CU: Penolong di Masa Sulit

Resesi ekonomi melanda dunia saat ini, termasuk Indonesia. Kondisi sulit ini terjadi terutama karena pandemi Covid-19. Banyak keterbatasan yang dibuat pemerintah agar virus Corona tidak menyebar dan mematikan warga. Di masa sulit ekonomi ini, kita harapkan tidak hanya ada bantuan dari pemerintah dan lembaga lain, tetapi masyarakat sendiri juga bisa bertahan hidup dan mencari terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan ekonominya.
Credit Union (CU) bisa menjadi salah satu solusi. Sebab CU adalah sebuah lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang simpan pinjam yang dimiliki oleh anggotanya, dikelola oleh anggotanya dan bertujuan untuk menyejahterahkan anggotanya. Dengan gerakan simpan pinjam di CU, para anggotanya dapat memajukan roda ekonominya dalam bentuk jualan kecil-kecilan di tempat tertentu, jualan online, membentuk Usaha Kecil Menengah (UKM), dan lain sebagainya.
Istilah CU lebih terkenal daripada kepanjangannya “Credit Union”. Credit Union berasal dari dua kata Latin: “credere” yang artinya percaya, dan “unio” yang artinya persatuan, kumpulan. Jadi Credit Union adalah persatuan/kumpulan orang-orang yang saling percaya, yang terikat satu sama lain dalam satu kesatuan dan kesepakatan bersama untuk menabungkan uang mereka, sehingga tercipta modal bersama untuk dapat dipinjamkan kepada para anggotanya yang dapat dipercayai dengan tujuan saling membantu demi kesejahtaraan bersama. Umumnya di Indonesia CU dikenal juga dengan istilah Kopdit (Koperasi Kredit).
Menurut UU No. 17 tahun 2012 pasal 1 ayat 1, “Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.” Sekilas, CU sama dengan koperasi simpan pinjam lainnya atau lembaga perbankan lainnya. Namun sebenarnya berbeda. CU berbentuk koperasi dan CU adalah koperasi simpan pinjam. Tetapi koperasi simpan pinjam belum tentu CU. Perbedaan ini tampak dalam beberapa prinsip CU yang tidak ada di dalam koperasi simpan pinjam lainnya.
Pertama, adanya prinsip swadaya. Modal CU diperoleh dari para anggotanya sendiri. CU tidak mendapatkan modal dari lembaga lain. Modalnya dari uang simpanan anggotanya sendiri dan hanya memberikan pinjaman kepada anggotanya yang jujur dan berwatak baik. CU mengenal falsafah: “Dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota”. Karena itu kelangsungan hidup CU sangat ditentukan oleh anggotanya sendiri.
Kedua, prinsip solidaritas atau kesetiakawanan. Motto CU adalah “Anda susah saya bantu dan saya susah Anda yang bantu.” Pinjaman di CU hanya diberikan kepada para anggotanya. CU mengutamakan kepentingan hidup bersama daripada kepentingan diri pribadi. Setiap anggota CU harus ingat akan kewajibannya untuk menabung dengan teratur dan membayar angsuran pinjamannya. Kejujuran dan ketertiban dalam CU bertujuan agar para anggotanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh bantuan.
Ketiga, adalah prinsip pendidikan. CU memberikan pendidikan kepada para anggotanya agar bebas dari kesulitan ekonomi, agar anggotanya memiliki pola pikir positif dalam mengelola keuangan untuk meningkatkan harkat hidupnya. Lewat pendidikan, para anggota CU dapat mengerti hak dan kewajibannya, lebih rasional dan bijaksana dalam mengelola uang, dapat mengetahui kondisi keuangannya sendiri dan juga mengetahui perkembangan CU-nya. CU memiliki motto ini juga: ”Dimulai dengan pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dikontrol oleh pendidikan dan bergantung kepada pendidikan.” Di CU, pola pikir orang diubah. Orang harus menabung dulu untuk dapat meminjam uang.
Keempat, ada juga prinsip inovasi. CU selalu berusaha agar para anggotanya diperbarui hidupnya, menemukan cara-cara baru untuk semakin meningkatnya ekonomi mereka. Kelima, prinsip kesatuan. CU sangat tergantung dari kesatuan hati, moral, dan tindakan baik dari para pengurus dan anggotanya. Semua anggota harus menjadi subyek yang aktif dan partisipatif. Jika tidak, akan mudah terjadi penyimpangan, yang akan berakibat buruk seperti adanya kredit macet, modal cekak, bangkrut, sampai ada yang masuk penjara. Kadang-kadang terdengar plesetan nama koperasi yang jelek. Misalnya ada istilah “kuperasi” artinya koperasi menjadi tempat dan sarana untuk aku peras uangnya. Ada istilah “koperisi” (koper isi), artinya koperku kuisi dahulu. Dulu ada juga istilah plesetan “KUD”, yaitu “Ketua Untung Duluan”, dan lain sebagainya. Tentu saja istilah plesetan ini dibuat oleh orang-orang berdasarkan pengalaman negatif mereka dan bukan menjadi identitas koperasi yang seharusnya ada dan berjalan baik. Akibat adanya penyimpangan, orang menjadi trauma, takut bahkan antipati terhadap CU. Penyimpangan yang berlarut-larut tidak hanya timbul karena kegagalan pengurus dalam mengelola usaha, tetapi juga karena banyaknya anggota CU yang tidak peduli, kurang tahu atau tidak berperan aktif dalam mengawasi kinerja pengurus dan pengawas CU sebagai pemegang mandat dari RAT.
Di masa resesi dan sulit saat ini, tentu ada CU yang macet dan kesulitan. Namun kita harapkan banyak CU telah membantu kesulitan ekonomi para anggotanya. Untuk menghindari penyimpangan, diperlukan sistem yang baik, bersih, transparan, aman, akuntabel, dan responsibel. Credit Union ini tidak sama dengan Western Union yang tujuannya untuk mencairkan uang yang dikirim dari tempat lain. Gerakan CU adalah salah satu penjabaran dari Ajaran Sosial Gereja (ASG), yaitu cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan bantuan. Keuskupan, lewat Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) ikut mendukung, memfasilitasi dan membina CU agar sehat dan berguna bagi umat dan masyarakat luas. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *