Category Archives: Dibuang Sayang

Waspadalah Terhadap Nabi Palsu

Romo Kebet mendapatkan kisah dari rekan sejawatnya. Sebut saja Romo Lukas. Ceritanya begini…..
Seseorang mengaku Insinyur Daniel menelponku. “Syalom….! Benar ini Romo Lukas?”
Saya jawab benar.
“Saya Insiyur Daniel. Berkat doa-doa Romo, karir saya sekarang bagus. Saya diangkat menjadi manajer di perusahaan tambang, tetapi di lepas pantai. Saya sedang mendarat di Balikpapan. Waktu saya singkat, Romo. Sebagai rasa syukur, saya ada sedikit dana. Mungkin bisa bantu karya pastoral atau kebutuhan pribadi Romo.” katanya.
Ingatan saya menerawang, mengingat dan mencari-cari orang yang bernama Daniel, bergelar insinyur.
“Sebenarnya saya ingin sowan (datang) Romo, sekalian nyekar (berziarah) ke makam ibu. Tetapi tidak ada cuti, masih pandemi lagi”, katanya.
Kalau itu bisa diaturkan. Kapan baiknya?
“Atau Romo, monggo (silakan) ke tempat kami. Apa pun nanti kami tanggung,” lanjut Daniel.
Ir. Daniel minta nomor rekening bank. Saya berikan lewat SMS.
“Romo tunggu sebentar saya transfer ya?” lanjutnya.
Tidak lama kemudian, Ir. Daniel menyatakan bahwa sudah transfer Rp 10 juta! Waah….rezeki nomplok, bisa untuk nyambung bayar SPP anak asuh. Batinku.
“Sudah Romo, silahkan dicek!” katanya meyakinkan.
Aku lihat lewat mobile banking di HP belum masuk, Saya katakan, kalau Bapak sibuk, tinggal saja. Mungkin sinyal kurang bagus!
“Betul. Gangguan sinyal. Romo ke ATM terdekat saja. Nanti bukti tran­saksi bisa Romo print!” katanya.
Saya ke ATM dekat pastoran.
“Kalau Romo sudah di ATM, masukkan kartu, terus pin. Tekan transaksi lainnya. Cepat yaaa, Romo. Saya sudah dipanggil teman. Terus ada tulisan transfer, Romo pilih itu. Pilih bank lain, tekan lagi. Ketik jumlah yang saya sumbangkan tadi!’ katanya.
Sampai di situ, saya merasa ada yang tidak lazim. Saya penerima, kok malah menekan transfer. Berarti saya mengirim. Saya panjangkan akal, gantian mengerjainya. Saya pura-pura keliru mencet sehingga mesti diulang lagi.
“Pelan saja, Romo. Ulang dari awal ya, Romo.”
Saya pura-pura mengikuti perintahnya. Sudah, sudah masuk! Terima kasih. Lain waktu kalau berkenan disumbang lebih banyak yaa….!
Merasa saya kerjai, Ir. Daniel menutup teleponnya.
Selesai membaca kisah itu, Romo Kebet terdiam akan akan hati-hati kalau mengalami hal yang sama. Lalu Romo Kebet mengambil secarik kertas dan pena.
“Cerdiklah seperti ular, tetapi tidak seperti Insinyur Dani­el. Hati-hatilah terhadap nabi-nabi palsu di zaman kini!” tulisnya. (ws)

Seperti Ular atau Ulat?

Setelah menerimakan abu sesuai pola New Normal (bukan di dahi tetapi di atas kepala), Romo Kebet duduk-duduk di beranda pastoran sambil membolak-balik buku renungan.
Romo Kebet menemukan dongeng tentang ular dan ulat. Untuk mengubah dirinya (bermetamorfosis) ular dan ulat sama-sama “bersemedi” (menyendiri) dan berpuasa.
Seekor ular, ketika akan berganti kulit (nglungsungi – Jawa) menjalani puasa. Ular akan bersembunyi, berdiam diri, dan tidak makan beberapa waktu lamanya sampai proses ganti kulitnya selesai.
Usai menjalani ritual itu, badan dan wajah ular tetap sama. Namanya tetap ular, baik sebelum dan sesudah puasa. Cara bergeraknya, sebelum dan sesudah puasa juga tetap sama. Tabiat dan sifatnya sebelum dan sesudah puasa pun sama. Bahkan setelah berganti kulit, tabiat dan sifat ular lebih ganas.
Seekor ulat, ketika akan bermetamorfosis (berganti rupa) juga menjalani puasa. Ulat binatang yang sangat rakus makan dedaunan, bahkan merusak. Wajahnya ada yang menakutkan, karena merusak tanaman mengganggu dan merugikan makhluk lain. Setelah berdiam diri dan berpuasa, ulat mengubah dirinya menjadi kepompong. Setelah itu kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Wajah dan penampilan ulat sesudah berpuasa berubah.
Kini ulat menjadi kupu-kupu yang cantik. Makanannya berubah, bukan lagi dedaunan, tetapi madu. Cara bergerak ulat pun beruvah dari merayap, setelah menjadi kupu-kupu terbang dengan sayapnya. Tabiat dan sifatnya pun berubah total. Ketika masih ulat sifanya perusak, penampilan wajahnya seram. Setelah menjadi kupu-kupu sangat berguna bagi makhluk lain, membantu penyerbukan sehingga membantu kelangsungan hidup tanaman dan makhluk hidupnya lainnya. Hidupnya menjadi indah, menyenangkan, dan bersemarak karena bisa menolong dan hidup berarti bagi makhluk lain.
Lalu Romo Kebet menutup buku dongeng itu, diam termenung mengucapkan kalimat pendek: “Bagaimana dengan puasa dan hidupku….?”, “Seperti ular atau ulat…?” (ist)