Apa itu Over Thinking?

Over thinking (OT) adalah saat seseorang melihat banyak hal sehingga mempengaruhi aneka kegiatan. Sebenarnya, boleh saja menampilkan banyak hal, jangan sampai mengganggu dan mempengaruhi kegiatan/aktivitas yang dilakukan, tetapi hanya yang baru, merupakan hal-hal yang tidak biasa. Batasannya sederhana: apakah seseorang merasa nyaman atau tidak nyaman dengan pikirannya sendiri?
Jika ada sesuatu (masalah) misalnya, apakah berpengaruh maksimal atau mengganggu tugas/pekerjaan sehingga tidak mengganggu ketenteraman tidur, dan sebagainya? Bila ya, berarti individu yang bersangkutan mengalami OT. Tatkala berpikir, ada pola pikir yang bisa dikontrol dan tidak bisa dikontrol. Misalnya, bagaimana tugas bisa diselesaikan.Ini berarti dalam batas yang bisa dikontrol. Atau mau makan apa? Mau pergi ke mana? Di masa pandemi Covid-19 yang belum jelas akhirnya, cukup banyak kalangan yang OT, terutama masalah terkait dengan keuangan/keuangan.
Contoh lain, berkaitan dengan pekerjaan/tugas mahasiswa atau peserta didik. Setelah mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) dan menyerahkan kepada guru atau, peserta didik atau mahasiswa yang OT menduga-duga, “Jangan-jangan guru atau dosen sedang tidak dalam suasana hati yang tidak baik sehingga tidak menerima tugas atau PR yang diberikan. Atau, jikapun diterima, akan dinilai dengan angka rendah atau jelek.” Bagi peserta didik atau mahasiswa, pemikiran yang dapat dikontrol selama tugas atau PR belum diserahkan.Namun, setelah diserahkan untuk diperiksa, hal tersebut tidak dapat dikontrol lagi.
Maka, ciri-ciri OT bila seseorang berpikir untuk hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Kalau seseorang terlalu banyak pemandangan hal-hal yang tidak bisa dikontrol; maka hal tersebut akan mengganggu kenyamanan dan ketenangan hidup. Seseorang bisa dilanda kecemasan, stres, mengalami gangguan tidur atau menjadi malas-malasan bekerja, bahkan bahan pikiran terus-menerus. Sebagai contoh, mungkin ada di antara orangtua yang terlalu memperhatikan (OT) bila anak remajanya bersepeda atau mengendarai mobil akan terserempet atau mengalami kecelakaan di jalan.Yang bisa dikontrol adalah mengawasi mengarahkan yang aman, memberikan nasihat atau petuah, membekali dengan perlengkapan helm, dan sebagainya. kontrol, adalah hal-hal yang tidak dapat dikontrol. Naluri sebagai orangtua agar anaknya tetap selamat pasti ada dan wajar,
OT memang berbeda tipis dengan istilah “berpikir terlalu jauh atau terlalu maju ke depan”. Pada satu sisinya, ada aspek positifnya, karena berisi rancangan dan rencana masa mendatang dengan sejumlah target atau sasaran tertentu. Beda lagi dengan kekhawatiran berlebihan (anxietas) yang mempengaruhi fisik, misalnya sesak nafas, sesak. Maka, sehubungan dengan OT, berikut tips sederhananya.
Pertama, terlebih dahulu memeriksa terlebih dahulu: pemikiran yang bisa dan tidak bisa dikontrol! menyadari ada hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan, serta tindakan yang dapat dilakukan! Bagian yang bisa dikontrolnya? (misalnya emosi, perasaan, perilaku). Yang jelas, setelah melakukan nasihat, pembekalan, petuah pada anaknya, keyakinan bahwa Tuhan melindungi anak/remajanya tersebut.
Kedua, lakukanlah (penggantian) pada hal-hal yang tidak disukai agar dapat lebih menenteramkan diri sendiri. Hal itu dilakukan agar tidak terlalu memengaruhi hidup dan pikiran. Langkah ‘pengalihan’ dapat dilakukan lewat aktivitas ringan atau melakukan hobi secara berkala/rutin agar tidak ada suatu obyek (masalah) yang dihadapi.Mesti ditanamkan keyakinan bahwa orang itu telah memberikan yang terbaik. Setelah itu, semua diserahkan kepada Semesta yang menentukan.
Ketiga, berdoa dan menyerahkan semua beban/persoalan/pemikiran kepada Tuhan setelah semua upaya terbaik yang telah dilakukan dan diberikan. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *