Iman Berawal dari Bibit Pisang

Antonius Taileleu (77) salah satu saksi mata sekaligus pelaku sejarah kebera­daan Gereja Katolik Stasi Beleraksok, Paroki St. Maria Assumpta-Sikakap, Kepulauan Mentawai. Lelaki kelahiran Beleraksok-Pagai Selatan 8 Desember 1945 ini menjadi Katolik saat berusia 15 tahun. Sejak tahun 2014, Antonius bersama keluarganya menetap di lokasi baru, jauh dari tepian pantai, tempati tinggal sebelumnya. Masyarakat setempat, termasuk keluarga Antonius direlokasi akibat gempa bumi dan tsunami (2007 dan 2010).

Antonius mengenang awal mula agama Katolik masuk ke kampungnya. Suatu waktu, Antonius diajak orang­tuanya ke Matobe’ Sare­re-Pagai Utara mencari bibit pisang. Di kam­pung itu, mereka bertemu Gerson – salah satu umat Katolik pertama di Matobe’ Sarere. Dalam catatan sejarah, umat Katolik pertama di Mato­be’ Sarere dibaptis pada 13 Januari 1957. Dari perbincangan sekitar bibit pisang, beralih ke soal agama baru, yaitu: Katolik. Antonius dan orangtuanya tertarik dengan ‘agama baru’ ini. Setelah beberapa kali bolak-balik Beleraksok – Matobe’ Sarere, mereka menyata­kan mau menjadi Katolik. Sebe­lum­nya, mereka penganut Protes­tan agama yang dianut mayoritas masyarakat Pagai Selatan. Sejalan waktu, satu keluarga lainnya, masih kerabatnya menyu­sul menjadi Katolik. Dua keluarga inilah umat perdana di stasi ini, (lokasi lama Beleraksok). Pada 1 Januari 1965, Antonius menikahi Ida Maria Saogo (71) diber­kati Pastor Grapolli, SX (alm). Pada tahun yang sama, dibangun gereja di Mongan Naipuk (lokasi lama Beleraksok) berukuran 8 meter kali 25 meter. Saat itu, paroki dipimpin Pastor Zilvano Zulian, SX (alm). “Pembangunan gere­ja ini berujung kekisruhan karena ditentang penganut agama mayoritas. Kehadiran agama Katolik menimbulkan pro-kontra, namun bebe­rapa waktu kemudian, enam keluarga justru menyatakan diri menjadi Katolik,” katanya.
Antonius melanjutkan kisahnya, gempa bumi tahun 2007 dan 2010 merusak bangunan gereja dan rumah masyarakat. Gempa 2010 yang diikuti tsunami merenggut jiwa 28 warga. Untuk keamanan dan kenya­manan, pemu­kiman warga direlokasi, terma­suk bangunan gereja. Ketua Stasi selama empat windu (32 tahun) ini mengenang kepindahan bangunan gereja dan saat-saat menerima kunjungan pastor bersama tim pastoral di stasinya. “Pastor yang melayani Paroki Sikakap silih berganti. kalau kunjungan selalu menginap di rumah kami. Pada kun­jungan pastoral itu berlangsung penerimaan Sakramen Tobat, Misa Kudus, rekreasi, pen­dalaman iman dan katekese umat.” katanya. (hrd)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *