PERUTUSAN & PEMBERIAN KUASA

Minggu Biasa XV (10 Juli 2021)
Ams 7:12-15; Mzm. 85:9ab, 10, 11-12, 13-14
Ef 1:3-14; Mrk 6:7-13

 

SETIAP ORANG memiliki gaya hidup dengan penampilan masing-masing. Ada orang yang meniru gaya hidup tokoh idolanya, dari cara berbusana hingga penampilannya. Ada juga orang yang punya style, gaya sendiri, tidak mau meniru siapa pun. Orang ini menjalani hidup seperti dirinya, berjalan apa adanya dan semestinya, tanpa melihat, meniru yang dilakukan oleh orang di sekitarnya. Seseorang dengan gaya hidupnya yang khas dan unik ini terkadang susah dipahami.


Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk memiliki dan melaksanakan gaya hidup yang baru, yakni gaya hidup “salib”. Gaya hidup salib adalah gaya hidup yang rela berkurban dan lepas bebas dari hal-hal yang mengikat. Gaya salib memang tidak menyenangkan dan membuat pemiliknya bisa mengalami penderitaan. Namun demikian, jika gaya hidup salib ini dilaksanakan, akan menyenangkan dan membahagiakan siapa pun pelakunya.
Hidup bergaya salib, dilakukan Tuhan Yesus dengan cara memanggil dan mengutus para murid-Nya untuk pergi berdua-dua. Dalam perutusan itu, para murid dibatasi untuk tidak membawa bekal dalam perjalanan, tidak memakai alas kaki, dan tidak membawa dua baju. Suatu syarat yang tidak biasa. Tetapi memang semua orang beriman telah dipanggil menjadi pelayan dan siap diutus ke manapun dan di manapun. Dengan syarat itu dimaksudkan agar mereka fokus, tidak terikat oleh hal-hal remeh temeh. Fokus utama dari semua itu adalah mewartakan Kerajaan Allah pada setiap orang. Dalam kondisi yang demikian Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Yang diberikan Tuhan kepada mereka jauh lebih hebat, yaitu kuasa. Para murid diberi kuasa, sampai mengusir roh-roh jahat.
Bacaan pertama hari ini, mengisahkan Nabi Amos yang diusir Raja Amazia karena pewartaannya. Amos tidak diperkenankan bernubuat di Bethel karena tempat itu dianggap sebagai tempat kudus bagi raja, kediaman suci yang tidak diperbolehkan siapapun, kecuali Raja. Amos menjawab raja Amazia itu dengan mengatakan bahwa dirinya bukan seorang nabi, juga tidak termasuk golongan para nabi, melainkan hanya peternak dan pemungut buah pohon ara hutan. Dari pekerjaannya itu, sesungguhnya Allah telah memanggil dan mengutusnya agar bernubuat kepada umat Israel. Hal ini menunjukkan cara Allah mengutus setiap orang untuk menjadi pewarta dan saksi-Nya di mana pun. Allah tidak memperhatikan status dan latar belakang para pekerja-Nya. Tua atau muda, miskin atau kaya yang dilihat-Nya hanya kesiapsediaan yang harus dimiliki setiap utusan, tidak perlu memperhitungkan banyaknya imbalan yang diterimanya.


Kita yang percaya Kristus, dipanggil dan diutus untuk menjadi pewarta-Nya. Dasar perutusan itu adalah baptisan suci dan amanat dari Yesus ketika kembali kepada Bapa-Nya. “Karena itu, pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu…..”(Mat 28:19-20). Dasar inilah yang memampukan kita untuk mengambil bagian dari tri tugas Kristus sekalipun tidak mendapat upah. Yang mau ditegaskan dalam menjalankan karya itu adalah fokus pada pewartaan. Segala sesuatu yang bersifat duniawi ini dilepaskan agar perutusan itu tidak terganggu. Inilah gaya hidup salib, bertolak dari zona hidup yang aman, meninggalkan kesenangan, hidup dalam kesederhanaan. Jika segalanya ditinggalkan, bagaimana dengan kehidupan kita? Allah telah memperhitungkan segala keperluan hidup untuk pengikut-Nya. Allah mengeri dan akan mencukupi kebutuhan para pewarta-Nya. Biarlah itu menjadi penyelenggaraan Allah dan manusia tidak perlu sibuk mengurus keperluan jasmaninya saja.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Filipus mengungkapkan bahwa setiap orang yang menjalankan pelayanannya untuk Tuhan akan menerima ganjarannya. Allah telah memberi kuasa untuk berkuasa atas segala yang jahat. Manusia mengenakan perlengkapan senjata Allah, supaya dapat bertahan melawan iblis dan kekuatan dari si jahat. Sabda Tuhan hari ini, memanggil kita untuk hidup dengan gaya salib. Tugas sebagai orang yang telah dipanggil dan diutus adalah membawa wajah Tuhan yang penuh kebaikan, kasih dan pengampunan dalam kehidupan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *