Category Archives: Fokus

Pengaruh Pandemi Tak Berarti

Gultom Gerhard Sinaga
Koperasi Konsumen Serba Usaha (KKSU) CU ‘Hati Nurani’ Bondar, Desa Tambusai Barat,
Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu-Riau.

“Mulanya, kami bergerak pada usaha simpan-pinjam, sesuai kebutuhan anggota, kini punya usaha lain. Unit simpan-pinjam tetap menjadi usaha pertama dan utama Koperasi Konsumen Serba Usaha (KKSU) CU ‘Hati Nurani’ Bondar, Desa Tambusai Barat, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu-Riau. Hingga 31 Desember 2020, koperasi ini punya 6.597 anggota, total aset 125 Miliar Rupiah,” kata Gultom Gerhard Sinaga (46) koperasi ini.
Di wilayah Paroki St. Ignatius Loyola-Pasir Pengaraian, Riau, selain itu (KKSU) CU ‘Hati Nurani Ada juga satu koperasi sejenis lainnya Pandemi Covid 19 yang telah berlangsung lebih setahun ini mengguncang sendi-sendi kehidupan perekonomian masyarakat.Banyak terjadi kelesuan usaha, pemutusan hubungan kerja (PHK), pe-rumah-karyawan dan mengarah pada resesi ekonomi. Akan tetapi kondisi itu tidak berpengaruh pada koperasi ini. Pertambahan jumlah anggota menjadi 7.335 orang dan aset mencapai 133 Miliar Rupiah pada 27 Mei 2021. Pertumbuhan aset dan anggota berlangsung normal, bahkan bertambah enam staf/karyawan yang mengikuti pelatihan (training). Total ada 24 karyawan dan satu manajer,” tambahnya.
Sejak menjadi manajer pada 2012 hingga kini, Sinaga menilai tiadanya pengaruh buruk secara ekonomi pda koperasi. Sembilan puluh persen anggota kami petani kelapa sawit! CU ini terus menggeliat dan bertumbuh. Itu artinya masyarakat tidak percaya pada koperasi ini.Enam bulan pertama setelah dinyatakan resmi sebagai pandemi oleh pemerintah, sempat terjadi banyak anggota terpengaruh oleh opini yang berkembang lewat media massa dan media sosial. Tetapi itu hanya sebentar!
Dapat dikatakan, pinjaman kredit/utang di kalangan anggota CU kami tidak ada permasalahan karena sebenarnya mampu mengangsur. Opini umum yang berkembang kala itu memang sempat ‘menggelisahkan’ walau kala itu karyawan yang bergaji di bawah lima juta memperoleh ‘tambahan penghasilan’, berupa bantuan langsung tunai sebesar enam ratus ribu Rupiah setiap bulan selama empat bulan. Operasional CU kami berlangsung normal saja hingga kini,” tambah Sinaga – salah satu perintis dan pendiri koperasi ini pada 9 September 2002.
Meski pandemi Covid-19 tidak menghambat, namun tetap melakukan sosialisasi yang berkelanjutan pada anggota maupun calon anggota. Biasanya, lanjut Sinaga, sosialisasi melalui gereja dan para ketua kelompok. Kini ada 22 ketua kelompok. Setiap kelompok wajib menyelenggarakan pendidikan tentang CU, minimal dua kali setahun. “Bagi kami, yang utama dan pertama, kehadiran CU ini menjadi kebutuhan anggota dan masyarakat dengan pelayanan yang baik; bukan sebaliknya. Di beberapa tempat, kehadiran CU menjadi kebutuhan pengurus, bukan anggota, sehingga mengalami banyak hambatan. Sungguh membanggakan karena keberadaan CU ini mendapat dukungan dari paroki.
Sinaga menjelaskan, dari keanggotaan, sekitar 20 persen anggota CU ini beragama Katolik, selebihnya Protestan dan Islam. Selain usaha simpan-pinjam, CU ini bergerak pada penyediaan pupuk untuk pertanian dan perkebunan. Untuk menambah aset, KKSU CU ‘Hati Nurani’ memiliki kebun kelapa sawit seluas 70 hektar. Kami berencana membuka Pertashop bekerja sama dengan Pertamina. Selama ini, pelayanan dan penyaluran kredit/pinjaman berlangsung lancar. Tidak ada kendala. Angsuran kredit anggota pun lancar meski dalam pandemi dan resesi sekalipun. Kalaupun ada kredit macet, di CU kami di bawah 2 persen, sementara ukuran/standar berstatus sehat bila di bawah 5 persen. Diakui atau tidak, kehadiran CU harus berdampak positif bagi masyarakat. Karena itu, setiap insan CU harus mempraktikkan nilai-nilai CU dengan baik dan benar, serta diaplikasikan dalam pelayanan anggota. Saat anggota terlayani dengan baik, citra koperasi dan pengurus di tengah masyarakat akan baik pula. Kepercayaan publik pun bertambah. Tatkala publik percaya, CU eksis selamanya, sebab dasar CU adalah kepercayaan dan kerja sama,” tukas mantan Ketua Stasi Silayang-layang, Paroki Pasir Pengaraian periode 2011-2018 berpikir. (selai)

Silat Milik Bersama

Dionisius Frans Sidabutar (16) ingin ‘mematahkan’ anggapan miring seolah-olah olah raga pencak silat hanya “milik” penganut agama tertentu. Saat kelas VII SMP Xaverius Bukittinggi, ia mengajak beberapa temannya yang Katolik mengikuti olah raga ini dalam Perguruan Pencak Silat (PPS) Ganggang Sapadi, Bukittinggi. Ia tertarik,  karena cabang olah raga ini salah satu kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolahnya.