Anak Tidak Digurui, Apalagi Diomeli

Teknologi komunikasi dengan segala produk yang dihasilkannya,  ibarat mata uang,  yang mempunyai dua sisi, yaitu: negatif dan positif.

Dalam keluarga,  sisi negatifnya bisa mengurangi sosialisasi langsung antara orangtua dengan anak dan antaranak itu sendiri. Penggunaan sarana komunikasi bisa membuat anak berkembang tanpa mengerti apa saja yang ada dalam pribadinya. Akibatnya, anak menjadi pribadi yang tidak peduli, cuek, egois, dan tidak mengenal perasaan. Bahkan, mereka bisa menjadi pribadi arogan bila kemauannya tidak terpenuhi. Anak bisa juga menjadi cepat dewasa sebelum waktunya.

Selain itu, mentalnya cepat labil, mengikuti saja hal yang menyenangkan mereka. Tidak mengherankan, mereka ingin hidup bebas, tanpa batas norma-norma budaya. Mereka lebih suka budaya luar ketimbang budaya sendiri. Bagi mereka, budaya sendiri dianggap tidak modern, ketinggalan zaman dan kuno. Hal demikian diparah lagi, karena para orangtua (suami-istri, ayah-ibu) zaman kini super sibuk. Anak menjadi kurang perhatian sehingga menjadi individu yang berkembang tanpa banyak input atau masukan positif dari orangtuanya.

Suasana saat ini sangat berbeda  dengan di masa lalu.  Pada saat saya kanak-kanak dan remaja, banyak menerima masukan dari orangtua, walau mungkin kesannya cerewet dan banyak pantangan. Kala itu, anak remaja patuh pada orangtuanya – karena sangat minim pengaruh teknologi sebagai­mana masa kini. Di waktu lampau, yang ada dalam pikiran anak dan remaja adalah hal yang disampaikan orangtua. Beda dengan anak remaja masa kini. Bila orangtua menyampaikan sesuatu tidak langsung ‘ditelan’ mentah-mentah dan memikirkannya terlebih dulu. Bila bisa diterima oleh pikirannya, mereka akan patuh, jika tidak bakal protes.

Sisi  positif. Anak remaja semakin pintar dalam hal penguasaan teknologi komunikasi, cepat berkembang cara berpikirnya, dan menjadi lebih mandiri. Terlihat juga, mereka lebih bersemangat dalam menyusun masa depannya sesuai dengan kemajuan dunia. Mereka pun bisa mendapat banyak informasi penting yang tidak selalu mereka dapatkan di sekolah. Singkat kata, mereka lebih pintar dalam hal menggunakan produk teknologi informasi. Meski belum masuk universitas berbasis teknologi informasi, anak-anak dan  remaja sudah mampu memiliki keahlian (skill) terkait dengan penggunaan produk teknologi informasi tersebut.

Secara khusus, kalau hidup kerohanian anak remaja di tengah arus perkembangan teknologi komunikasi, saya mendapat kesan, mereka tidak terlalu perhatian dengan hal-hal yang berkaitan dengan iman. Hidup mereka lebih banyak berorientasi pada logika. Mungkin, mereka percaya pada Tuhan, tetapi tidak mau ribet, misalnya ikut serta dalam  kegiatan rohani karena tidak menjadi perhatiannya. Mereka rajin berdoa, tetapi untuk kegiatan di luar rumah, misalnya kegiatan rayon atau  Orang Muda Katolik (OMK) di gereja kurang berminat. Makanya, tidak mengherankan, yang terlibat aktif hanya orang yang itu-itu saja.

Tentu dengan segenap fakta yang ada, kita tidak cukup hanya ‘menangisi’ keadaan. Mesti­lah ada upaya dan cara yang dilakukan orangtua, Gereja, ling­kungan, bahkan negara. Secara khusus, sebagai orangtua yang mempunyai tiga anak kategori remaja, kami tetap membimbing mereka. Caranya, dengan mengajak mereka melakukan aktivitas rohani di rumah terlebih dulu; misalnya saat kami berkumpul pada momen makan bersama atau Doa Rosario bersama dalam Bulan Rosario dan Maria. Sebagai orang­tua, kami berupaya memberi­kan contoh atau teladan iman kepada mereka. Maka, jika iman orangtua hanya suam-suam kuku, demikian pula halnya dengan anak remaja.

Berkaitan pemanfaatan produk teknologi komunikasi secara arif dan bertanggung jawab di kalangan anak remaja, menurut saya, orangtua dan Gereja punya peranan. Lewat seko­lah Katolik, mulai dari tingkatan taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi juga punya andil.

 

Para guru di sekolah Katolik berperan besar dalam membimbing anak remaja dalam memanfaatkan teknologi komunikasi. Bila sedari usia dini, anak remaja menerima informasi yang benar, di waktu mendatang, saya yakin mereka menjadi manusia yang berkarakter; bisa membedakan benar-salah, baik-buruk, berguna – tidak berguna.  Para orangtua pun hendaknya menyadari bahaya bila anak terlalu dini ‘dibe­kali’ alat komunikasi yang canggih. Di tengah kesibukan kerja, walau tidak selalu mulus dan lancar, saya dan suami telah menerapkan hal itu terhadap anak kami yang kini berusia 15-24 tahun.

Hasilnya? Sekarang, saya melihat tiga anak kami telah mampu mengatur dirinya sendiri. Saat jam belajar, mereka akan fokus belajar. Di waktu senggang, mereka menggunakan alat komunikasi/HP untuk mengobrol dengan teman-temannya atau bermain games. Selaku orangtua, kami senantiasa mengingatkan akan bahayanya bila terlalu lama menggunakan alat komunikasi atau bermain games dengan memberikan banyak contoh yang terjadi di tempat lain, termasuk penelusuran (search) di Google. Pembuktian dengan cara seperti itu, menurut saya, jauh lebih mengena dan mengena, tepat sasaran ketimbang mengomeli anak remaja. Anak-anak zaman kini tidak suka digurui, apalagi diomelin! (hrd)

 

Emerensia Fidelia  (bersama Keluarga)

Ibu ibu tiga anak – warga Rayon St. Alexander

Paroki Katedral St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Padang.