BERTOBAT: MENYOBEK HATI – BUKAN PAKAIAN

Hari Rabu Abu (17 Februari 2021)

Yl 2:12-18; Mzm. 51:3-4, 5 – 6a, 12-13, 14, 17;

2Kor 5:20 – 6:2;

Mat 6:1-6, 16 – 18

HARI INI, hari ini Rabu Abu.  Gereja memulai masa Prapaskah, masa puasa – masa pertobatan. Pada perayaan ini kita menerima abu sebagai simbol atau tanda pertobatan. Abu sebagai simbol pertobatan mungkin agak asing bagi masyarakat Indonesia. Abu sebagai simbol pertobatan itu berasal dari masa Perjanjian Lama. Manusia berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Abu adalah simbol kefanaan, ketidak-kekalan kehidupan manusia.

Bacaan pertama dari Nabi Yoel berisi ajakan untuk mengadakan pertobatan sejati dengan berpuasa, menangis,  dan berbalik kepada Allah dengan segenap hati, sebab Ia pengasih dan penyayang, sabar dan penuh belas kasih.  Sebagai tanda pertobatan,  orang Yahudi ada yang menyobek pakaiannya. Hanya saja perbuatan itu kerap hanya sandiwara belaka, supaya mereka dikagumi orang banyak. Pertobatan yang sesungguhnya, tidak sekedar menyobek pakaian, tetapi “menyobek hati”.  Sikap dan perbuatan “menyobek hati”  adalah membuang hal-hal yang bertentangan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. “Menyobek hati” bisa juga dimaknai penyesalan yang amat sangat dalam, setelah mengakui kesalahan bertekad tidak mengulanginya lagi. Hal ini jauh lebih sulit daripada hanya sekedar menyobek pakaian.

Tuhan Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan agar dalam berpuasa janganlah  hanya memperhatikan segi lahiriah dan mencari penghor0matan orang lain. “Apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik.” (Mat 6:16). Bahkan hendaknya, saat berpuasa wajah ceria dan cerah sehingga orang lain tidak tahu kalau kita sedang berpuasa. Puasa (tidak makan, tidak minum) sesungguhnya hanyalah sarana, lambang dan sarana pertobatan, bukan tujuan utama. Selain menghasilkan pertobatan diri,  dari perbuatan tidak makan dan tidak minum ini menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama.

Sebagai tanda dan ungkapan tobat,  di dalam Gereja Katolik ada Aksi Puasa Pembangunan (APP). Umat diajak bederma untuk membantu sesama.  Derma yang dikumpulkan itu idealnya adalah hasil dari berpuasa (tidak makan, tidak minum). “Jatah” yang seharusnya untuk  makan dan minum inilah yang didermakan, sebagai wujud puasa atau mati raga. Oleh sebab itu, berpuasa dalam Gereja Katolik tidak sekedar tidak makan – tidak minum, apalagi memindahkan waktu  makan dari siang ke malam, bukan pula supaya menghemat, tetapi juga bukan pemborosan untuk mengada-adakan makanan dan alasan dengan alasan sedang berpuasa.  Dalam hal bederma, Injil mengajak umat Katolik untuk tidak mencari muka di hadapan khalayak ramai. “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat 6:3).  Tujuan pokok bederma untuk membantu sesama, karena dengan cara itu kita melaksanakan hukum kasih.

Hal yang sama juga harus diperhatikan dalam doa. Kita diperingatkan,  agar jangan berdoa seperti orang munafik, yang ingin agar dilihat orang. “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik…. Supaya mereka dilihat orang” (Mat 6:5). Untuk berdoa kita dianjurkan supaya masuk kamar, ke tempat sunyi atau tempat tertutup. Setelah membaya ayat ini mungkin timbul pertanyaan, “Kalau begitu,  boleh atau tidak berdoa di tempat umum, seperti di gereja, dalam pertemuan rayon karena akan dilihat  orang? Tuhan Yesus tidak melarang kita untuk berdoa bersama dan dilihat orang. Yesus hanya mengajak kita untuk waspada terhadap sikap munafik dan sombong yang bisa muncul dalam hal yang sakral dan luhur.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *