Silat Milik Bersama

Dionisius Frans Sidabutar (16) ingin ‘mematahkan’ anggapan miring seolah-olah olah raga pencak silat hanya “milik” penganut agama tertentu. Saat kelas VII SMP Xaverius Bukittinggi, ia mengajak beberapa temannya yang Katolik mengikuti olah raga ini dalam Perguruan Pencak Silat (PPS) Ganggang Sapadi, Bukittinggi. Ia tertarik,  karena cabang olah raga ini salah satu kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolahnya.

Hingga kini, Dion, panggilannya aktif berlatih olah raga bela diri ini. Anak sulung 4 bersaudara pasangan Demson Sidabutar dan Hotmauli br. Simanjuntak ini  tidak merasa terasing di lingkungan muslim. Ia mengaku “geregetan” karena selama ini pemenang kejuaraan pencak silat selalu dari kalangan Muslim.  Hal itu beralasan, karena atlit yang non muslim juga minim jumlahnya.  “Tujuan saya menekuni pencak silat sekaligus mau menghilangkan anggapan seolah-olah olah raga ini tidak boleh diikuti kalangan non-Muslim. Semoga saya bisa menjadi Orang Muda Katolik pertama yang menjuarai pencak silat tingkat nasional,” ujarnya.

Semenjak SMA, pemuda kelahiran Bukittinggi 19 April 2005 ini juga menyukai olah raga futsal. Di lingkungan Gereja,  sewaktu SMP Dion pun aktif  latihan paduan suara dan Bina Iman Remaja (BIR) Paroki St. Petrus Claver, Bukittinggi. Pemuda yang bercita-cita menjadi polisi ini pernah mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Pertama Nasional 2018 di Ambon, Provinsi Maluku, kategori Paduan Suara Gregorian Remaja. Dion pada bagian suara tenor. Dalam berbagai kegiatan yang diikutinya, Dion merasakan adanya semangat kebersamaan. (hrd)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *