Yesus Teladan Kepemimpinan

Hari Minggu Palma (28 Maret 2021)

Yes 50:4 – 7 Mzm. 22:8-9, 17-18a, 19-20, 23-24, Flp 2:6 – 11,

Mrk 14:1 – 15:47 (singkat Mrk 15:1-39)

 

Sejak zaman raja-raja hingga sekarang, perebutan kekuasaan terus terjadi. Bedanya,  dulu diwarnai  pertumpahan darah, tetapi sekarang tidak. Sekarang ini para elit politik dan penguasa tetap saja gontok-gontokkan, sikut sana sikut sini, saling menyerang dan memojokkan dengan intrik-intrik.  Tidak jarang menggunakan kampane hitam, menyerang pribadi lawan politik. Suasana politik pun menjadi gaduh. Mereka sesungguhnya sudah saling membunuh. Namun tidak kasat mata, layaknya perang dengan pertumpahan darah.

Kisah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci dalam  Minggu Palma berbeda dengan suasana  perebutan kekuasaan para tokoh politik negeri ini. Yesus disambut sebagai seorang tokoh dan  pemimpin bangsa, tetapi tidak seperti layaknya pemimpin masa kini dengan hingar bingar.  Yesus bukanlah seorang raja seperti raja umumnya. Yesus bukanlah raja yang penuh kuasa duniawi, dengan banyak prajurit, dikelilingi dan dilayani puteri-puteri cantik.  Sebagai Raja, Yesus berbanding terbalik dengan gambaran duniawi itu. Yesus hanya mengendarai keledai, hewan pembawa barang untuk orang miskin. Rakyat hanya menyambutnya dengan lambaian daun palma dan hamparan pakaian mereka.

Peristiwa penyambutan Yesus memasuki kota Yerusalem ini tentulah bermakna simbolis. Kitab Suci ingin menyampaikan pesan bahwa Yesus inilah Sang Mesias dan Penyelamat yang dinantikan umat manusia. Yesus bukanlah Mesias yang penuh dengan kuasa duniawi. Yesus adalah Mesias yang menderita dan harus wafat di salib karena ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Yesus memang raja, tetapi raja yang menderita dan wafat untuk keselamatan umat manusia.

Dalam kisah sengsara yang dibacakan hari ini, tampak jelas Yesus rela menderita, dianiaya, dikhianati; dan ditolak oleh  bangsa-Nya sendiri. Dengan peristiwa penderitaan dan sengsara-Nya itu, Yesus ingin menyampaikan pewahyuan penting bahwa diri-Nya. Yesus bukanlah  pemimpin yang mencari enaknya sendiri yang tidak berjuang demi kedudukan dan kekuasaan-Nya sendiri, tetapi rela kehilangan segalanya untuk kebaikan dan kepentingan rakyat-Nya, yaitu keselamatan dan penebusan dosa.

Sulit memang mencari pemimpin sekaliber Yesus. Para pemimpin negara dan masyarakat kita sangat mengagungkan kekuasaan, jabatan, kedudukan, dan kehormatan. Para elit politik berkelahi dan berjuang demi kelompok dan golongannya sendiri. Sementara sebagian kelompok masyarakat sering sekedar ikut-ikutan saja memperjuangkan kepentingan sendiri dengan tetap menghidupkan tradisi suap dan sogok menyogok.

Kita pun sering tak luput dari godaan untuk cari diri sendiri. Kita masih sulit untuk antri, suka main serobot dan saling mendahului. Orang zaman kini, ada yang pelit untuk berkurban waktu, tenaga, dan hidupnya untuk orang lain. Ia hanya mau berjuang kalau untuk kepentingannya sendiri, keluarganya saja. Warta Injil hari ini mengajak sesuatu yang lain kepada kita. Kita diajak berkorban untuk  kepentingan orang banyak, termasuk orang yang tidak kita kenal dan tidak kita kasihi.  Prosesi perarakan daun palma (kalau diselenggarakan) mengajak kita merefleksikan sedikitnya dua hal, yaitu:  pertama, hidup berjalan – berziarah dengan segala suka dukanya. Perjuangan dalam iman bersama Yesus yang bangkit akan menghasilkan kebahagiaan kekal.  Kedua,  kesederhaan dan kerendahan hati sebagai pemimpin telah diberikan Tuhan Yesus. Kita pun dalam tugas dan jabatan apa pun sebagai pemimpin, Tuhan Yesuslah sosok yang pantas diteladani dan dijadikan panutan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *