Category Archives: Beranda Orang Muda

Senang Membantu Umat

Christian Michael Anthony (21) adalah salah satu Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral St Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Padang yang ikut sibuk pada live streaming dalam rangkaian tahbisan uskup baru Keuskupan Padang (6-7/10). Sejak Juni 2020, Michael  dipercaya sebagai salah satu ‘petugas’ Seksi Komunikasi Sosial Paroki Katedral Padang.

Mulanya, lelaki kelahiran Padang 9 Juli 2000 ini diajak Reinaldo, salah satu aktivis OMK yang juga ‘mengurus’ live streaming channel Paroki Katedral Padang. Tanpa banyak pertimbangan, putera pertama 2 bersaudara dari pasangan Irwan Antony dan Lussy ini spontan menyanggupi ajakan tersebut. Salah satu warga PDMKK St. Dominikus Savio sejak 2018 ini teringat kalimat motivasi Rei, “Mari coba pelajari sesuatu yang baru, karena ilmu melaksanakan streaming di gereja merupakan ilmu yang berguna, apalagi di saat pandemi ini.”

Mahasiswa semester tujuh jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta ini mengaku senang bisa berkontribusi untuk Gereja, terkhusus umat yang tidak bisa mengikuti langsung Perayaan Ekaristi (offline). Ia menjalani perkuliahan dalam jaringan (daring). Diakuinya, belum banyak hal yang dapat dilakukannya, apalagi ‘terlambat terlibat’ menggereja. Sewaktu masih sekolah dasar (SD), dirinya belum terlibat apa pun. Saat usia 14 tahun, ia mulai terlibat dalam kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santu Yusuf. Kala itu diajak sepupunya. Saat usia 17 tahun, Michael mulai terlibat kegiatan OMK sembari menyandang status pelajar SMA Don Bosco Padang, dirinya sempat membantu kegiatan Bina Iman Remaja (BIR). Saat masih kelas 10, dirinya dipercaya sebagai anggota bagian perlengkapan OSIS. (hrd)

Mencintai Dunia Komsos

“Pengalaman paling seru tatkala saya bergabung dalam Seksi Komunikasi Sosial/Komsos Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru! Setidaknya, ada dua pengalaman paling berkesan sebagai bagian Komsos Paroki, yakni saat peliputan momen upacara pemakaman almarhum Uskup Martinus (November 2019) dan tahbisan uskup baru silam (Oktober 2021),” ungkap Rizky Simonsius Sirait (23).

Lelaki kelahiran Pekanbaru, 27 Februari 1998 ini mengaku tidak mengetahui banyak hal mengenai aktivitas komsos. Perkenalan awal anak ketiga 4 bersaudara dari pasangan RM Sirait dan Selmina Tampubolon (alm) ini saat pertemuan Seksi Komsos Paroki se-Keuskupan Padang (2019). Saat itu, Rizky diajak Koordinator Komsos Paroki, Nico Situmorang, mengikuti pertemuan tersebut. “Usai pertemuan, saya mulai memahami ikhwal aktivitas komsos. Saya merasa ada tanggung jawab bisa berkarya di komsos paroki. Pandai sekali Bang Nico ini. Saya diutusnya agar bisa menjadi bagian seksi komsos. Kini, saya menjadi satu dari 19 personil komsos paroki. Suatu saat menjadi operator live streaming, kameraman, editor video, dan pekerjaan lainnya,” ungkap Rizky lagi.

‘Kecintaan’ terhadap dunia komsos semakin kuat tatkala Rizky diikutsertakan lagi pada pertemuan Signis Tahun 2020 yang berlangsung di Padang. Sebelum pandemi Covid-19, mahasiswa semester IX Fakultas Hukum Universitas Riau ini mengaku peran komsos sempat dipandang sebelah mata. Mantan Ketua OMK Stasi Santo Michael Pembatuan (2018-2021) ini berucap, “Pandemi menyebabkan peran komsos mulai dikenal umat, terutama lewat kegiatan siaran langsung (live streaming).”

Selain di ‘dunia komsos’, penggemar olah raga futsal dan bermain kamera foto maupun video ini juga terlibat sebagai anggota bidang Hubungan Masyarakat/Humas LP3KD Kota Pekanbaru (2018-2023) dan anggota Bidang Humas Dewan Pimpinan Daerah/DPD “Vox Point” Riau. Sesuai dengan perkuliahannya, Rizky dipercaya sebagai Koordinator Hukum dan HAM Pemuda Katolik Komisariat Cabang Pekanbaru. Walau banyak aktivitas, namun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya stabil. Diakuinya, terkadang, saat beberapa aktivitas berlangsung bersamaan dengan jadwal perkuliahan, namun banyak pengalaman di luar kampus diperoleh dan mengenal banyak pihak. (hrd)

Mulanya Iseng Selanjutnya Ketagihan – Ajakan Teman

Mula diajak teman bergabung ke Persekutuan Doa Muda-Mudi Karismatik Katolik (PDMKK) St. Dominikus Savio, Paroki Katedral Padang pada Agustus 2013, Septian Candra, S.IKom. (23) mengaku sekedar iseng dan coba-coba. “Hanya ingin tahu sekilas mengenai PDMKK!” akunya.

Saat pertama kali ikut aktivitas PDMKK, lelaki kelahiran Padang 20 September 1998 ini seperti ‘orang bingung’. Candra, panggilannya, heran melihat orang di sekitarnya mengangkat tangan, ada yang menangis dan masuk waktu penyembahan. Oleh teman-teman di PDMKK pula, sulung tiga bersaudara dari pasangan Lay Kiat Yong dan Leni Marlina ini diajak terlibat aktif. Ia pun tertarik mengikuti Seminar Hidup Dalam Roh (SHDR). Setelah itu, ia pun malah semakin ‘jatuh cinta’ dan ingin menjadi pelayan dalam berbagai bidang yang bisa diikuti dalam persekutuan doa.

Sarjana strata satu (S1) Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanegara (2021) ini semakin tertarik dan menaruh hati untuk persekutuan setelah SHDR serta merasakan kasih dan cinta Allah. Beberapa tugas, peranan, dan tanggung jawab pernah dijalaninya dalam kegiatan PDMKK. Penggemar olah raga bulu tangkis, mendengarkan musik, dan aktivitas jalan-jalan (traveling) ini sempat merasa rendah diri tatkala menjadi mendapat bagian penyanyi (singer). Namun, dukungan teman-temannya memberi keyakinan dirinya bisa. Selanjutnya, karyawan sebuah perusahaan swasta ini ‘ketagihan’ bila ditawari sebagai singer.

Walau ada pengalaman sebelumnya, namun tatkala diajak belajar menjadi pemimpin atau worship leader – dianggap Candra sebagai ‘yang terbaik’ (best of the best) selama terlibat di PDMKK – dirinya pun sempat merasa grogi dan takut. “Saya khawatir teman lainnya tidak bisa merasakan hadirat Tuhan dan tiba-tiba melantur sendiri. Bahkan, lupa dengan daftar (list) lagu yang akan dibawakan.  “Tetapi, semuanya menjadi suatu keajaiban. Ketakutan dan kekhawatiran diubah Tuhan menjadi berkat. Setelah pertama kali berupaya menjadi worship leader, saya ingin terus melatih diri dan berusaha hidup menjadi seorang worship leader!” ungkapnya penuh semangat. (hrd)

Jadi OMK yang Militan!

“Saya ingin menjadi manusia yang berguna bagi orang lain!” tandas Indra Yuda (25) usai bertemu Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Kadispora) Provinsi Riau, Bobby Rahmad, Sabtu (10/7) di Pekanbaru. Guru SD Negeri 05 Siambul, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau sejak tahun 2018 ini berkesempatan dialog menyampaikan aspirasi sebagai pemuda Suku Talang Mamak.

Walau sempat grogi, dari perjumpaan tersebut, lelaki kelahiran Siambul 15 September 1995 ini lebih termotivasi dan terpacu untuk darma bakti di tempatnya. Anak pertama 4 bersaudara pasangan Ali Amran (alias Kesek) dan Aminah (alias Buku) ini bertekad memotivasi para pemuda dan masyarakat Talang Mamak di Dusun Siambul Pusat, Desa Siambul. Indra fokus pada bidang ekonomi, budaya, wisata, dan budaya setempat.

Pada Juni 2021, Indra dan 31 warga OMK Stasi Talang Lakat, Siambul, dan Seberida ‘bertandang’ ke tempat-tempat wisata rohani Katolik di Sumatera Utara. Pengalaman kunjungan itu menggugah dirinya dan teman OMK lainnya agar menjadi OMK Talang Mamak yang militan dan mampu membawa perubahan.  Alumni SMK Teknologi YPL (2014) yang sedang menempuh perkuliahan Program Stusi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka ini ingin memberikan contoh bahwa anak muda Talang Mamak mampu membangun dirinya di bidang budaya, olah raga, wisata, ekonomi, dan hal lainnya. Salah satu pengurus Karang Taruna Desa Siambul (2021-2024) ini bertekad membangun dusunnya Siambul Pusat, Desa Siambul karena potensi alamnya luar biasa. “Saya bertekad mendorong teman-teman menjadi orang muda yang profesional dalam mengolah potensi dusun dan desa.”  katanya. (hrd)

“Beti” Usia Kami

“Tidak mudah bagi saya menjadi pendamping (pengawas) asrama putera. Apalagi beda usia saya dengan penghuni sangat tipis. Hanya satu tahun. Agar tugas ini lancar, saya berusaha mengenal dan memahami tindak tanduk para penghuni satu persatu,” ucap Arisman Sugianto Gulo (20).

Di usia remajanya, alumni SMA Negeri 1 Pagai Selatan (2020) ini diminta pastor paroki St. Maria Assumpta-Sikakap sebagai pendamping/pengawas asrama putera. Remaja kelahiran Dusun Lakkau-Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Mentawai 4 April 2001 tidak langsung menerima permintaan tersebut. Ia meminta waktu sebulan untuk mempertimbangkannya. Akhirnya, sulung dua bersaudara dari pasangan Yulius Gulo dan Marsaida Samaloisa (alm.) ini bersedia. “Kalau tamat sekolah, saya tetap di kampung tidak akan Maka, sejak 26 Januari 2021, saya menjadi pengawas bagi 38 penghuni asrama paroki,” katanya.

Penghuni asrama putera St. Vincentius-Sikakap ini beragama; dari peserta didik SD (7 orang), SMP (26), dan SMA (5). Penghuni tertua hanya setahun lebih muda dari dirinya. Setelah enam bulan dijalani, suka duka dialami Aris; berkembang. misalnya penghuni yang tidak mau diatur berdisiplin dan taat tata tertib, malas, menghindar dari tanggung jawab, bahkan ada yang kabur keluar asrama. Walau demikian, sambung Aris, dirinya berupaya mendekatkan diri pada penghuni agar lebih mengenali satu per satu, terutama pada waktu rekreasi/bermain bersama dan membantu mereka yang mengalami kesulitan belajar. (hrd)

Segudang Manfaat Ikut OMK

Karena sering mengikuti kegiatan Gereja, Benedick Dito Putra Kani (21) merasakan  beroleh banyak pengalaman yang menguatkan dan meneguhkan iman, wawasan,  dan pengetahuan agama.  “Saya beruntung mengenal banyak teman seiman, lebih berani tampil di depan banyak orang. Sebelumnya saya sering takut dan grogi tampil di depan banyak orang,” katanya.

Dito – panggilan pemuda kelahiran Padang 18 Oktober 2000 ini, mulai aktif menggereka  sejak menerima Komuni Pertama, kelas IV SD. Anak pertama 3 bersaudara pasangan Petrus Sukamto dan Juni Karla br. Sitohang ini mulai sebagai misdinar. Mahasiswa semester delapan Jurusan Teknik Industri di Fakultas Teknik Universitas Andalas ini  ‘mengurus’ Orang Muda Katolik (OMK) sebagai Wakil Ketua OMK Paroki Santa Maria Bunda Yesus-Padang (2018-2020).

Lewat aktivitas OMK pula, alumni SMA Don Bosco Padang (2017) ini mengaku dapat kesempatan berharga yang mengembangkan kualitas dirinya, misalnya mengikuti Hari OMK Keuskupan Padang di Muara Siberut-Mentawai dan Pertemuan Seksi Komunikasi Sosial Keuskupan Padang (Juni 2019). Sewaktu SMA, Dito sempat mengharumkan nama sekolah lewat pencapaian prestasi, antara peringat pertama Lomba Cepat Tepat SMA pada acara Pekan Seni Matematika XIV se-Indonesia (2017) dan peringkat kedua pada Lomba Bimbingan Kelompok tingkat SMA yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2016.

Penggemar olah raga futsal ini juga aktif  dalam kegiatan OMK Wilayah Paulinus. Pada perayaan Natal dan Paskah, Dito mengerahkan teman OMK-nya untuk membersihan kapel setempat. Pada kesempatan hari biasa pun, lelaki yang bercita-cita menjadi pengusaha ini kalau dibutuhkan siap menggerakkan warga OMK setempat.  Dito sendiri kadang sebagai lektor saat misa di kapel.  Sejak dua tahun lalu,  di sela-sela kesibukkannya kuliah, Dito mencari pengalaman baru sebagai tenaga di sebuah wedding organizer cukup terkenal di Kota Padang.  (hrd)

Mengajak OMK Meneladan Bunda Maria

SANTA MARIA SIBERUT – Delapan puluh lima (85) Orang Muda Katolik (OMK) dari lima stasi se-Wilayah Sagulubbeg, Paroki St. Maria Diangkat ke Surga-Siberut, Kepulauan Mentawai mengikuti pembinaan tentang spiritualitas Bunda Maria. Pembinaan bertema: “Devosi Kepada Bunda Maria” ini dilaksanakan di gereja Stasi Santa Lusia-Mapinang dari 29 – 31 Mei. Peserta berasal dari Stasi Sagulubbeg (12 orang), Lumago (23), Siribabak dan Buga (37), dan Mapinang (13). Utusan OMK dari dua stasi lainnya (Masi dan Mongan Tepuk) berhalangan hadir.
Selama tiga hari berkumpul, melalui berbagai materi dan metode, panitia mengupas teladan pengorbanan Bunda Maria dan mengajak OMK meneladani kebaikannya terutama di di tengah pandemi saat ini. Hari pertama kegiatan, Sabtu (29/5) malam, kegiatan diawali dengan berdoa Rosario dilanjutkan ‘nonton bersama’ (nobar) bagian pertama film kisah ketaatan dan perjuangan Bunda Maria dari Nazareth. Usai menonton, dilanjutkan berpengalaman (sharing) di antara peserta.

Hari kedua, Minggu (30/5), setelah Perayaan Sabda, aktivitas dilanjutkan dengan kegiatan sosial. Peserta dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama mengumpulkan batu untuk tambahan pembangunan gereja Stasi Mapinang – yang sedang dalam proses pembangunan. Kelompok dua memperbaiki jalan penghubung antara dam dan Dusun Mapinang yang selalu digenangi air tatkala pasang naik. Kelompok tiga mengumpulkan kayu bakar untuk membantu dua keluarga yang telah berusia lanjut.
Malam harinya (30/5), peserta kembali berdoa berdoa Rosario bersama dan menonton film bagian kedua. Usai nonton, peserta berbaur dalam dinamika kelompok terkait kisah dalam film dan aksi sosial yang dilakukan siang hari. Hari terakhir (31/5), pada sesi pertama, katekis muda lulusan STKIP “Widya Yuwana”-Madiun. Elisabet Berta Sababang, S.Pd., membawa peserta mendalami bahan tentang “Devosi dan Teladan Bunda Maria” dan “Penghormatan Kepada Bunda Maria”. Sebagai refreshing sekaligus internalisasi nilai-nilai yang didapat sepanjang pendalaman materi, peserta juga diajak melakukan terlibat luar ruangan (out-bound). Semua rangkaian pembinaan OMK ditutup dengan Ibadat Sabda dilanjutkan malam gembira.
Tatkala dihubungi, nara hubung GEMA di Stasi Sagulubbeg ini mengungkapkan tujuan pembinaan agar peserta (OMK) mengambil makna keteladanan dan pengorbanan Bunda Maria. “OMK pun jangan merasa rugi saat mengikuti setiap proses kegiatan di stasinya. Peserta OMK pun diharapkan menjadi orang muda yang siap ambil bagian dalam tugas menggereja dan memasyarakat. Selain itu, OMK setempat pun mau berdevosi kepada Bunda Maria walau bukan pada bulannya (Mei dan Oktober). Direncanakan, adanya sebuah tempat ziarah di Wilayah Sagulubbeg,” ungkap Stepanus lagi.
Lewat aktivitas out-bond dan bakti sosial, sambung Stepanus, warga OMK semakin terpanggil rela berkorban (segi waktu dan tenaga) untuk membantu orang lain tanpa pamrih. Terkait (rencana) tempat ziarah, Stepanus menyatakan OMK di wilayah ini bakal rutin dalam ibadat pembukaan dan penutupan Rosario. Untuk mewujudkan rencana tersebut, lanjutnya, warga OMK tiap stasi menggalang dana untuk mempunyai patung Bunda Maria serta merencanakan lokasi pembangunan goa sederhana Bunda Maria.
Kegiatan pembinaan OMK ini mendapat dukungan penuh umat Katolik Stasi St. Lusia Mapinang. Selain berupa dukungan untuk makan bersama/resepsi usai pembinaan berlangsung, umat juga bersedia menerima tumpangan peserta OMK dari luar Stasi Mapinang. (hrd)

Salah Masuk Gereja

Saat awal-awal tinggal di kota Padang, Beneditus Kurniawan Zai, SE, 26 tahun sempat salah masuk gereja. Tahun 2014, dosen mata kuliah agama Katolik “mengarahkan” mahasiswa Katolik aktif dalam satu organisasi atau kelompok Katolik. Karena sanak saudaranya ke­banyakan Protestan, pemuda kelahiran Saiwahili Hiliadulo, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias Induk, Provinsi Sumatera Utara 17 Februari 1995 ini ‘salah masuk’ gereja. Tetapi hanya tiga bulan. Setelah mendapat informasi dari teman kuliahnya, Beni “berminggu” di gereja Katolik, Gereja Santo Fransiskus Assisi Padangbaru.
Aktivis Komunitas Pemu­da Lintas Agama (Pelita) Padang ini, selanjutnya aktif di OMK Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang. Warga Rayon Igna­tius Loyola ini juga aktif dalam berbagai kepanitiaan (Natal dan ulang tahun paroki), sebagai seksi acara. Selain kuliah dan berorganisasi, anggota Kelompok Maena Santa Maria Bunda Yesus ini juga bekerja. Beni jarang istirahat. Kuliah, kerja, hari Minggu meski capek kegiatan OMK. Ketika ikut kegiat­an OMK beban pikiran berkurang,” kata anggota Ikatan Masyarakat Nias (IMN) Padang ini. Sejak 2017, alumni strata satu (S1) Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Eka Sakti (Unes) – Akademi Akuntansi Indonesia (AAI) Padang ini aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Bunda Yesus-Padang.
Empat tahun di OMK (2017-2021), Beni merasa mendapatkan banyak te­man dan bertambah wawasannya. Ia makin tahu arti hidup sesungguhnya, yakni harus berbagi dan menjadi pela­yan Tuhan dengan ikhlas. Aktif meng­gereja telah dijalaninya sejak SD, di Sekolah Minggu (Bina Iman Anak atau BIA), berlanjut hingga SMK di kam­pung­nya, di Stasi Rafael-Hiliadulo, Paroki St. Michael Tetehesi-Idanogawo, Pulau Nias. Saat kelas X SMK (2011), ayahnya meninggal sehingga saat tamat tidak bisa langsung kuliah. Sulung tujuh bersaudara ini bekerja untuk membiayai kuliahnya.
Di luar paroki, Beni aktif di Kope­rasi Simpan Pinjam “Usaha Bersama” (KSP UB) Padang. Ia terpilih sebagai ketua dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) TB 2020 KSP “Usaha Bersama”, Minggu (28/2). Di antara ketua pengurus primer koperasi simpan-pinjam (KSP) dalam koordinasi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) “Bekatigade Sumbarinci”, Beni merupakan ketua termuda. (hrd)

Silat Milik Bersama

Dionisius Frans Sidabutar (16) ingin ‘mematahkan’ anggapan miring seolah-olah olah raga pencak silat hanya “milik” penganut agama tertentu. Saat kelas VII SMP Xaverius Bukittinggi, ia mengajak beberapa temannya yang Katolik mengikuti olah raga ini dalam Perguruan Pencak Silat (PPS) Ganggang Sapadi, Bukittinggi. Ia tertarik,  karena cabang olah raga ini salah satu kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolahnya.

Suka Koor, Walau Mulanya Buta Not!

Mengaku mulanya buta, tetapi suka koor atau paduan suara. Itulah Reynaldi Cahaya, S.IKom. (26) Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Teresia Katedral Padang. “Saya merasa bersukacita ketika umat atau penonton merasa terberkati lewat nyanyian yang kami nyanyikan. Saya senang merasa sesuai dan memuliakan Tuhan lewat paduan suara, meski mulanya saya buta, ”ucap kepada GEMA.