SMA Santa Maria Pekanbaru: Menghadirkan Indonesia Mini

Masyarakat kota Pekanbaru khusunya, provinsi Riau umumnya mengenal dan tahu SMA Santa Maria Pekanbaru. Sekolah di bawah asuhan Yayas­an Prayoga Riau (YPR) ini berada di Jalan Ronggowarsito, Sukamaju, Sail, Pekanbaru, Riau.
SMA Katolik satu-satunya di Pe­kanbaru ini dikenal terutama prestasi­nya yang tidak diragu­kan lagi. Di tambah letaknya yang strategis, di jantung kota Pekanbaru, mudah dikenali masyarakat. Akses menuju sekolah begitu mudah, baik dengan angkutan umum atau kendaraan pri­badi. Di sekitar sekolah berdiri per­kantoran pemerintah antara lain, Mapolda Riau (di depan gerbang SMA), kantor Gu­bernur Riau (di belakang sekolah), dan Gedung Pusat Pelayanan Admi­nistrasi kota Pekan­baru, dan lain sebagainya.
Masuk ke lingkungan sekolah ini terasa sekali ke-Indonesia-annya, dengan aneka keberagaman suku, budaya, dan agama warga komuni­tasnya. Dari jumlah total 674 peserta didiknya, sebanyak 47% (Kristen), Katolik (26,3%), Buddha (23,7%), Hindu (0,6%), dan 2,4% beragama Islam. Keberagaman ini sama sekali tidak mengganggu sekolah. Kebera­gaman ini justru menjadi lahan per­semaian dan pelaksanaan sikap toleransi, saling menghargai dan menerima perbedaan. Salah satunya diwujudkan dalam perayaan hari besar keagamaan. Mereka meng­ada­kan acara secara bersama, bersuka cita, dan saling memberi salam. Seko­lah pun mendukung dengan menyetu­jui acara peringatan keagamaan yang dikoordinir pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).


Selain peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan pun beragam dari sisi etnis dan agama. Ada yang dari suku Batak, Jawa, Melayu, Minang, dan Flores. Dari 48 Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 50% beragama katolik, Kristen (27,08%), Islam (20,83%), dan 2,08 % beragama lain. Keberagaman ini tidak menjadikan mereka berjarak, tetapi saling dekat dan akrab. Mereka juga saling memberi ucapan selamat pada waktu hari raya keagamaan, saling berkunjung saat teman merayakan hari besar keagamannya.
Pendidik di sekolah sesuai kom­petensi bidangnya. Semua pendidik minimal S1, ada yang sedang me­nem­puh pasca sarjana (S2). Untuk menambah pengetahuan, keterampil­an, kompetensi dan profesionalis­me­nya, para pendidik secara kontinyu mengikuti aneka kegiatan, berupa: pelatihan, workshop, seminar baik dan diadakan oleh intern Yayasan Prayoga Riau (YPR) maupun undangan dari pihak luar.

Sekolah Tua
SMA Santa Maria termasuk “se­ko­lah tua” di Pekanbaru. Kualitas lulusan sekolah ini tidak diragukan lagi baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sekolah ini selain menerapkan sikap disiplin tinggi, juga mengutamakan pendi­dikan mental, spiritual yang menjadi ciri khas menonjol dari output seko­lah ini. Sekolah ini banyak menelur­kan alumni yang tidak hanya secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat; berintegritas, jujur, rasa tang­gung jawab, dan disiplin tinggi. Nilai-nilai inilah terus dipertahankan SMA Santa Maria Pekanbaru.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, sekolah ini tidak luput dari kekurangan. Karena berada di pusat kota, lahan persekolahan yang terbatas membuat sekolah ini tidak bisa leluasa menyediakan prasarana dan sarana pendidikan dan keteram­pilan. Sarana olah­raga, karena keter­batasan prasarana dan sarana masih menyewa di luar sekolah.
Kalau ada pertanyaan: ” Mengapa orangtua memilih menyekolahkan anaknya di SMA Santa Maria Pekan­baru?” jawabannya, sejauh bisa direkam – karena selain faktor akademik, ada aspek lain yang di dapat anaknya setelah lulus, misal­nya kedisiplinan, mental spiritual yang kuat, kemandirian, jiwa kepe­mim­pinan, kepedulian atau solida­ritas, dan beberapa habitus yang diterapkan dalam kehidupan sosial setelah lulus. SMA Santa Maria Pekanbaru memang memaksimalkan kemampuan nonakademik dengan keanekaragaman kegiatan yang menggali kemampuan afeksi siswa. Untuk membangun kepedulian atau solidaritas terhadap, sekolah mengadakan kegiatan sosial sampai di Kudap dan pulau Rupat. Untuk pembinaan mental, spiritual, dan religiusitas diadakah rekoleksi dan live in di Muntilan, Jawa Tengah.
SMA Santa Maria Pekanbaru berusaha tidak terlena, sehingga terlindas oleh kemajuan. Inovasi dan kreasi sesuai kemajuan zaman terus dilakukan. Oleh sebab itu, pembina­an yang lebih intensif berkaitan per­siapan untuk kompetisi yang bersifat eksternal kalau perlu mendatangkan pelatih-pelatih dari luar mesti dilakukan. Hal ini untuk mening­katkan daya saing apabila berkom­petisi dengan luar baik secara akade­mik maupun nonakademik. Di antara sekolah swasta di Pe­kan­baru, SMA Santa Maria Pekan­baru tergolong tinggi dalam biaya sekolah. Meski­pun demikian, sekolah ini tidak meng­abaikan prinsip dan nilai-nilai pendidikan Katolik. Sekolah mem­punyai program bantuan sosial untuk peserta didik yang kurang mampu. Untuk peser­ta didik yang berprestasi (akademik dan nonakademik) ban­tuan pendi­dikan distimulasikan ke dalam potongan uang sekolah.

Aneka Pengalaman
Pengalaman menarik menjadi pendidik di ini justru saya dapatkan di masa pandemi Covid-19 ini. Di awal masa pandemi saya merasa mi­ris karena semua kegiatan, gerak, langkah, ide terbatasi oleh kondisi. Ternyata dalam perkem­bangan waktu dan tidak bisa menghindar dari kea­daan, aneka kemampuan lain justru ter­pantik berkembang. Para guru ditun­tut memiliki kemampuan mengu­­asai aplikasi-aplikasi media pembelajaran yang lebih canggih, media sosial seperti youtube, media komunikasi langsung seperti zoom meeting, geogle form, dan lain se­baik­nya. Dalam kondisi biasa, rasa­nya bidang tersebut tidak menjadi fokus sehingga tidak bisa berkem­bang seperti sekarang ini.
Pengalaman tidak menarik atau kurang menyenangkan sebagai guru saat ini adalah menghadapi perubahan sikap peserta didik diban­dingkan di masa lalu. Pernah terjadi, saat masuk mendapati peserta didik yang masih sibuk dengan gawainya (handphone). Anak itu tidak peduli dengan kedatangan guru. Begitu asyiknya, sampai tidak sadar kalau teman-temannya sudah memberi salam pada guru yang datang. Bahkan mirisnya, anak ini justru mengeks­presi­kan kekecewaan karena game yang dimainkannya terpotong menga­takan, “Tanggung Pak sebentar lagi selesainya.”
Karena di luar batas kewajaran dan melanggar tata tertib, perlu diberi sanksi. HP-nya disita, anak yang bersangkutan dihukum berlarian keli­ling kelas. Atau anak itu disuruh menyelesaikan gamenya dulu. Saya keluar kelas. Saya belum mau mengajar selama anak itu bermain game. Cara itu memicu protes teman-temannya sehingga bersama-sama marah kepada anak itu. Di sini saya merasa miris akan sikap anak yang menjadi korban gadget, sikap menjadi asosial; tidak peduli pada lingkungan, pada orang lain, dan kurang mempunyai rasa hormat pada orang lain. Pengalaman seperti ini sepengetahuan saya juga sering dialami guru-guru di tempat lain. Perlu sikap tegas dari guru sehingga hukuman itu berguna bagi yang bersangkutan, tidak merugikan peserta didik yang lain. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *