Category Archives: Beranda Orang Muda

Mengajak OMK Meneladan Bunda Maria

SANTA MARIA SIBERUT – Delapan puluh lima (85) Orang Muda Katolik (OMK) dari lima stasi se-Wilayah Sagulubbeg, Paroki St. Maria Diangkat ke Surga-Siberut, Kepulauan Mentawai mengikuti pembinaan tentang spiritualitas Bunda Maria. Pembinaan bertema: “Devosi Kepada Bunda Maria” ini dilaksanakan di gereja Stasi Santa Lusia-Mapinang dari 29 – 31 Mei. Peserta berasal dari Stasi Sagulubbeg (12 orang), Lumago (23), Siribabak dan Buga (37), dan Mapinang (13). Utusan OMK dari dua stasi lainnya (Masi dan Mongan Tepuk) berhalangan hadir.
Selama tiga hari berkumpul, melalui berbagai materi dan metode, panitia mengupas teladan pengorbanan Bunda Maria dan mengajak OMK meneladani kebaikannya terutama di di tengah pandemi saat ini. Hari pertama kegiatan, Sabtu (29/5) malam, kegiatan diawali dengan berdoa Rosario dilanjutkan ‘nonton bersama’ (nobar) bagian pertama film kisah ketaatan dan perjuangan Bunda Maria dari Nazareth. Usai menonton, dilanjutkan berpengalaman (sharing) di antara peserta.
Hari kedua, Minggu (30/5), setelah Perayaan Sabda, aktivitas dilanjutkan dengan kegiatan sosial. Peserta dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama mengumpulkan batu untuk tambahan pembangunan gereja Stasi Mapinang – yang sedang dalam proses pembangunan. Kelompok dua memperbaiki jalan penghubung antara dam dan Dusun Mapinang yang selalu digenangi air tatkala pasang naik. Kelompok tiga mengumpulkan kayu bakar untuk membantu dua keluarga yang telah berusia lanjut.
Malam harinya (30/5), peserta kembali berdoa berdoa Rosario bersama dan menonton film bagian kedua. Usai nonton, peserta berbaur dalam dinamika kelompok terkait kisah dalam film dan aksi sosial yang dilakukan siang hari. Hari terakhir (31/5), pada sesi pertama, katekis muda lulusan STKIP “Widya Yuwana”-Madiun. Elisabet Berta Sababang, S.Pd., membawa peserta mendalami bahan tentang “Devosi dan Teladan Bunda Maria” dan “Penghormatan Kepada Bunda Maria”. Sebagai refreshing sekaligus internalisasi nilai-nilai yang didapat sepanjang pendalaman materi, peserta juga diajak melakukan terlibat luar ruangan (out-bound). Semua rangkaian pembinaan OMK ditutup dengan Ibadat Sabda dilanjutkan malam gembira.
Tatkala dihubungi, nara hubung GEMA di Stasi Sagulubbeg ini mengungkapkan tujuan pembinaan agar peserta (OMK) mengambil makna keteladanan dan pengorbanan Bunda Maria. “OMK pun jangan merasa rugi saat mengikuti setiap proses kegiatan di stasinya. Peserta OMK pun diharapkan menjadi orang muda yang siap ambil bagian dalam tugas menggereja dan memasyarakat. Selain itu, OMK setempat pun mau berdevosi kepada Bunda Maria walau bukan pada bulannya (Mei dan Oktober). Direncanakan, adanya sebuah tempat ziarah di Wilayah Sagulubbeg,” ungkap Stepanus lagi.
Lewat aktivitas out-bond dan bakti sosial, sambung Stepanus, warga OMK semakin terpanggil rela berkorban (segi waktu dan tenaga) untuk membantu orang lain tanpa pamrih. Terkait (rencana) tempat ziarah, Stepanus menyatakan OMK di wilayah ini bakal rutin dalam ibadat pembukaan dan penutupan Rosario. Untuk mewujudkan rencana tersebut, lanjutnya, warga OMK tiap stasi menggalang dana untuk mempunyai patung Bunda Maria serta merencanakan lokasi pembangunan goa sederhana Bunda Maria.
Kegiatan pembinaan OMK ini mendapat dukungan penuh umat Katolik Stasi St. Lusia Mapinang. Selain berupa dukungan untuk makan bersama/resepsi usai pembinaan berlangsung, umat juga bersedia menerima tumpangan peserta OMK dari luar Stasi Mapinang. (hrd)

Salah Masuk Gereja

Saat awal-awal tinggal di kota Padang, Beneditus Kurniawan Zai, SE, 26 tahun sempat salah masuk gereja. Tahun 2014, dosen mata kuliah agama Katolik “mengarahkan” mahasiswa Katolik aktif dalam satu organisasi atau kelompok Katolik. Karena sanak saudaranya ke­banyakan Protestan, pemuda kelahiran Saiwahili Hiliadulo, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias Induk, Provinsi Sumatera Utara 17 Februari 1995 ini ‘salah masuk’ gereja. Tetapi hanya tiga bulan. Setelah mendapat informasi dari teman kuliahnya, Beni “berminggu” di gereja Katolik, Gereja Santo Fransiskus Assisi Padangbaru.
Aktivis Komunitas Pemu­da Lintas Agama (Pelita) Padang ini, selanjutnya aktif di OMK Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang. Warga Rayon Igna­tius Loyola ini juga aktif dalam berbagai kepanitiaan (Natal dan ulang tahun paroki), sebagai seksi acara. Selain kuliah dan berorganisasi, anggota Kelompok Maena Santa Maria Bunda Yesus ini juga bekerja. Beni jarang istirahat. Kuliah, kerja, hari Minggu meski capek kegiatan OMK. Ketika ikut kegiat­an OMK beban pikiran berkurang,” kata anggota Ikatan Masyarakat Nias (IMN) Padang ini. Sejak 2017, alumni strata satu (S1) Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Eka Sakti (Unes) – Akademi Akuntansi Indonesia (AAI) Padang ini aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Bunda Yesus-Padang.
Empat tahun di OMK (2017-2021), Beni merasa mendapatkan banyak te­man dan bertambah wawasannya. Ia makin tahu arti hidup sesungguhnya, yakni harus berbagi dan menjadi pela­yan Tuhan dengan ikhlas. Aktif meng­gereja telah dijalaninya sejak SD, di Sekolah Minggu (Bina Iman Anak atau BIA), berlanjut hingga SMK di kam­pung­nya, di Stasi Rafael-Hiliadulo, Paroki St. Michael Tetehesi-Idanogawo, Pulau Nias. Saat kelas X SMK (2011), ayahnya meninggal sehingga saat tamat tidak bisa langsung kuliah. Sulung tujuh bersaudara ini bekerja untuk membiayai kuliahnya.
Di luar paroki, Beni aktif di Kope­rasi Simpan Pinjam “Usaha Bersama” (KSP UB) Padang. Ia terpilih sebagai ketua dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) TB 2020 KSP “Usaha Bersama”, Minggu (28/2). Di antara ketua pengurus primer koperasi simpan-pinjam (KSP) dalam koordinasi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) “Bekatigade Sumbarinci”, Beni merupakan ketua termuda. (hrd)

 

Silat Milik Bersama

Dionisius Frans Sidabutar (16) ingin ‘mematahkan’ anggapan miring seolah-olah olah raga pencak silat hanya “milik” penganut agama tertentu. Saat kelas VII SMP Xaverius Bukittinggi, ia mengajak beberapa temannya yang Katolik mengikuti olah raga ini dalam Perguruan Pencak Silat (PPS) Ganggang Sapadi, Bukittinggi. Ia tertarik,  karena cabang olah raga ini salah satu kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolahnya.

Suka Koor, Walau Mulanya Buta Not!

Mengaku mulanya buta, tetapi suka koor atau paduan suara. Itulah Reynaldi Cahaya, S.IKom. (26) Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Teresia Katedral Padang. “Saya merasa bersukacita ketika umat atau penonton merasa terberkati lewat nyanyian yang kami nyanyikan. Saya senang merasa sesuai dan memuliakan Tuhan lewat paduan suara, meski mulanya saya buta, ”ucap kepada GEMA.