penyembahan roh-roh. Mereka diminta hanya bergantung kepada Allah, tidak kepada siapapun. Allah telah mengkhususkan nabi-nabi untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan masa depan dan kehendak Allah.  Hidup di dalam panggilan Allah berarti hidup sesuai dengan perintah Allah. Ketaatan dan iman kepada Allah mutlak dalam segala situasi kehidupan. Jati diri sebagai duta adalah menghindari diri dari kompromi untuk hal-hal buruk. Santo Paulus kepada jemaat di Korintus berpesan untuk  menjaga keseimbangan. Paulus begitu keras menegur jemaat yang terlibat dalam masalah  percabulan.

Dalam Injil hari ini dikisahkan setelah memanggil murid-murid-Nya, Yesus mengajak mereka ke rumah ibadah. Di sana Yesus mengajar dan terlihat berkuasa. Menurut penginjil Markus,  Yesus mengajar tidak seperti ahli-ahli Taurat – yang mengajar hukum-hukum yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Markus menjelaskan bahwa Yesus mengajar dengan menunjukkan otoritas rohani yang berasal dari Allah. Yesus membuat firman menjadi hidup dan menimbulkan kekaguman orang yang mendengar Dia.

Sementara roh jahat tidak bisa diam begitu saja melihat kehadiran Yesus. Ia tahu benar siapa Yesus dan karena itu merasa terancam. Namun pengenalan roh jahat terhadap otoritas Yesus bukan sebuah pengakuan iman, tetapi lebih didorong karena rasa takut yang besar bila Yesus mengusir mereka keluar dari tempat itu. Yesus mengusir roh jahat keluar dari tubuh orang yang dirasukinya. Roh jahat tidak berkuasa untuk mengelak dari perintah Yesus.

Sekali lagi tindakan Yesus memunculkan rasa kagum di hati orang banyak. Namun sayang,  mereka hanya berhenti pada rasa takjub.  Kekaguman tidak mengarahkan mereka untuk percaya pada Yesus. Semua orang yang hadir dalam rumah ibadat itu takjub, tetapi tidak semua menjadi percaya. Firman telah mereka dengar, mukjizat mereka lihat, tetapi semua itu tidak mengubah hati mereka untuk berbalik pada Yesus.

Hari ini kita diingatkan untuk kembali kepada komitmen panggilan masing-masing. Orangtua tunjukkan  dirimu sebagai pendidik nomor satu bagi anak-anakmu. Anak-anak tunjukkan diri sebagai anak baik – yang hormat pada orangtua dan tidak membangkitkan amarahnya. Para gembala umat tunjukkan wibawa ilahi melalui pengajaran dan pelayanan, satukan kata dan perbuatan. Mari tunjukkan kepada masyarakat bahwa kita ada duta Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *