Category Archives: Fokus

Berharap Terbangun Kerja Sama

Atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia, kami  menyambut hangat pengangkatan dan pentahbisan Uskup Vitus Rubianto Solichin, SX untuk melayani umat Katolik di Keuskupan Padang – yang meliputi Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, dan sebagian wilayah Provinsi Jambi (Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh).

Terkait adanya uskup baru ini teriring harapan kerja sama antara Pemerintah dan Gereja Katolik dapat terus terjalin untuk membangun semangat toleransi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara khusus, setelah hampir nyaris dua tahun tidak mempunyai seorang uskup di wilayah ini, tentulah semua pihak berharap terbangun kerja sama maksimal. Umat Katolik tetap menjadi bagian NKRI dengan kerja sama yang dibangun umat bersama Bapa Uskup yang baru ditahbiskan guna membangun karakter masyarakat Indonesia. Umat Katolik pun bisa membangun karakter sumber daya manusia sebagaimana diharapkan Presiden RI, Joko Widodo.

 

Yohanes Bayu Samudro, M.Pd.
 Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat  (Pembimas) Katolik Kementerian Agama RI

Tari Minang Sambut Nunsius dan Kardinal

Gubernur Provinsi Sumatera Barat, H. Mahyeldi Ansharullah, SP Datuk Marajo menyambut hangat kedatangan Duta Besar (Dubes) Vatikan Mgr. Piero Pioppo, di terminal khusus Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM), Rabu (6/10) siang.

Dalam rombongan Dubes Vatikan, ikut serta Yang Mulia Kardinal Prof. Dr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, Uskup Bandung (Mgr. Antonius Subianto Bunyamin, OSC), Uskup Ruteng (Mgr. Siprianus Hormat), dan sekretaris kedutaan besar Vatikan. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Bupati Kepulauan Mentawai, dan seorang anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat ikut bersama Panitia Tahbisan Uskup menyambut kedatangan rombongan nunsius.

Setelah menjalani seremoni penyambutan berupa pengalungan kain songket khas Sumatera Barat kepada Dubes Vatikan oleh Gubernur Sumatera Barat serta pengalungan bunga khas Mentawai kepada Yang Mulia Kardinal, rombongan beramah tamah di ruang VIP BIM sembari dihantar tetabuhan musik dan gerak pencak silat khas Minangkabau.

Keakraban sungguh terasa di ruang VIP BIM, tatkala masing-masing memperkenalkan diri sambi mencicipi penganan kecil yang dihidangkan. Dalam jamuan minum teh ini, Dubes Pioppo menyampaikan ucapan terima kasihnya atas sambutan hangat Gubernur Sumatera Barat. Ternyata, yang menarik perhatian, Gubernur Mahyeldi mengenal wilayah Keuskupan Padang meliputi Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, dan sebagian dari Provinsi Jambi. Bahkan, sambil bergurau, Gubernur Mahyeldi menyatakan mau belajar Bahasa Italia yang disambut gelak tawa hadirin.

Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi berharap Dubes Vatikan Mgr. Pioppo merasa betah seperti di kampung sendiri. Gubernur juga menyambut hangat prosesi pentahbisan atau pelantikan uskup baru Keuskupan Padang yang berlangsung pada 7 Oktober 2021. Sembari berharap pentahbisan atau pelantikan dapat berlangsung dengan lancar, Gubernur Mahyeldi berharap momen ini dapat semakin memperdalam dan memperkuat iman umat Katolik di daerah ini.

“Kunjungan Dubes Vatikan juga menjadi pertanda baik bagi peningkatan hubungan persahabatan antara Indonesia dengan Vatikan, termasuk Vatikan dengan Provinsi Sumatera Barat. Saya berharap lewat lawatan Dubes Vatikan, umat Katolik semakin bergairah terlibat dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat meski dalam situasi pandemi Covid-19. Kalau ada cerita yang kurang baik mengenai Sumatera Barat, tolong sampaikan kepada saya sebagai gubernur. Bila ada cerita yang positif, mohon disampaikan kepada banyak orang,” ungkap Buya Mahyeldi lagi.

Sementara itu, membalas sambutan Gubernur Sumatera Barat, Dubes Vatikan Mgr. Pioppo menyampaikan sambutan berbahasa Italia yang diterjemahkan oleh salah seorang imam yang juga Administrator Diosesan Keuskupan Padang, P. Alexander I. Suwandi, Pr. “Saya berterima kasih atas penerimaan dan penyambutan yang hangat kepada rombongan ini. Juga ada dua uskup yang menyertai kunjungan ini. Sebagai Nunsius juga ingin berkunjung ke provinsi ini. Saya merasa tidak pantas untuk mewakili Bapa Paus,” ucapnya.

Ditambahkan lagi, “Dewasa ini, Bapa Paus Fransiskus menjalin komunikasi dan kerja sama dengan para pemimpin agama lainnya, Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dan lain sebagainya di Vatikan. Bapa Paus mengajak semua pihak membicarakan tentang lingkungan ekologi, pendidikan, dan lain sebagainya.”

Misi Kedatangan

Dubes Pioppo juga menjelaskan misi kedatangannya ke Provinsi Sumatera Barat untuk menahbiskan uskup baru Keuskupan Padang. Bapa Suci Fransiskus memilih Pastor Vitus Rubianto Solichin, SX sebagai uskup baru Keuskupan Padang, menggantikan almarhum Mgr. Martinus D. Situmorang. Penerimaan yang baik dan positif terhadap dirinya juga pertanda penerimaan yang baik terhadap uskup baru. “Saya yakin, uskup baru ini dapat bekerja sama dengan semua pihak di daerah ini dan pasti berguna sangat baik untuk kita semua,” ucap Dubes Pioppo mengakhiri yang disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Tahbisan uskup baru Keuskupan Padang berlangsung pada 7 Oktober 2021 di Gereja Katedral Santa Teresia Padang. Satu hari sebelumnya (6/10), berlangsung ibadat Vesper Agung. Di kesempatan ini, uskup baru akan menyampaikan pengakuan iman dan sumpah kesetiaan. Juga, berlangsung pemberkatan insignia atau tanda-tanda yang dikenakan uskup, berupa mitra, cincin, tongkat kegembalaan (pastoral) dan salib pektoral, serta katedra uskup.

Informasi yang diterima dari Sekretaris Panitia Tahbisan Uskup, Rm. Stanislaus Toto Pujiwahyulistianto, Pr., kesempatan tahbisan uskup baru Keuskupan Padang berlangsung dengan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat. Setiap tamu wajib mengikuti tes antigen, bermasker, mengatur jarak tempat duduk, dan cuci tangan/menggunakan handsanitizer.

Dengan mempertimbangkan situasi dalam suasana Covid-19, maka tidak semua umat bisa menghadiri prosesi ini. Menurut catatannya, terdaftar 337 peserta pada kesempatan ini. Selain diikuti 23 uskup dan 2 vikaris jenderal keuskupan – dari Sabang hingga Merauke – Perayaan Tahbisan Uskup diikuti para pastor/imam, bruder, frater, suster, biarawan-biarawati, dan utusan umat dari 29 paroki se-Keuskupan Padang. Dalam penyelenggaraannya, untuk keamanan perayaan selama dua hari tersebut (6-7/10), panitia mendapat bantuan dari aparat kepolisian. (hrd)

Beragam Asa Dan Doa

‘Kado’ Tidak Terduga

Kalau ditanya apa komentar saya? Sulit dikomentari, karena besarnya perhatian dari Takhta Suci lewat Duta Besar Vatikan untuk Indonesia memberikan perhatian pada karya Xaverian di Indonesia. Di waktu silam, ada juga Xaverian yang dipilih sebagai uskup di Keuskupan Padang. Kini, ada uskup dari salah satu putera terbaik bangsa Indonesia yang dipilih dan diangkat sebagai uskup Keuskupan Padang.

Dalam situasi ini, saya dan Konfrater Xaverian lainnya merasa gembira atas pemilihan dan penunjukkan uskup baru ini. Dalam hal ini, kami merasa bahwa karya Xaverian selama ini sangat dihargai. Semoga segala sesuatu yang dimulai dengan itikad yang baik, bisa berkembang dan gemilang demi kemuliaan nama Tuhan. Mungkin ada juga yang menghubung-hubungkan dengan peringatan 70 Tahun Xaverian di Indonesia, khususnya di Keuskupan Padang, sebagai ‘kado’ istimewa, tentu saja kami – Xaverian – tidak memikirkan hal demikian. Sering, rencana Tuhan melampaui rancangan manusia. Di luar dari apa yang kami harapkan, rencanakan, tentukan. Bisa jadi, kalau ada yang menganggapnya sebagai ‘kado yang tak terduga’. Yang pasti, tidak ada unsur kesengajaan. Yang ada hanya penyelenggaraan Illahi.

Sejumlah harapan kepada uskup baru: konsolidasi umat, persiapan umat agar lebih mantap – apalagi dalam evangelisasi pergaulan yang inklusif, perkembangan dialog antarumat beragama, dan tidak melupakan daerah yang masih lemah (pada aspek ekonomi, kemasyarakatan, iman Katolik). Semoga karena cinta kasihnya, kegembalaannya, perhatiannya, semakin terbimbing ke arah yang makin mantap.

 

Pastor Fernando Abis, SX
Konfrater Serikat Misionaris Xaverian

 

SCMM Siap Bekerja Sama!

Proficiat! Kita bersyukur kepada Tuhan atas terpilihnya bapa uskup yang baru di Keuskupan Padang. Kita sudah lama mendamba seorang gembala utama di Keuskupan Padang, sepeninggal almarhum Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap. Kita menunggu, berharap, berdoa mendapatkan uskup baru di keuskupan ini. Juga, kita pantas bersyukur kepada pihak Vatikan, yang melihat secara tepat dan obyektif, karena memilih Mgr. Rubi dari Tarekat SX menjadi uskup. Selamat melayani menjadi gembala yang baik bagi domba-domba yang ada di keuskupan padang.

Saya katakan sebagai pilihan obyektif dan tepat, karena dari aspek kesejarahan, Keuskupan Padang tidak luput dari peran Tarekat SX serta didampingi para suster yang tergabung dalam Kongregasi SCMM. Kongregasi SCMM pertama kali tiba di Ranah Minang pada 12 Juli 1885. SX dan SCMM bersama-sama membangun Kerajaan Allah di Keuskupan Padang; serta kemudian oleh saudara kami – satu pendiri – yakni para frater CMM. Rumah kediaman uskup sekarang adalah rumah frater CMM dulunya.

Sungguh mengesankan, saya melihat seolah-olah dikembalikan lagi seperti pada misi awal, tatkala salah satu Konfrater SX dipilih dan diangkat Bapa Suci sebagai uskup di Keuskupan Padang. Tentu hal ini, menjadi satu hal pemberi harapan kepada kami sebagai Kongregasi SCMM dan juga kepada ‘saudara kami’ nantinya (Frater CMM).

Sebagai Kongregasi SCMM, saya mau menyatakan, kami siap bekerja sama, mendukung landasan pastoral dari uskup baru. Kami siap dengan segala hal untuk bersama-sama membangun Kerajaan Allah di Keuskupan Padang. Saya ingat saudara CMM dapat datang ke sini untuk bersama-sama memperkuat pelayanan umat dan pastoral, khususnya bidang pendidikan. Harapan kepada suster kami: dukung dan doakan Bapa Uskup punya kesehatan yang prima. Dipenuhi Roh Kudus untuk membawa domba ke padang rumput yang hijau, menuju Tuhan. Kepada umat, ajakan saya, marilah kita jaga Bapa Uskup, sebagai orangtua. Kita jagai fisik, spiritual, dan panggilannya agar Bapa Uskup fokus sebagai gembala bagi domba.

 

Sr. Maria Blandina Zagoto, SCMM
Provinsial Suster-Suster Cintakasih Bunda Maria
yang Berbelaskasih(SCMM) Indonesia

 

Misericordia Motus Butuh Dukungan Mewujudkannya

Kami bersuka cita bisa hadir dalam kesempatan tahbisan uskup baru Keuskupan Padang di lokasi ini. Sama dengan suka cita umat Katolik Keuskupan Padang – yang sempat ‘kehilangan’ gembala hampir dua tahun lamanya sepeninggal almarhum Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap. Kini, umat mendapat gembala baru yang jauh lebih muda usianya. Yang kepada beliau (Bapa Uskup Vitus) diberikan pengharapan yang besar tentunya lebih daripada yang sudah dimiliki selama ini.

Sebagai seorang imam, saya juga berharap Bapa Uskup Vitus dapat membawa keuskupan ini ke arah lebih maju lagi – bersama dengan dukungan para imam, suster, biarawan-biarawati, dan umatnya. Secara pribadi, saya menanggapi moto uskup baru, Misericordia Motus, yang dirasakan sangat cocok dengan arah Gereja  masa kini – terarah pada Gereja yang berbelas kasih. Di kalangan para imam dan umat pun diharapkan demikian adanya, karena itulah bentuk kesaksian yang lebih dibutuhkan masa kini dan mendatang. Hal ini sejalan dengan semangat Bapa Suci. Sebagai pribadi dan ‘warga’ Kapusin, kami sangat senang dengan moto Misericordia Motus. Kita berharap moto tersebut sungguh hidup dan dihidupkan di Keuskupan Padang. Kasih menjadi pewartaan yang lebih baik di mana pun.

 

P. Alexander Silaen, OFMCap.
Utusan Persaudaraan Kapusin dari Medan.
Dewan Penasihat Ordo Kapusin

 

Moto Uskup Untuk Semua

Di Keuskupan Padang, kami melayani umat di tiga paroki Provinsi Riau: Perawang, Kota Batak, dan Pangkalan Kerinci. Sebenarnya Provinsial SCJ diundang pada kesempatan istimewa ini, namun berhalangan hadir. Namun, lewat saya disampaikan ucapan proficiat. Semoga bisa berbelas kasih, sesuai dengan moto uskup, Misericordia Motus. Serta cocok dengan spiritualitas kami – SCJ.

Perihal harapan, fakta, di keuskupan ini terdapat banyak imam yang berasal dari berbagai kongregasi/ordo/tarekat serta biarawan-biarawati. Untuk hal itu, kami berharap Bapa Uskup Vitus bisa merangkul dan bekerja sama dengan semua kongregasi/tarekat/ordo yang ada, serta memanfaatkan spiritualitas masing-masing kongregasi untuk membangun Keuskupan Padang. Saya amati moto yang dipilih uskup baru ternyata bisa masuk ke dalam spiritualitas semua kongregasi/ordo/tarekat yang ada; juga untuk para pastor diosesan.

 

P. FX Priyo Widarto, SCJ
Parokus Kota Batak-Riau & Superior Localis
Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus(SCJ) Riau

 

Patut dan Pantas Bersyukur

Sepeninggal almarhum Mgr. Martinus D. Situmorang, 19 November 2021, umat Katolik Keuskupan Padang merindukan kehadiran uskup baru sebagai pengganti beliau – sebagai bapa gembala bagi kawanan domba-umat di keuskupan ini. Akhirnya, doa-doa yang disampaikan dalam berbagai kesempatan terjawab. Bahkan, tidak terduga, terpilih Mgr. Vitus Rubianto Solichin dari Serikat Misionaris Xaverian (SX).

Saya mulai mengenal beliau (uskup baru) tatkala berkesempatan hadir saat kaul kekal beliau di Basilika St. Paulus, Roma (1996). Pada saat itu berlangsung beatifikasi pendiri Serikat Misionaris Xaverian. Tentulah, kita patut, pantas bersyukur, serta bangga atas kehadiran uskup baru ini di Keuskupan Padang. Harapan saya, semoga Uskup Vitus bisa menggembalakan umat yang sangat heterogen ini dengan sebaik-baiknya. Heterogenitas (komposisi) umat maupun profesi pekerjaan.

 

Antonius Suharsono
Perwakilan Umat Paroki Dumai

 

Hadir Dalam Peristiwa Bersejarah

Patutlah kita menyampaikan ucapan puji dan syukur kepada Tuhan, karena Keuskupan Padang mempunyai uskup yang baru. Hampir dua tahun keuskupan ini tidak bergembala, setelah mangkatnya uskup terdahulu, Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap.

Tatkala mendapat kabar mengenai uskup baru di Keuskupan Padang, umat Katolik Payakumbuh sangat bergembira.  Tentu ada harapan agar iman umat di paroki ini dapat semakin berkembang, bertumbuh, giat dinamis atas kehadiran uskup baru ini.  Saya pribadi bersama seorang teman sebagai utusan Paroki Payakumbuh merasa gembira bisa hadir secara langsung pada momen tahbisan uskup baru ini, meski berlangsung di tengah masa Pandemi Covid-19. Kami berdua bersama dengan utusan lainnya ikut dalam peristiwa bersejarah di Keuskupan Padang ini.

 

Thomas Wiryo Pranoto
Tokoh Umat Paroki St. Fidelis A Sigmarinda, Payakumbuh

 

Menantikan Kunjungannya

Saya berharap Bapa Uskup Vitus bisa seperti pendahulunya Mgr. Martinus Dogma Situmorang yang menjadi idola saya, yang dipandang sebagai sosok atau pribadi yang nyaris sempurna. Beberapa harapan saya bagi Bapa Uskup: pembinaan bagi para pastor dan umat dapat lebih ditingkatkan, intens menjalin silaturahmi dan kerja sama dengan pemerintah daerah setempat (mulai dari Bapa Uskup hingga para pastor paroki di daerah setempat-paroki masing masing). Bapa Uskup memotivasi para pastor di keuskupan ini agar lebih aktif di bidang Hubungan Antaragama dan Kepercayaan/HAAK dan Kerasulan Awam/Kerawam karena kita berada di tengah masyarakat majemuk. Para pastor jangan hanya “nyaman” dalam zonanya.

Baiklah dibuat program peningkatan sumber daya manusia/SDM, baik pada aspek imani dan ekonomi. Bapa Uskup memotivasi, bahkan menegaskan, umat yang bekerja di Yayasan yang dinaungi oleh keuskupan ikut ambil bagian dalam kegiatan pastoral, aktif dalam kegiatan di gereja setempat. Tidak kalah pentingnya, adalah kunjungan penggembalaan yang rutin dan pasti dinanti-nantikan umat. Semoga Bapa Uskup (yang baru) diberi kesehatan, kebijaksanaan, cepat beradaptasi dengan umat-yang beraneka ragam latar belakangnya.

 

Elisabeth Wasis
Umat Paroki St. Maria Ratu Rosario, Baganbatu, Riau

 

Anugerah Untuk Keuskupan Padang

SAYA YAKIN, bukanlah kebetulan Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX terpilih sebagai Uskup Padang. Ini adalah anugerah dan kasih Tuhan bagi umat di Keuskupan Padang. Kami sangat berharap bisa menghadiri Misa Pentahbisan Uskup ini, namun karena situasi pandemi dan demi keselamatan bersama, hanya doa, ucapan bahagia dan selamat yang kami haturkan. Semoga Mgr. Vitus selalu dalam penyertaan Tuhan, kuat, semangat, selalu sehat, panjang umur, bahagia, memiliki kepekaan hati, selalu dimampukan melakukan pelayanan dengan penuh belas kasih dan bermurah hati – seperti Bapa yang adalah Kasih dan Murah hati.

Proficiat Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX. Terima kasih karena rela dan mau menerima tugas penggembalaan ini. Selamat mengembalakan kami. Bawalah kami selalu dalam doa dan kasih. Semoga dengan kehadiran Bapa Uskup, kami akan semakin mengalami Kristus yang hadir dalam diri para abdi-Nya yang setia, semakin memiliki iman yang mendalam, kasih yang murni, dan memiliki pengharapan yang tidak sia sia. Semoga para imam/pastor, biarawan dan biarawati, seluruh umat – dari seluruh kategorial: anak-anak, remaja, kepemudaan, kaum ibu dan bapak – bersama seluruh daya dan upaya bersatu hati. Serta, bersinergi tergerak hati untuk bersatu padu membangun Keuskupan Padang ini dalam kepemimpinan Bapa Uskup Mgr. Vitus. Sebagai awam dan seorang pendidik di salah satu sekolah swasta, saya berharap kehadiran Bapa Uskup akan menjangkau dan menaruh perhatian untuk perkembangan dunia pendidikan di keuskupan ini. *

 

Ulian Burju Siadari
Umat Paroki Hati Kudus Yesus, Pangkalan Kerinci, Riau.

Pemkab Siap Bersinergi

Sebagai umat Katolik di Kepulauan Mentawai, kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas hadirnya seorang gembala yang baru. Apalagi Mgr. Vitus dipandang cukup mengerti dan memahami tentang Mentawai. Dalam satu percakapan yang ditayangkan lewat Channel Komisi Komsos Keuskupan Padang, beliau menyatakan sangat peduli dan care dengan Mentawai. Tentu saja, hal demikian menjadi pertanda yang sangat bagus bagi umat di Mentawai.

Saya punya harapan berfokus pemberdayaan umat Katolik Kepulauan Mentawai, apalagi dari konteks wilayah, umat Katolik banyak di Kepulauan Mentawai. Dalam konteks pemberdayaan umat, memang masih memprihatinkan. Setahu saya, dari aspek sejarah, Gereja Katolik di Keuskupan Padang yang mendirikan sekolah, balai pengobatan/poliklinik. Sekarang, tampak agak mundur.  Maka, bagaimana upaya kita untuk membangkitkan kembali umat Katolik dan masyarakat luas di Kepulauan Mentawai. Sekarang, Kepulauan Mentawai telah menjadi kabupaten membutuhkan tenaga-tenaga terampil dan memiliki hati untuk pembangunan semua bidang.

Untuk hal demikian, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai dapat bersinergi dengan Keuskupan Padang demi kesejahteraan bersama, termasuk umat Katolik setempat. Pada tanggal 7 November 2021, kami mengundang Bapa Uskup datang ke Tuapeijat, ibukota kabupaten. Saya memperkenalkan Bapa Uskup kepada segenap jajaran instansi vertikal yang ada di pemerintah kabupaten dan utusan kelompok masyarakat yang ada. Kita dapat membangun kerja sama serentak. Kemarin (6/10), saya bersama Gubernur Sumatera Barat menyambut kedatangan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia (Nunsius) dan Bapa Kardinal di BIM, saya kira sungguh luar biasa sambutan Gubernur Mahyeldi. Ini pertanda kerja sama dan bergandengan tangan semua pihak demi pembangunan daerah ini, Sumatera Barat, termasuk Kepulauan Mentawai.

 

Yudas Sabaggalet, SE, MM
Bupati Kepulauan Mentawai

Menyebar Virus Belas Kasih

Sepengetahuan saya, saat belajar  (lisensiat dan doctoral) di Roma-Italia, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX telah mengenal dan terlibat dalam aktivitas Komunitas Sant’ Egidio (KSE).  Bahkan, kala itu, beliau terlibat sangat intens dan mendedikasikan dirinya dalam aktivitas KSE. Setiap Minggu, beliau memberikan pelayanan liturgi untuk teman-teman yang kami layani di pinggiran Kota Roma. Saat itu, beliau ikut aktif pada aktivitas pembagian makanan bagi kalangan miskin di jalan dan terminal.

Boleh dikatakan, pengalaman dan persahabatannya  dalam KSE tidak bisa tergantikan dan telah mendarahdaging. Ketika kembali ke Indonesia, beliau juga membantu KSE di Jakarta; terkhusus dalam pelayanan liturgi. Saya harus katakan, KSE sangat terbantu dengan keikutsertaan Pastor Vitus kala itu. Saat itu, beliau turun tangan langsung dalam pelayanan bagi opa-oma di panti jompo. Saat pertemuan dua tahunan KSE dengan para rohaniwan, Pastor Vitus membantu sebagai penerjemah bahasa. Boleh dikatakan, keterlibatan Pastor Vitus (kini Uskup) intens di KSE.

Tidak mengherankan, tatkala pengumuman uskup baru Keuskupan Padang, 3 Juli 2021, disebutkan namanya, pikiran banyak pihak terarah sebagai Konfrater Xaverian. Ketika tahu ada “aktivis” KSE Jakarta terpilih sebagai uskup, warga KSE di Padang, Pekanbaru, dan Duri bersuka cita, gembira, dan bahagia. Kami sangat bergembira karena seorang pastor yang membantu KSE terpilih sebagai Uskup Padang. Apalagi dalam catatan sejarah, KSE pertama kali hadir di Indonesia bermula dari Kota Padang (1990). Boleh dikatakan, Tuhan mengutus seorang uskup untuk membantu dan merawat ‘warisan’ Sant’ Egidio yang ada di Keuskupan Padang.

Dengan terpilihnya Pastor Rubi sebagai Uskup Padang, kami warga KSE menjadi lebih bersemangat. Semoga kami bisa membantu Bapa Uskup dalam menampilkan wajah Gereja yang lebih manusiawi dan berbelas kasih. Kami merasa mottonya Misericordia Motus, sangat dekat dengan spiritualitas KSE. Secara pribadi, saya berharap warga KSE dapat menjadi pembawa ‘virus belas kasih’ di Keuskupan Padang. Idealnya, belas kasih pun bisa diviralkan dalam doa dan pelayanan. Semoga ‘virus-virus’ ini bisa menyebar ke segenap pelosok Keuskupan Padang.

 

Ignatius Respati Teguh Budiono
Penanggung Jawab Komunitas Sant’ Egidio Wilayah Indonesia dan Filipina.

Sayang Sekali kami Terlambat Datang

Kami berdua (Moerdani Taporuk  dan Bartolomeus Terang Enung Tapondhadhai) utusan awam Paroki Stella Maris-Betaet, Siberut Barat, Mentawai,  sangat kecewa tidak bisa mengikuti  perayaan iman yang besar dan bersejarah ini. Kami  terlambat datang.  Kami tiba di gereja Katedral sekitar jam satu siang, karena terkendala cuaca, kapal yang kami tumpangi terlambat berangkat (delay).  Beruntung parokus kami, Rm. Abel de Deus Maia, Pr. karena mengurus berbagai keperluan dan urusan berangkat menuju Padang terlebih dahulu.

Kami menyiapkan diri agar dapat ikut serta menjadi saksi peristiwa bersejarah Keuskupan Padang ini. Kami mempelajari jadwal kapal yang melayani rute Betaet (Siberut Barat), dermaga Pokai (Siberut Utara), dan dermaga pelabuhan Muara atau Bungus-Kota Padang.  Kami menentukan waktu keberangkatan ke Padang dengan memperhitungkan jadwal kapal dan kondisi cuaca. Kami sepakat berangkat antara 28 September 2021 agar dapat berangkat ke Padang pada 2 Oktober 2021 dengan kapal cepat “Mentawai Fast”.

Sayangnya, rencana tersebut terhalang kondisi alam. Badai dan laut bergelora, sehingga tidak memungkinkan pelayaran di laut; terutama di pantai barat Pulau Siberut. Kami berkoordinasi dengan pemilik speedboat untuk menumpang, pada 5 Oktober 2021 karena masih pas waktunya ‘mengejar’ keberangkatan kapal cepat. Namun, muncul kendala baru, speedboat pun tidak bisa berangkat pada tanggal tersebut.

Urung menumpang kapal cepat “Mentawai Fast”, kami cari alterntif lain. Ada jadwal kapal penyeberangan “Gambolo”, dari Pokai (Sikabaluan) menuju Bungus-Padang pada Rabu (6/10) malam. Kalau semua lancar, masih memungkinkan, karena kapal berangkat jam sembilan malam tiba di Padang diperkirakan pukul tujuh pagi. Masih memungkinkan mengikuti Perayaan Tahbisan Uskup (7/10) yang dimulai pukul sepuluh pagi. Kami selalu berkonsultasi dengan pastor yang telah terlebih dahulu ada di Padang. Kalaupun agak terlambat tiba di lokasi, tidak jadi persoalan. Pastor juga telah mengkonsultasikan kepada panitia tentang pelaksanaan tes antigen sebagai syarat masuk ke lokasi perayaan.

Hanya saja, yang terjadi, karena sejumlah kendala di dermaga Pokai, kapal “Gambolo” terlambat berlayar. Kapal yang seharusnya mulai berlayar pukul sembilan malam, delay  menjadi jam dua dini hari. Terlambat lima jam dari jadwal semula akibat lamanya waktu buruh memuat hasil bumi dan terjadi insiden kecil yang menimpa truk pengangkut barang – tersangkut di gerbang kapal. Malam itu kami berpikir dan mempertimbangkan untuk membatalkan keberangkatan saja.  Akhirnya, kami sepakat tetap berangkat dan berharap bisa ikut serta dalam perayaan tahbisan uskup. Malam itu, kami benar-benar tidak bisa menikmati pelayaran. Kami tiba di Pelabuhan Bungus-Padang tengah hari (7/10), pukul dua belas siang.  Kami tiba di kompleks gereja Katedral Padang pukul satu siang. Perayaan tahbisan telah berakhir. Yang tampak hanya sejumlah umat saja. Suatu hal yang sungguh mengecewakan, namun kami tidak mau menyalahkan siapa-siapa.

Dari pengalaman ini, saya berharap Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX mengobati kekecewaan kami,  dan agar memberikan perhatian kepada Paroki Betaet yang baru berumur tiga tahun. Dilihat dari segi fasilitas pendukung operasional paroki – baik untuk pelayanan bagi umat maupun pengurusan ke luar paroki – masih sangat minim. Di paroki kami, juga kekurangan sumber daya manusia, militansi umat, sarana dan prasarana penunjang pastoral. Dari 15 stasi di paroki kami, selain pusat paroki, lebih dari setengahnya bangunan gereja sudah lapuk. Untuk membangun gereja baru bukanlah hal mudah bagi umat, karena keterbatasan kemampuan ekonomi untuk berswadaya. Karena kurangnya militansi dan semangat,  umat cenderung menunjukkan sifat acuh-tak acuh terhadap pelayanan imam dan Gereja. Sebagai informasi, 99 persen umat Katolik Paroki Betaet berdiam di sebelas stasi yang ada di Wilayah Simatalu (mayoritas Katolik). Sementara di Wilayah Simalegi, masyarakatnya heterogan (Katolik, Protestan, dan Islam). Dengan kondisi ini, bagaimana agar umat di stasi Wilayah Simatalu tetap teguh, bertekun, dan bertahan  dengan agama dan iman Katolik. Mereka tidak mudah pindah agama hanya karena bujukan atau rayuan pihak lain.

Untuk mengatasi hal ini,  salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dukungan pada program paroki untuk  memperbanyak kegiatan rohani dan peningkatan fasilitas peribadatan bagi umat stasi. Kami mengharapkan kunjungan pastoral Uskup setidaknya sekali setahun. Dengan kedudukan Paroki Stella Maris-Betaet yang tidak memiliki akses jalan darat saat pengurusan ke luar paroki, maka sudah sepantasnyalah paroki memiliki alat transportasi laut.

 

Moerdani Taporuk
Umat dan tenaga sekretariat Paroki Stella Maris, Betaet,
Siberut Barat, Kepulauan Mentawai

Pesan Seorang Xaverian untuk Mrg.Rubi

Saya mengetahui Pastor Vitus Rubianto Solichin, SX dipilih Bapa Suci Paus Franciskus sebagai Uskup Padang dari “Warta Vatikan”. Media hampir setiap hari saya baca. Tetapi, jauh sebelumnya saya punya keyakinan,  P. Rubi (panggilan akrab) pasti dipilih. Saya tahu, beliau telah dipanggil oleh Nunzius Vatikan beberapa kali. Hal itu tidak (merupakan) rahasia lagi di komunitas kami. Secara bergurau, kami mulai memanggilnya  Monsignor.  Maka, saat pengumuman uskup baru Keuskupan Padang (3/7), saya tidak merasa heran lagi dan senang saja. Kepada para frater saya katakan, “Inilah suatu pengakuan dan penghargaan atas karya di Keuskupan Padang, para pendahulu misionaris Xaverian. Kita perlu bersyukur kepada Tuhan atas anugerah itu.”

Saya memang dipanggil oleh Nunzius untuk berbincang-bincang tentang figur dan siapa Uskup Padang nanti. Selain lisan, Nunzius juga meminta informasi tertulis. Saya tidak merasa heran (bila) Mgr. Rubi dicalonkan sebagai Uskup, karena sudah dikenal baik sebagai dosen di kalangan mahasiswa, maupun di tengah umat – sebagai pembina pendamping Kelompok Kitab Suci (KKS) dan Lectio Divina di paroki-paroki, bahkan sampai diminta untuk hal itu di luar Jakarta. Selain itu, sewaktu masih frater dan diakon, punya pengalaman berpastoral di Kepulauan Mentawai – suatu daerah dengan cukup banyak tantangan. Memang waktunya terlalu singkat, tetapi selalu diingat sebagai sesuatu yang sangat memperkaya sebagai misionaris.

Saya mengenal Mgr. Rubi (panggilan akrab) saat baru pindah tugas dari Padang ke Yogyakarta. Saat itu, beliau sedang menjalani tahun terakhir teologi sebelum tahbisan imam. Setahun, kami hidup bersama di komunitas para frater Teologan. Kala itu, saya paling terkesan dengan bakat melukisnya, terutama membuat karikatur.

Saat ulang tahun, 11 Oktober 1996, beliau membuatkan karikatur saya yang begitu bagus. Saya membingkai lukisan karikatur itu, hingga kini tergantung di dinding kamar. Bagi saya, hal ini suatu kenangan indah. Sekitar tujuh tahun kemudian, kami bertemu lagi di komunitas para frater di Jakarta, tempat beliau ditugaskan sebagai Rektor. Kami hidup bersama selama tujuh tahunan.

Saat itu, saya heran. Beliau tidak melukis lagi. Aneh sekali, bakatnya begitu hebat, lalu stop total. Saya tidak berani menanyakan alasannya. Akhirnya, saya tahu  dari teman seangkatan yang juga bakat melukis, alasan stop melukis karena memilih fokus studi Kitab Suci.

Tatkala saya mendengar namanya termasuk salah satu calon Uskup Padang, dua perasaan saya. Pertama, senang karena orangnya punya visi Gereja masa depan yang bagus dan sangat mendekati visi Paus Fransiskus. Saya yakin Mgr. Rubi terbantu memiliki visi itu,  baik saat studi Kitab Suci di Roma, maupun di waktu formator para frater. Selama dua periode itu, saat Mgr. Rubi di Roma maupun Jakarta, bukan hanya bersimpati tetapi terjun langsung juga dalam kegiatan Komunitas St. Egidio. Hal itu cukup menentukan pandangannya tentang Gereja dan sebagai gembala, yaitu cinta kepada kaum kecil/miskin, yang adalah kekayaan Gereja dan dialog terbuka dengan semua agama disemangati oleh doa dan Sabda Tuhan.

Perasaan kedua, saya senang Konfrater Xaverian yang akan memimpin keuskupan  – walaupun muda telah didewasakan sampai saat ini oleh banyak konfrater Xaverian terdahulu. Jadi, pastilah Mgr. Rubi akan melanjutkan karya-karya mereka bersama seluruh klerus sesuai perkembangan zaman untuk semakin mendewasakan umatnya.

Harapan saya kepada Mgr. Rubi,  pertama, sesuai keahliannya, menanamkan cinta akan Sabda Tuhan di tengah umat  sebagai sumber kehidupan kristiani dan kasih terhadap semua manusia tanpa kecuali.  Kedua, supaya tidak lupa, tetaplah sebagai seorang Misionaris Xaverian, karena itu bisa menanamkan semangat misioner di tengah seluruh umat.  Ketiga, supaya tidak lupa semangat yang didapat melalui karya di Komunitas St. Egidio, yaitu perhatian terhadap kaum miskin, terlantar, dan yang diangap sampah masyarakat disertai dialog dengan orang yang beragama lain. Keempat, supaya betul fokus pada umat; yaitu “gembala yang berbau domba” – sesuai anjuran  Paus Fransiskus – dan belajar dari domba-dombanya. Semuanya itu menuntut supaya tidak tergoda oleh tugas-tugas lain yang mungkin ditawarkan karena kepintarannya. Kebutuhan umat dan klerusnya  mestilah didahulukannya di atas segala tugas lain betapapun penting. Umat dan klerus projo maupun religius perlu berjalan kompak dalam kasih bersama Gembalanya.

Saya sebagai konfraternya akan tetap mendoakanya. Bersama seluruh umat Keuskupan Padang yang masih memiliki tempat besar dalam hati saya – karena adalah umat yang telah saya layani selama duapuluh tahun pertama saya di Indonesia.

 

P. Rodolfo Ciroi, SX
Misionaris Xaverian pernah menjadi Ketua Komsos dan Komkat Keuskupan Padang

Dari Dialog Iman Menuju Dialog Karya

(Pekerjaan Rumah  yang Belum Selesai)  – Sebuah Kesan Sudarto)

 

Secara pribadi saya sudah mengenal nama Mgr.  DR.  Vitus Rubianto Solichin,  SX,  namun belum terjadi komunikasi intensif.   Suatu ketika sahabat senior saya, Mas Budhy Munawar Rahman – dosen Universitas Driyarkara, memberitahu bahwa Romo Rubi terpilih menjadi Uskup Padang – menggantikan almarhum Mgr.  Martinus Dogma Situmorang,  OFM.Cap yang telah dipanggil Tuhan (2019). Ingatan saya menerawang. Yang manakah Romo Rubi.

Tidak lama berselang,  saya ketemu teman baik saya, Yosep Bejo Prakoso. Kami berbincang-bincang soal terpilihnya Romo Rubi sebagai Uskup Padang.  “Mas Darto kan pernah ketemu  Romo Rubi di Biara Xaverian Cempaka Putih Jakarta! Saat itu Xaverian mengundang Ulil Abshar Abdalla dalam diskusi bertema Memahami Keilahian Yesus dalam Perspektif Agama-Agama.”  kata Pak Yosef.  Barulah saya ngeh tentang sosok Romo Rubi.

Kemudian saya beberapa kali saya japri  Mgr. Vitus untuk mengundang minum kopi sore di sekretariat PUSAKA Jalan Veteran Padang.  Tapi sayang,  batal karena hujan deras dan cukup lama hingga akhirnya terjadi genangan air di banyak titik di Kota Padang.

Kesan pertama saya terhadap Mgr. Rubi, meminjam iklan produk:  Sudah menggoda, selanjutnya terserah Anda!”    Uskup Rubi terlihat supel,  ramah,  dan suka ketawa.  Saya membayangkan sosoknya juga suka guyon dan joke-jokean lintas iman yang menggelitik, lucu tetapi tidak kehilangan substansi.

Pertemuan perdana saya dengan Mgr. Vitus sehari setelah Tahbisan Episkopalnya, usai misa perdana di Biara Serikat Xaverian, Padang.  Sebelumnya, saya sudah japri beliau untuk menyampaikan ucapan selamat setelah penahbisan menjadi uskup dan bapa utama bagi umat Katolik di Keuskupan Padang. Saat perjumpaan perdana tersebut, saya selipkan ucapan selamat menjalankan tugas berat mengurus umat yang banyak, dengan wilayah yang tidak dekat, dan tentu agak sulit untuk bisa bertemu ngopi yang tertunda.  Beliaupun tertawa.  Ternyata tidak meleset dugaan saya.  Mgr. Rubi murah senyum, bahkan ketawa. Saya pun tidak merasa formal lagi, tentunya tanpa kehilangan rasa hormat kepada beliau.

Masih terus terngiang dan terus segar dalam ingatan saya pernyataan Uskup  Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap kepada saya di ruang kerjanya.  “Kita tidak bisa mampu berbuat segalanya dan tidak elok merasa bahwa kita paling berjasa dan bisa menyelesaikan sendirian! Kita butuh orang lain dan butuh saling menguatkan serta subsidiaritas untuk persoalan kemanusiaan bersama.” tutur Mgr. Martinus.  Sungguh benar pernyataan almarhum Mgr. Martinus.  Kami menyadari untuk mewujudkan dialog karya, belum mampu kami ejawantahkan bersama. Kami baru pada tahap dialog antar iman sembari membangun kepercayaan (trust building) secara lebih luas. Hal itu pun mengalami ‘pasang naik dan turun’.

Saya mendengar Mgr. Vitus aktif dan concern pada upaya-upaya dialog lintas iman. Tentu saja hal ini menjadi “gayung bersambut” untuk menuju dialog yang lebih substantif antariman menuju dialog kerja hingga akhirnya dialog pengalaman rohani dan spiritualitas. Suatu hal yang saya rasakan bersama almarhum Mgr.  Martinus yakni masih menjadi Pekerjaan Rumah Bersama (PRB); yakni rumah kita Indonesia tercinta.

Selamat mengemban tugas penggembalaan di Keuskupan Padang Mgr. Rubi yang sholeh (Solichin).  Nama ini berakar kata yang sama dengan kata aslah artinya kebaikan dalam bingkai: 1) mengambil yang lama – yang baik,  dan mengambil yang baru – yang lebih baik (al muhafazah ‘ala qadimi shalih wa al ahzu bila jadidin aslah). 2) Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa bukan dalam dosa dan bukan kejahatan (taawanu a’la al birri wa taqwa,  wala taawanu a’la ismi wal’udwan).

Dengarkan Doa Umat

Menurut Ferdinand Fredy Ramli, umat Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang, terpilihnya uskup baru menunjukkan Tuhan itu baik dan sayang pada umatNya. “Tuhan mendengarkan doa umatNya di Keuskupan Padang dan tidak membiarkan umat terus berada dalam situasi tidak bergembala. Saya yakin setiap umat Katolik akan sangat mendambakan perjumpaan dengan uskup baru. Hanya saja patut diperhitungkan situasi sekarang, dalam masa Pandemi Covid-19. Secara khusus, saya berharap Bapa Uskup juga mengarahkan perhatian pada pendampingan Orang Muda Katolik (OMK) yang membutuhkan media dan sarana untuk mengekspresikan diri serta iman – sesuai dengan jiwa muda, media dan sarana penyaluran talenta/bakat/hobi yang dapat menunjukkan identitas sebagai OMK,” ucapnya.

Seorang warga Stasi Santa Maria Diangkat ke Sorga-Kinali, Paroki Keluarga Kudus-Pasaman Barat, Andrianus Budi Setia menyampaikan beberapa pengharapannya. Ia berharap Uskup Vitus melaksanakan tugas pelayanan dengan bahagia, suka cita, tidak membeda-bedakan umat, selalu mengacu pada ketentuan Gereja sehingga dapat menjadi Gereja yang mandiri dan berbuah. Dalam konteks kemasyarakatan, Budi berharap dapat terjalin solidaritas di antara umat lintas agama.

Budi menaruh harapan Uskup Vitus memberikan perhatian, dukungan, dan semangat bagi OMK; agar terbentuk OMK yang mempunyai jiwa patriot dan berjuang untuk Gereja. “OMK dapat menjadi banteng terdepan Gereja, namun OMK pun butuh dukungan moril dan materil. Memang, disadari orang muda rentan dengan dampak perkembangan zaman dan lingkungan sekitar yang kadang membuat lupa jati diri sebagai OMK yang mestinya bertumbuh dalam iman Katolik.

Salah satu tokoh umat Paroki St. Petrus Claver-Bukittinggi, Antonius Didik Trianto berharap dasar-dasar kehidupan Gereja di Keuskupan Padang sebagai Gereja yang mandiri dan berbuah – sebagaimana telah diletakkan almarhum Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM Cap. – semakin mewujud. “Semoga Uskup Vitus bersama para imam, biarawan-biarawati, dan awam semakin menumbuhkembangkan kemandirian-kemandirian tersebut. Juga, semoga tata kelola yang menyangkut komisi/lembaga/yayasan serta organisasi di bawah naungan Keuskupan Padang dibenahi, selaras dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman. Reksa Pastoral atau Arah Dasar Keuskupan perlu segera dirumuskan, sebagai acuan dan indikator karya pastoral Gereja. Saya berkeyakinan dengan membangun dialog dan kerjasama dengan Dewan Keuskupan, Dewan Imam, lembaga hidup bakti, serta para tokoh awam di keuskupan ini, harapan-harapan tersebut bakal,” tandasnya.

Salah satu umat di pelosok Paroki Stella Maris-Betaet, Siberut Barat, Mentawai, Laurensius Sakulok berharap uskup baru dapat segera berkunjung dan memberkati bangunan gereja Stasi St. Petrus-Simalibeg. “Boleh dikatakan, gereja ini sebagai gereja yang pertama kali diberkati tidak lama setelah tahbisan uskup. (Bangunan) Gereja baru oleh uskup baru,” tukasnya.

Salah satu umat Paroki St. Fransiskus Assi, Padang, Yudi Agus Saptoyo mengaku kenal dengan Mgr. Vitus tatkala aktif dalam kegiatan Muda Mudi Katolik (Mudika-kini OMK, Orang Muda Katolik) di gereja paroki. Saat masih daikon dan setelah ditahbiskan sebagai imam, Juli 1997. Dalam penggembalaan umat di Keuskupan Padang, Yudi berharap uskup baru tetap menghidupi semangat dan cita-cita luhur pendiri Serikat Xaverian – St. Guido Maria Conforti, yakni menjadikan dunia dalam satu keluarga dengan misi mewartakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. “Hal ini sesuai fakta di lapangan, umat Katolik Keuskupan Padang adalah sekawanan kecil domba yang hidup dan bergumul di tengah orang yang belum mengenal Kristus, ucapnya.

Sebab itu, dalam segala karya dan pelayanannya, Yudi berharap uskup baru dalam semangat “Kasih Kristus” mampu mendorong (Caritas Christi Urget Nos), mendukung, menyemangati, dan menyertai umat gembalaannya agar lebih berani bersaksi sebagai murid-murid Kristus. Caranya, dengan menyuarakan suara kenabian melalui tingkah laku hidup jujur, berani, tegas menolak ketidakadilan, serta bertanggung jawab atas panggilan hidupnya masing-masing. “Umat Katolik mestinya mampu memberi teladan hidup yang baik, menjadi saudara bagi sesama dan harus lebih berani menjadi berkat bagi sesama melalui keteladanan, kepedulian dan keterlibatannya di tengah-tengah masyarakat tanpa takut dianggap menjilat dan sok jadi pahlawan. Dengan latar belakang uskup baru sebagai ahli Kitab Suci, saya berharap umat Katolik Keuskupan Padang dapat sebagai satu keluarga sekaligus sebagai ‘Kitab Suci yang hidup’ dalam mewartakan Kabar Suka cita Injil terutama kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus,” tandasnya. (dirangkum oleh hrd)

Umat: Ikut Bangga

Sementara itu, salah satu warga Paroki St. Petrus-Tuapeijat, Mentawai, Xaverius Adi Saogo menyatakan ikut bangga atas terpilihnya uskup baru, Mgr. Vitus, merupakan sosok baik. “Setidaknya saya pernah merasakan semasa Mgr. Vitus masih sebagai frater di Paroki Sikabaluan, sekian tahun silam. Wilayah Mentawai tidak asing lagi. Mampu di Pulau Siberut berarti sudah hebat dan luar biasa.  Secara khusus, saya berharap Bapa Uskup memerhatikan perkembangan umat dan sekolah-sekolah Katolik. Saya prihatin melihat minat masyarakat sudah mulai berkurang untuk melirik sekolah Katolik, padahal dulunya merupakan sekolah yang sangat diminati namun kini sepi, gurunya pun kerap silih berganti atau tidak betah,” ungkapnya.

Salah satu warga Paroki St. Damian-Saibi, Siberut Tengah, Mentawai, Kristinus Andre Satoko mengungkap terjawab kerinduan umat Katolik Keuskupan Padang. Andre mengaku kenal figur uskup ini tatkala dirinya sebagai salah satu peserta didik/murid SMP Yos Sudarso 2 Siberut, Mentawai. Saat itu, Uskup Vitus masih sebagai frater Xaverian. Saat itu, Andre pernah beberapa kali berkirim surat ke Seminari Xaverian di Jakarta. “Saya ingat, figur Frater Vitus adalah sosok sangat baik, rendah hati, dan suka tersenyum. Layaklah beliau sebagai ‘gembala’ kita. Sederhana saja saya berharap Uskup Vitus sesegeranyalah menggembalakan umat Katolik Keuskupan Padang dan melayani sepenuh hati. Semangat penggembalaannya menjadi kehidupan iman kita,” kata Andre.

Salah satu tokoh umat Katolik Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat, Bartolomeus Kefi mengaku gembira terpilihnya Mgr. Vitus sebagai Uskup Padang. Sebelumnya, sekian bulan sede vacante Keuskupan Padang seolah berlayar tanpa nakhoda – uskup sebagai gembala. “Dengan hadirnya uskup baru, Mgr. Vitus, keuskupan ini kembali berbenah untuk mencapai Gereja yang mandiri dan berbuah. Saya dan umat lainnya berharap Bapa Uskup dapat menjadi pemimpin yang sanggup menggembalakan umatnya, dapat beradaptasi dengan berbagai umat yang sangat beragam/majemuk latar belakangnya,” tukasnya.

Pada kesempatan lain, tokoh umat Paroki St. Fidelis A Sigmarinda-Payakumbuh, Thomas Wiryo Pranoto menyampaikan pesan singkatnya berupa harapan, “Semoga, setelah adanya uskup baru, pelayanan umat dapat semakin lebihbaik, kehidupan menggereja semakin berkembang, dan didapatkan solusi/jalan keluar dari permasalahan yang ada di paroki. Sebagai gambaran, dirasa perlu adanya pelatihan untuk pengembangan tenaga awam di Paroki Payakumbuh, atau dipandang perlu adanya penempatan katekis.”

Lain lagi komentar dari salah satu umat Paroki Katedral St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Padang, Veridiana Somanto. Dinyatakannya, penantian yang cukup lama umat Katolik di keuskupan ini berbuah manis. Terpilihnya Mgr. Vitus dari Serikat Misionaris Xaverian mengingatkannya kembali pada kenangan masa lalu. Pada tahun 1967, sambung Veridiana, almarhum Mgr. Raimondo C. Bergamin yang juga dari Serikat Misionaris Xaverian berkunjung ke Paroki Payakumbuh memberikan Sakramen Krisma. “Saya sangat terkesan atas figur almarhum yang sangat kebapakan. Semoga Uskup Vitus bisa menjadi ‘duplikat’ beliau, merakyat, dekat dengan umat, dan ada waktu blusukan,” harapnya.

Di kesempatan ini, Veridiana menyampaikan prihatin atas minimnya tenaga imam dan jumlah awam yang mampu mandiri di rayon/kring/lingkungan. “Perlu berkesinambungan latihan dan pembinaan para pengurus rayon, sehingga cakap memimpin kegiatan rohani. Semoga dengan latar pengalaman Mgr. Vitus pernah sebagai tenaga pengajar dan dosen, umat terpanggil dan mau mengikuti pembinaan,” ucapnya.

Aktivis perempuan yang menjabat Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Katedral Padang ini berharap uskup baru mampu menjalin hubungan baik dengan Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta diterima di tengah masyarakat Sumatera Barat yang berfalsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) sehingga terjaga dan meningkat silaturahmi kerukunan umat beragama di Ranah Minang ini. “Kami, umat gembalaan uskup, akan senantiasa mendengar, mendukung, dan melaksanakan setiap kebijakan serta kegiatan yang diadakan melalui paroki masing-masing. Kami sambut Bapa Uskup dengan suka cita yang besar,” ucap Veridiana.

Awam Katolik lainnya di Paroki Katedral Padang, Lauwwira bersuka cita adanya uskup pengganti yang baru dan berharap “lebih merangkul” dan mengayomi setiap langkah yang baik dari berbagai lapisan umat Katolik di sini. Lauwwira melihat perlunya upaya dan langkah agar tetap ada keberadaan umat Katolik di pemerintahan dan lembaga legislatif.