Yang Utama & Pertama Seiman

Kelahiran dan kematian bagian dari misteri kehidupan. Begitupun dengan jodoh atau pasangan hidup. Tiada yang dapat memastikan suami atau istri seseorang. Ada yang beranggapan,  jodoh dianggap takdir,  walaupun  ada perjodohan atau diatur  “mak comblang”.

Kini, laki-laki dan perempuan dapat memilih dan menentukan pasangan hidupnya sendiri.  Bagi kalangan tertentu, ada sejumlah ‘kriteria’ untuk memilih calon pasangan hidupnya. Walau ada juga yang tidak terlalu mematok kriteria atau patokan tertentu saat “menemukan” calon istri atau calon suaminya.  Antonius Sutrisno, salah satu umat Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat, mengungkapkan  kriteria yang digunakannya tatkala “mencari” pasangan hidupnya.  “Saling setia dan saling mema­hami! Tidak perlu terlalu cantik, namun juga tidak terlalu mengecewakan paras wajahnya.” katanya.

Sementara itu, seorang ayah muda warga Paroki St. Damian, Saibi-Samukop, Siberut Tengah, Riki Wisam (33) mengung­kapkan memahami pasangan hidup tidak berhenti sampai pada pemberkatan perni­kahan saja, tetapi seumur hidupnya. Dengan demikian, suami-istri semakin mengenal pasangannya, semakin dapat menerima pasangan  apa adanya. “Mencari dan menemukan pasangan hidup yang sempurna itu mustahil, karena kesempurnaan hakiki hanyalah milik Tuhan.” katanya.   Dari pengalamannya, Riki menyimpul­kan, “Saya mencari jodoh atau pasangan hidup yang mau menerima diriku apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Sejak pemberkatan pernikahan di Saibi-Samukop 9 April 2018, saya dan istri (Elsami Deka Putri-28 tahun) terus berupaya saling melengkapi dan menutup kekurangan yang dimiliki pasangan.”

Lain lagi ‘kriteria’ pengakuan Simon Roesihan Salim Dawolo (27) yang akan melangsungkan pernikahan pada pertengahan tahun 2021. Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang dengan tegas menyatakan, “Yang paling penting bagi saya seiman!” Simon berkomitmen dalam hidupnya lahir, hidup, dan mati secara Katolik; serta sepanjang hidup dekat dengan Tuhan.

Simon mengaku punya masalah dengan kesehatannya, sehingga punya harapan besar calon istrinya (Fransisca Evi Tri Zebua-25 tahun) menerima dirinya apa adanya. “Saya punya satu kelebihan dan sepuluh ribu kekurangan. Kriteria ketiga, kami bisa satu kata saat menghadapi masalah hidup berkeluarga kelak. Saya sadari tidak gampang menyatukan pemikiran dua orang yang berbeda latar belakang. Kelak, sebagai suami-istri, kami berusaha menepati janji untuk saling mencintai, sehidup-semati dalam suka maupun duka, sehat dan sakit, serta saling menghormati sepanjang usia.

Kriteria “pasangan seiman” juga ditetapkan Markolinus Babai Sirirui (29). Bahkan, Marko, panggilannya, rela putus hubungan dengan pacarnya yang tidak seiman. Setelah jomblo enam bulan, Marko menemukan tambatan hatinya,  gadis asal Sikabaluan, Mentawai, yang telah dikenalnya sejak kuliah di Padang. “Seturut waktu, saya sadari perbedaan agama bakal menjadi kendala bila hubungan diteruskan. Saat itu, kami teguh pada keyakinan masing-masing. Akhirnya, kami ‘bubar’ secara baik-baik,” akunya.

Bagi Marko, calon istrinya (Patricia Imelda Apriyanti-30 tahun) bukanlah sosok asing lagi, karena mereka kerap berjumpa kalau ada kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Mentawai. Mulanya mereka komunikasi biasa lewat chatt  di media sosial, lama-lama kontak lebih sering, semakin akrab dan serius. Pada Juni 2020, saya mengungkap perasaan ingin menjalin hubungan yang lebih serius. Setelah itu, kami mengguna­kan nama panggilan akrab dan sayang, pertanda hubungan lebih dekat lagi.

Selain seiman, Marko suka kelebihan yang dimiliki calon istrinyam yaitu mandiri dan punya perhatian. Itulah menjadi daya tarik tersendiri. “Karena telah saling kenal cukup lama sebelumnya, kami sepakat ‘menaikkan hubungan’ ke jenjang pernikahan. Saya dan keluarga besar melamarnya Senin, 28 Desember 2020 lalu, di Muara Sikabaluan. Saya dan Imel menjawab mantap pertanyaan tentang kesiapan kami untuk menikah,” ucap Marko.  Setelah lamaran diterima, ditentukanlah  tempat dan waktu pemberkatan pernikahan, di Sotboyak, Siberut Utara, Minggu, 14 Februari 2021. Namun, karena ada peristiwa duka (kema­tian) keluarga besar Marko, pemberkatan pernikahan diundur pada 11 April 2021.

Agak berbeda situasinya dengan pengalaman Effendi Salim (73) saat tertarik dengan Leni Gazali (77 tahun) yang kini menjadi isterinya. “Kami sama-sama bekerja satu tempat, sebuah apotek di Padang. Saya bagian farmasi, dia bagian administrasi. Kami terus berjumpa dan berpandang-pandangan setiap hari. Mulanya biasa saja, tidak ada yang istimewa, tetapi semakin hari, dia menarik hati saya. Selain berjumpa di tempat kerja, kami pun selalu berjumpa setiap pagi di gereja Katedral Padang, sebelum dan sesudah misa. Dia anak saleh, rajin berdoa ke gereja. Itulah point tersendiri bagi saya waktu itu,” ucap Effendi mengenang. Seiring waktu, setelah saling dekat, keduanya bersepakat menikah, pemberkatannya di Padang (1978). Saat itu, Effendi berusia 30 tahun. “Jujur, saat itu, saya suka paras wajahnya, tingkah laku atau tabiatnya. Tetapi tidak ada patokan atau kriteria tertentu saat saya memilih jodoh atau pasangan hidup kala itu,” katanya. (hrd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *