YESUS IMAM SELAMANYA

Hari Minggu Prapaskah V (21 Maret 2021)

Yer 31: 31-34, Mzm. 51:3,4, 12-13, 14-15, Ibr. 5:7-9

Yoh 12:20 – 33

 

Hari ini  adalah Minggu Prapaskah  terakhir. Minggu depan Gereja merayakan Hari Minggu Palma, dimulainya  Pekan Suci yang berpuncak pada Perayaan Paskah. Bacaan-bacaan Kitab Suci semakin menegaskan  posisi Tuhan Yesus sebagai penyelamat yang mesti menderita, sengsara, wafat, dan bangkit.

Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yeremia  menegaskan bahwa Allah akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda. Perjanjian baru ini bukan lagi seperti yang pernah dilakukan dengan nenek moyang mereka keluar dari Mesir. Allah menyatakan bahwa kedua bangsa kaum itu tidak setia, Allah tetap setia. Nubuat tentang perjanjian baru yang disampaikan Yeremia tidak lain adalah Yesus sendiri. Dalam  perjanjian baru, orang  tidak usah lagi mengajar dengan kata-kata tentang mengasihi Tuhan, tetapi Allah sendiri bertindak memberi contoh cara mengasihi, yaitu di dalam diri Yesus – yang mengorbankan diri-Nya di kayu Salib.

Bacaan kedua dari surat kepada orang Ibrani menegaskan lagi nubuat nabi Yeremia.  Kemulian Kristus bukan datang dari diri-Nya melainkan datang dari Allah.  “Engkaulah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek” (Lih. Ibr 5:6).  Kemulian itu datang karena  Yesus Kristus dalam hidup-Nya telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelematkan-Nya dari maut dan karena kesalehan-Nya, telah didengarkan.

Bacaan Injil hari ini beri perikop tentang Yesus memberitakan kematian-Nya. Kisah dalam perikop ini adalah perwujudan dari nubuat nabi Yeremia. Yesus mengibaratkan diri biji gandum.  Biji tanaman apa pun, kalau disimpan  tidak akan pernah menghasilkan tanaman baru sehingga tidak akan pula menghasilkan buah yang  lebih banyak. Biji atau bibit tanaman yang disimpan akan tetap berupa biji, kalau cara menyimpannya tidak tepat malah akan mati. Akan tetapi, kalau biji tanaman itu ditanam kembali akan menghasilkan tanaman baru. Biji itu akan hancur, lama kelamaan hilang tidak berbekas akan muncul tanaman baru yang tumbuh dan berkembang hingga menghasilkan buah.

Demikianlah Kristus telah menghancurkan diri-Nya dengan menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Pengurbanan Kristus ini tidak sia-sia karena mendatangkan kehidupan baru bagi manusia dan diri-Nya.  Pengurbanan Kristus mendatangkan keselamatan, penebusan manusia dari dosa-dosanya. Karena Kristus telah setiap kepada Bapa-Nya, diri-Nya dimuliakan oleh Allah.

Kehidupan umat beriman pun dituntut demikian. Setiap pengurbanan tidak akan sia-sia.  Orang bijak mengatakan, “Proses tidak mengkhianati hasil!” Kehidupan kita dituntut ibarat lilin yang dibakar, mendatangkan sinar terang di sekitarnya, tetapi batang lilin akan meleleh, lama kelamaan habis.  Lilin  selalu digunakan dalam perayaan liturgi di Gereja Katolik. Penggunaan lilin bukan sekedar pelengkap atau aksesoris, tetapi kaya makna.  Lilin adalah lambang terang Kristus yang bangkit, yang menerangi manusia dalam kegelapan. Lilin menjadi lambang Kristus yang telah mengurbankan diri sehabis-habis demi menyelamatkan  manusia dari dosa. Pengurbanan Kristus di kayu salib mendatangkan keselamatan bagi manusia. Berbahagialah kita yang percaya karena akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan janji Allah sendiri. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *