Category Archives: Lintas Peristiwa

Dari Rumah untuk Indonesia

PEKANBARU –  Melalui Zoom Meeting, Bimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi  Riau mengadakan “Doa Bersama untuk Indonesia Sehat”. Acara sebagai tindak lanjut dari himbauan Menteri Agama yang diteruskan Dirjen Bimas Katolik kementerian Agama RI  ini diikuti 40 peserta dari berbagai penjuru wilayah Riau.  Empat puluh peserta ini adalah  Pastor Memo Arias, SX (perwakilan para pastor se Riau), Pengawas, Penyuluh PNS dan Non PNS, Guru PNS dan Non PNS Katolik, Pengurus LP3KD Provinsi Riau, Pengurus Pemuda Katolik Komda Riau, Pengurus Wanita Katolik RI DPD Riau, Pengurus PMKRI Cabang Pekanbaru, Pengurus LP3K Kota Pekanbaru, Pengurus PK Komca Kota Pekanbaru, Pengurus Wanita Katolik RI Cabang dan Ranting Kota Pekanbaru, Pengurus Lembaga Agama dan Keagamaan Katolik Kota Pekanbaru.

Doa bersama diawali dengan Doa Rosario bersama, dilanjutkan dengan doa umat dipandu Antonius Suharsono dari Dumai.  Dalam doa umat, perwakilan peserta mendoakan para pasien yang sedang terpapar  maupun yang meninggal Covid-19 baik dari anggota umat Katolik dan masyarakat umum.  Dalam Doa Bersama ini juga ada acara Hening Cipta Indonesia, diakhiri  dengan doa penutup dan berkat oleh Pastor Memo.

Pembimas Katolik Provinsi Riau Alimasa Gea dalam sambutannya menyatakan bahwa tanpa disadari dalam aktivitas seharian kita mungkin menomorduakan doa. Atau berdoa hanya sekedarnya saja dan kurang dihayati secara mendalam. Kalau kita tahu betapa pentingnya doa itu dalam kehidupan, pasti akan menyesalinya. “Oleh sebab itu,  mari bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa seperti yang dipesankan Santo Paulus.  (Roma 12: 12), katanya.

Alimasa menambahkan bahwa doa adalah senjata orang yang beriman, penenang jiwa, dan penumbuh optimisme.  Apalagi  di masa sulit saat ini, kita berharap semoga kejadian luar biasa Covid-19 ini segera berakhir.  Kita yakin, Tuhan akan menyelamatkan setiap manusia dari bencana ini. Semua bencana yang melanda saat ini hendaknya juga menjadi kesempatan  untuk mawas diri bahwa sebagai manusia yang lemah membutuhkan bantuan Tuhan.  Perjuangan total setiap insan dalam melawan wabah belumlah selesai dan belum dapat dipastikan kapan akan selesainya. Dengan doa bersama dan ikhtiar, sambil bekerja dan beribadah dari rumah dapat membantu melawan pandemi.  “Dengan berdoa, kita kuatkan spiritualitas, optimisme, harapan, dan keyakinan bahwa kita dapat menghadapi pandemi ini dan kondisi akan segera kembali normal. Mari terus mendoakan yang terbaik untuk negeri ini. Kita berdoa dari rumah untuk Indonesia,”  katanya. (asterius/komsospku)

Ranting Baru Dalam Masa Pandemi

Di tengah situasi pandemi Covid-19, para perempuan Stasi Santo Stefanus-Sungaipisang, Paroki St. Maria Bunda Yesus, Padang penuh semangat bersatu membentuk wadah organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia. Telah terbentuk resmi ranting baru ditandai pelantikan pengurus Ranting St. Stefania oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Wanita Katolik RI Cabang Santa Maria Bunda Yesus, Padang.

Pembentukan resmi dan pelantikan pengurus Wanita Katolik RI Ranting St. Stefania masa bakti 2021-2024 berlangsung dalam Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan Pastor Rekan Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang, P. Bernard Lie, Pr., Minggu (29/8) siang. Pada kesempatan ini, ikut hadir menyaksikan utusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wanita Katolik RI Provinsi Sumatera Barat, sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC), 15 anggota ranting setempat, dan umat stasi.

Dalam sambutannya, utusan DPD WK Republik Indonesia Provinsi Sumbar, Veronika TPW mengatakan, “Wanita Katolik RI adalah organisasi resmi diakui pemerintah, disahkan Menteri Kehakiman, dan telah berusia sembilan puluh tujuh tahun. Organisasi ini sangat matang dan punya andil dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang jelas, serta menyebar di seluruh pelosok Indonesia. Ranting St. Stefania merupakan ranting ke-49 di wilayah kerja DPD Wanita Katolik RI Sumatera Barat. Mari kita bergandengan tangan dalam program-program kerja agar siap melayani dalam keluarga, Gereja, masyarakat. Anggota Wanita Katolik RI adalah 100% Katolik, 100% warga Gereja, dan 100% warga negara Indonesia.”

Sementara itu, dalam sambutannya usai melantik pengurus ranting, Ketua Wanita Katolik RI Cabang St. Maria Bunda Yesus-Padang, Peraten Florentina br. Ginting, S.Ag menyampaikan harapannya. Peraten mengimbau pengurus ranting dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya serta mengajak kaum perempuan lainnya di stasi ini bergabung dalam wadah Wanita Katolik RI. “Pengurus ranting diminta bisa ikut serta dalam berlangsung pertemuan bersama dengan pengurus ranting lainnya di tingkat cabang,” ucapnya.

Dalam acara ramah-tamah usai Perayaan Ekaristi, Pastor Rekan, P. Bernard mengingatkan kembali isi homili yang disampaikan, “Sebagai pengikut Kristus, termasuk anggota dan pengurus ranting, mestilah satu kata dengan perbuatan. Laksanakanlah karya atau perbuatan kasih sebagaimana pesan dan teladan Yesus, yakni cinta kasih terhadap sesama. Cinta pada Tuhan dan sesama!” tandas P. Bernard.

Wanita Katolik RI Ranting St. Stefania ini diketuai Florensi Tumanggor dibantu tujuh rekannya sebagai pengurus. Pada awal pembentukan ranting ini terdapat 15 anggota. Dalam waktu dekat, pengurus ranting memrogram pertemuan bulanan yang diisi renungan, pembacaan AD/ART, dan pemeriksaan kesehatan.  (Vrtpw/hrd)

Berharap Alumni/Ex DB Makin Berperan

Ketua Pengurus Yayasan Prayoga Padang, P. Dr. Alexander Irwan Suwandi, Pr menyampaikan penghargaan kepada para alumni dan eks/mantan pelajar SMA Don Bosco Padang, yang tergabung dalam wadah Ikatan Alumni/ex Don Bosco (IADB). Hal tersebut disampaikan usai menyaksikan pelantikan pengurus IADB Pusat Padang masa bakti 2021-2025, Selasa (31/8), di ballroom Hotel Axana Padang.

Alex mengingat sejumlah program dan kegiatan yang telah dilakukan pengurus lama (periode 2012-2016 dan 2016-2020) yang bermanfaat bagi para alumni, guru purna bakti, SMA Don Bosco Padang (berupa bea siswa, perhatian pada tim basket ball sekolah, laboratorium dan auditorium), dan masyarakat luas dalam bentuk bakti sosial donor darah. Setamat sekolah, sambungnya, para alumni/ex diharapkan menjadi pribadi individu yang berguna bagi bangsa dan negara. “Itu berarti, sekolah mendidik seseorang menjadi pribadi/individu yang berkarakter baik dan sukses di tengah masyarakat. Layak dan pantas pula sebagai alumni berterima kasih kepada sekolah, bahkan menyatukan para alumni. Kita terpanggil untuk mengabdi dan membantu sekolah yang telah ‘membesarkan dan mendidik’ alumni/ex. Selaku alumni/ex, kita punya hubungan dengan sekolah,” ungkapnya lagi.

Pelantikan pengurus baru IADB Pusat Padang masa bakti 2021-2025 berbarengan dengan peringatan ulang tahun ke-67 SMA Don Bosco Padang. Musyawarah Besar (Mubes) VII virtual silam memutuskan dan menetapkan Dadang Gozali sebagai Ketua Umum IADB Pusat Padang periode 2021-2025. Dari pantauan di lokasi, terdapat 38 personil kepengurusan selain nama-nama yang tergabung dalam Dewan Kehormatan, Dewan Penasihat, dan Dewan Pembina. Sebagian besar kepengurusan berasal dari kalangan muda milenial.

Sementara itu, dalam sambutan perdananya usai pelantikan, Dadang Gozali mengharapkan dukungan para alumni/ex SMA Don Bosco Padang. “Terima kasih pada peserta Mubes VII yang telah memilih saya sebagai Ketua Umum. Amanah ini diupayakan terlaksana dengan sebaik-baiknya. Tanpa dukungan dan kerja sama dari para ketua angkatan, ketua chapter maupun alumni yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia dan luar negeri; kepengurusan ini tidak bisa berlangsung maksimal melakukan program kerja dan kegiatan,” ucapnya.

Dadang menyebut beberapa program dan kegiatan yang pernah berlangsung di waktu silam tetap dipertahankan. Ia mencontohkan pembuatan aplikasi IADB dan arisan IADB. “Khusus arisan, menurut saya merupakan suatu kegiatan yang sangat positif, sebab bisa mengumpulkan para alumni berbagai angkatan. Lewat arisan inilah, para alumni/ex saling kenal sehingga terbentuk keakraban, kekompakan, dan silaturahmi! Para alumni pun tidak perlu sungkan menginput kegiatan angkatannya kepada pengurus agar muat dalam aplikasi digital IADB!” tandas Dadang.

Sembari berterima kasih kepada segenap jajarannya, mantan Ketua Umum IADB Pusat Padang dua periode (2012-2016, 2016-2020), Herman Shovaldo menyampaikan ucapan selamat kepada ketua umum baru terpilih beserta jajarannya yang dilantik pada kesempatan ini. Herman menyatakan gembira melihat kepengurusan sekarang yang didominasi alumni kalangan muda dan generasi milenial. “Sebenarnya pada tahun 2020 disiapkan Mubes VII, namun terkendala adanya pandemi Covid-19. Terundur 18 bulan dari rencana. Saya minta Ketua Panitia Mubes VII agar diselenggarakan secara virtual. Disetujui dan tidak menduga besarnya antusiasme para alumni berbagai angkatan ikut serta,” ungkap Herman.

Selama masa baktinya, Herman dan jajarannya telah berhasil membentuk empat chapter (di Pekanbaru, Jakarta, Bandung, dan Medan). “Hubungan dan silaturahmi berlangsung baik selama ini. Saya berharap, hal ini dapat terus dipertahankan, bahkan bila memungkinkan ada penambahan chapter baru, apalagi para alumni/ex di Yogyakarta dan Jambi telah menyatakan keinginan pembentukan chapter setempat,” ungkapnya.

Lancarnya proses regenerasi kepengurusan IADB Pusat Padang 2021-2025 tidak luput dari peran serta panitia penyelenggara Mubes VII. Berbeda dengan waktu sebelumnya, Mubes dalam pandemi Covid-19 berlangsung secara virtual, online, dalam jaringan (daring). Ketua Panitia Penyelenggara Mubes VII, Marcelinus, mengakui adanya kelemahan atau kekurangan penyelenggaraan Mubes VII Online ini. “Namun, ada sisi positifnya. Saya amati, para alumni tiap angkatan lebih bergairah terlibat, bahkan ada yang terpaksa ditolak, karena telah ditentukan sebelumnya maksimal lima utusan tiap angkatan sebagai peserta. Tidak hanya dari dalam negeri, beberapa peserta Mubes VII online berdomisili di luar Indonesia,” ungkapnya.

Dari penyelenggaraan tersebut, Marcelinus berpendapat kemungkinan penyelenggaraan yang sama (Mubes Online) pada waktu mendatang. “Karena bisa lebih banyak mengikutsertakan alumni dari berbagai angkatan dan hemat biaya. Sungguh berbeda dengan model yang biasa sebelumnya. Butuh biaya besar. Beberapa keputusan penting telah dihasilkan dari Mubes VII Online. Selain memilih Ketua Umum periode 2021-2025, juga berhasil ditetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) baru – sebagaimana bisa dilihat dalam aplikasi IADB – serta penetapan program kerja. (hrd)

Akhirnya, Uskup Baru Tiba di Padang

PADANG – Uskup baru Keuskupan Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX tiba di Padang, Sabtu sore, 11 September 2021. Penyambutan gembala baru ini diawali dari Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM).  Kedatangan Uskup Vitus disambut sejumlah personil Panitia Tahbisan Uskup/PTU di terminal kedatangan domestik BIM.

Seremoni penyambutan Mgr. Vitus dilaksanakan di depan Wisma Keuskupan Jalan Khairil Anwar.  “Saya, Pastor Alex Suwandi, Administrator Diosesan Keuskupan Padang, atas nama umat Katolik Keuskupan Padang mengucapkan selamat datang kepada Bapa Uskup. Terimalah penyambutan umat Katolik Keuskupan Padang. Inilah wilayah Keuskupan Padang dan juga rumah, di mana Bapa Uskup tinggal serta tempat untuk pelayanan. Semoga Tuhan memberkati dan menyertai Bapa Uskup,” ucapnya diikuti pengalungan bunga kepada Uskup Vitus.

Ruas jalan ditutup sementara waktu guna memberi kesempatan penyambutan resmi ini –  sekaligus merupakan waktu perdana uskup baru memasuki Wisma Keuskupan.  Selain sejumlah penari berbusana Mentawai, tampak enam pasangan suami-istri yang mewakili etnis umat Katolik di Keuskupan Padang, anggota panitia, dan beberapa perwakilan umat. Sekitar tiga puluh menit dari BIM, sebuah mobil bernomor plat BA 1527 OW – yang membawa uskup – serta diikuti sejumlah penjemput di BIM tiba di lokasi. Turun dari mobil, Uskup Vitus disambut sejumlah imam, unsur PTU, dan Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat sembari diiringi dengan pepatah-petitih yang disampaikan protokol/pembawa acara.

Sebelum memasuki Wisma Keuskupan, Bapa Uskup Vitus, PTU, dan utusan umat ‘menikmati’ tarian khas Mentawai (turuk laggai dan tarian kreasi). Pada kesempatan ini, ditampilkan uliat manyang (kisah burung bangau yang mencari makanan di tepian danau dan saling berebutan) dilanjutkan tarian kreasi yang dibawakan sejumlah mahasiswa Mentawai di Padang. Penyambutan resmi dilakukan Administrator Diosesan Keuskupan Padang (P. Alexander Irwan Suwandi, Pr.) ditandai pengalungan bunga.  Secara simbolis, sejumlah pasutri perwakilan etnis Tionghoa, Flores, Batak, Mentawai, Jawa, dan Nias menyampaikan cendera mata kepada uskup baru.

Setelah upacara penyambutan, Bapa Uskup, PTU, dan perwakilan umat memasuki kompleks Wisma Keuskupan untuk beramah-tamat sejenak. Di ruang makan Wisma Keuskupan, Ketua PTU (P. Robledo Sanchez, SX) juga menyampaikan informasi mengenai PTU dan personalianya. PTU terbentuk lewat SK Administrator Administrator Diosesan Keuskupan Padang tanggal 12 Juli 2021. Dalam sambutan balasannya, Uskup Vitus menyampaikan ucapan terima kasih kepada PTU yang telah mempersiapkan penyambutan kedatangannya ini, sekaligus merasa terharu dengan rangkaian kegiatan yang baru saja dijalani sekaligus ajakan bersama menuju momen tahbisan 7 Oktober 2021. (hrd)

OMK : Jadilah Pribadi Militan!

Sembilan puluhan warga Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Petrus-Tuapeijat, Kepulauan Mentawai mengikuti Temu OMK di Pulau Simakakang, Sabtu (3/7) pagi-sore. Sehari kemudian, Minggu (4/7) pagi berlangsung pelantikan pengurus baru periode 2021-2024 oleh pastor paroki setempat, di gereja setempat.

Temu OMK diisi dengan rekoleksi singkat oleh Pastor Paroki St. Petrus-Tuapeijat, P. Samuel Anton Situmorang, O.Carm. dan Sr. Debora Lasmaria Hasugian, FSE. P. Samuel membahas topik “Bangga Sebagai Orang Katolik”. Sr. Lasmaria berbagi pengalamannya hingga akhirnya menjadi seorang suster.

Usai penyampaian materi rekoleksi, P. Samuel memberikan beberapa kuis kerohanian kepada peserta. Pemenang kuis mendapat hadiah Alkitab. Selain itu, banyak lontaran pertanyaan peserta dalam dua sesi rohani tersebut. Kesempatan Temu OMK juga diisi dengan sesi diskusi (sharing), permainan terpimpin di alam terbuka (outbound), dan Misa Kudus.  Berdasarkan informasi yang didapatkan GEMA, puncak Temu OMK berupa penyerahan hadiah kepada para pemenang dari rangkaian lomba yang diselenggarakan sebelumnya. Temu OMK ini merupakan kegiatan perdana kepengurusan baru OMK. Sebelumnya, rangkaian kegiatan yang diselenggarakan kepengurusan baru OMK berupa pertandingan voli (puteri), futsal (putera), dan lomba pendarasan Mazmur.

Dalam rekoleksi tersebut (3/7), warga OMK didorong dapat menjadi warga yang militan, terlibat aktif menggereja, dan bersikap teguh-tidak goyah iman hanya karena silau harta maupun cinta. P. Samuel mengingatkan warga OMK sebagai harapan dan generasi masa depan Gereja.

Tidak lama usai pelantikan resmi, saat dihubungi, Ketua OMK periode 2021-2024, Desentinus Ajik Sadodolu mengungkapkan kepengurusannya berniat meneruskan program periode sebelumnya (2018-2021) yang belum terselesaikan – akibat pandemi Covid-19. “Pengurus inti ingin mengaktifkan kembali aneka kegiatan gereja yang melibatkan warga OMK; misalnya gotong royong di gereja, ikut pelayanan saat kunjungan pastor ke stasi, mengadakan aneka kegiatan rohani, Misa Kudus Bulan setiap Jumat, paduan suara OMK. Selain itu, kami memrogramkan kunjungan umat yang tidak mampu atau mengalami kemalangan,” ungkap Ajik.

Pada kesempatan lain dihubungi, Ketua OMK Paroki St. Petrus-Tuapeijat periode 2018-2021, Markolinus Babai Sirirui mengaku belum maksimal menjalankan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya. “Pandemi Covid-19 menjadi kendala pada akhir periode saya. Yang pasti, banyak yang perlu dikembangkan tentang iman warga OMK, termasuk ketetapan hati dan pendirian iman warga OMK di masa mendatang. Masih banyak tantangan di waktu mendatang, apalagi maraknya perpindahan agama (mualaf) terutama di pelosok-pelosok Kepulauan Mentawai. Salah satu penyebabnya adalah minimnya pendidikan disebabkan ketidakmampuan orangtua membiayai sekolah anaknya. Pada umumnya, mereka rela mualaf karena factor tersebut. Masih banyak persoalan lainnya yang patut mendapat perhatian Gereja dan warga OMK,” ucapnya mengakhiri.

Ormas Katolik ke Luar Kandang

Organisasi massa (ormas)  Katolik di Pekanbaru terus membuktikan sebagai organisasi yang tidak jago kandang, hanya sibuk di urusan intern Gereja. Dua ormas Katolik yaitu: Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Riau  dan Wanita Katolik RI melakukan gerakan ke luar dari  kandang Gereja.

Meskipun masih sebatas seremonial, namun dua ormas ini membuktikan keberadaan diakui pemerintah daerah setempat.

Sejumlah pengurus dipimpin Ketua Komda Pemuda Katolik Riau,  Lorensius Purba  melakukan kunjungan dan audiensi dengan Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution, Senin (28/6/2021).   Selain pengurus Pemuda Katolik, rombongan ini didampingi  Pembimas Katolik Kemenag Kanwil Riau (Alimasa Gea), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi  Riau (Pandapotan Sitanggang) dan FKUB  Pekanbaru  (Frans Sirait),  serta pengurus Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pekanbaru. Kedatangan rombongan di kediaman wagub ini dengan protokol kesehatan yang ketat.  “Kegiatan seperti ini baru pertama kali,  kami sebagai ormas Katolik bisa berjumpa langsung dengan pejabat Pemerintah Riau,” katanya.

Lebih lanjut, Lorensius  menyatakan mengapresiasinya  atas kesediaan orang nomor dua di provinsi Riau ini menerima rombongan.  Dalam pertemuan itu terjadi diskusi hangat antara kedua belah pihak. Pihak Pemuda Katolik menyampaikan visi, misi, dan aspirasi-aspirasi dari ormas Katolik. Lorensius juga menjelaskan sejarah singkat Pemuda Katolik secara nasional dan kontribusi yang sudah dilakukan organisasi itu di Bumi Lancang Kuning.

Di hadapan Wagub,  Lorensius menegaskan bahwa ormas Katolik yang dipimpinnya siap mendukung pelaksanaan pembangunan masyarakat.  Menyikapi kondisi sulit di masa pandemi covid-19 ini, Pemuda Katolik telah melakukan bakti sosial pemberian paket sembako bagi masyarakat terdampak covid-19, penyemprotan disenfektan di sejumlah rumah ibadah di Pekanbaru.  Untuk kepentingan organisasi. Pemuda Katolik terus melakukan kaderisasi dan peningkatan kapasitas kader. Semua kegiatan  yang dilaksanakan secara off line (tatap muka) selalu menaati protokol kesehatan. “Di hadapan Wagub, kami tegaskan siap menjadi fasilitator pelaksanaan vaksinasi covid-19”, ujar Lorensius.

Menanggapi kedatangan dan penjelasan Lorensius Purba, Wagub Edy Natar Nasution menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik kedatangan rombongan ormas Katolik dan sejumlah tokoh Katolik ini.  Natar Nasution berharap melalui pertemuan ini terjalin silahturahmi, selanjutnya terbangun jalinan komunikasi dan kerja sama yang baik. Pemerintah  tidak bisa menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan daerah tanpa partisipasi segenap komponen masyarakat, termasuk ormas Pemuda  Katolik.

Lebih jauh,  Jendral Bintang Satu itu juga menyinggung soal perlunya membangun sikap toleransi dan saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat. “Masyarakat provinsi Riau ini heterogen dari suku, ras, budaya,  dan agama. Oleh sebab itu, sikap toleransi ini sudah semestinya terus dipupuk bersama agar tidak terjadi gesekan-gesekan yang bisa merugikan masyarakat dan  bangsa ini,” tegasnya.

Pada saat pertemuam ini,  Kepala Kesbangpol Provinsi Riau,  Kaharuddin menyatakan sebagai badan yang membidangi organisasi masyarakat siap untuk berkolaborasi dan bekerjasama dengan Pemuda Katolik dan ormas Katolik yang lain.  Khusus  menghadapi pandemi, Kaharudin berharap keikutsertaan  jajaran ormas Katolik dalam memberikan penjelasan yang benar  terkait Covid-19. “Kami berharap ormas Katolik menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan dan sosialisasi protokol kesehatan, melawan hoax terkait Covid-19,  dan mensukseskan vaksinasi yang sedang digencarkan pemerintah,” katanya.

Sementara itu, dalam rangka memeriahkan Ulang Tahun ke-97 ormas perempuan Katolik ini, Wanita Katolik RI Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Riau mengisi Mimbar Agama Katolik di TVRI Riau (15/6). Kesempatan tayang di stasiun televisi milik pemerintah ini peluang untuk memperkenalkan ormas perempuan Katolik kepada khalayak. Sebagai sarana sosialisasi dan acara-acara seremonial  organisasi Wanita Katolik RI ini juga merekam lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars, dan Hymne Wanita Katolik RI. Puncak perayaan HUT ke-97 ormas ini ditandai dengan Misa Syukur dilanjutkan pemotongan tumpeng (18/6). Karena masih dalam masa pandemi covid-19, perayaan dihadiri kalangan terbatas. Selain itu, pada 19 Juli, Wanita Katolik RI DPD Riau juga melaksanakan obrolan santai (webinar) bersama semua cabang lewat zoom meeting.  (Firmauli Sihaloho & Yuni)

Panggilan Itu Rahmat – Wajib Dibagikan

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu bagi mereka yang mencintai-Nya’“(Roma 8, 28). Berangkat dari ayat ini, saya melukiskan perjalanan panggilan sebagai pelayan di kebun anggur Tuhan.  Saya meyakini semua ada campur tangan Tuhan dalam setiap pergumulan dan proses yang saya alami.

Nama saya Marselinus Yerisko. Marselinus adalah nama keluarga dari kakek. Yerisko nama yang diberikan oleh orangtua saya. Nama ini terinspirasi dari nama kota Yerikho yang artinya kota bulan dan dikaitkan dengan zodaik aries mengggambarkan pribadi yang ceria, antusias dan optimis. Jadi dari nama dan tanggal lahir bisa ditebak kepribadian saya. Saya lahir di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) dari keluarga sederhana. Ayah saya penjual ikan, ibu pedagang kelontong. Saya sulung dari 4 bersaudara.

Benih-benih panggilan saya tumbuh berkat teladan hidup doa ibu yang menjadi dasar iman sejak saya kecil. Ketertarikan saya menjadi imam berawal dari perjumpaan dengan para biarawan-biarawati yang seminggu,  tiga atau empat kali mengunjungi rumah kami. Kebetulan rumah saya dikelilingi susteran dan biara Frater Karmelit. Rasa kagum saya terhadap para biarawan-biarawati terletak pada caranya bersikap saat melayani dan mengunjungi rumah-rumah umat. Taman SMP,  saya masuk ke seminari menengah San Dominggo Hokeng, NTT.  Pengalaman empat tahun di seminari menengah ini mendewasakan dan menguatkan motivasi saya menjadi imam. Selain itu, saya belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dan belajar menanamkan hidup persaudaraan dalam komunitas.

Di tahun ketiga di seminari, untuk pertama kalinya saya mengenal Kongregasi Misionaris Serikat Xaverian (SX) melalui buletin dan majalah yang dikirimkan tiga bulan sekali ke seminari. Kesaksian hidup dua frater yang saya baca di buletin memotivasi saya untuk lebih mengenal kongregasi ini. Tulisan itu berisi pengalaman hidup dan kerasulan para frater filsafat di tengah kaum miskin dan terpinggirkan di Jakarta dan dialog antaragama. Saya juga tergelitik dengan semboyannya:  “Menjadikan Dunia Satu Keluarga“.

Tahun 2010,  saya masuk bergabung ke Serikat Xaverian. Saya memulai tahap formasi dari postulan, novisiat, hingga studi filsafat. Tahun 2014 saya mengucapkan kaul pertama. Pengalaman para senior yang pernah saya baca, saya rasakan sendiri ketika melakukan hal yang sama. Saya mengalami perjumpaan dengan orang-orang miskin di Stasiun Senen,  pelayanan sosial di Cilincing, dan berdialog dengan umat beragama lain. Semua ini memperkaya dan menguatkan saya untuk terus setia dan taat dalam jalan panggilan ini.

Tahun 2016,  saya melanjutkan studi teologi internasional di Meksiko.  Di tempat inilah,  tahun 2020 saya mengucapkan kaul kekal dan menerima tahbisan diakon. Pengalaman hidup dalam komunitas teologi internasional semakin meyakinkan saya akan mimpi dari pendiri SX Santo Confroti untuk “Menjadikan Dunia Satu Keluarga’. Perbedaan budaya dan ras tidak menjadi penghalang untuk terus melangkah jauh ke depan menjadi imam misionaris. Semua itu justru  menginspirasi saya bahwa berbeda itu indah. Dari perbedaan inilah kita diperkaya dan saling melengkapi.

Saya menyadari bahwa panggilan adalah rahmat dari Tuhan.  Rahmat itu harus dibagikan kepada yang lain. Bapa Suci Paus Fransiskus mengatakan: “Suatu pemberian tidak dapat disimpan untuk diri sendiri, tetapi harus dibagikan. Jika kita ingin menyimpannya hanya untuk diri kita sendiri, kita menjadi orang Kristen yang terisolasi, mandul, dan sakit. Oleh karena itu, saya mengajak orang muda untuk membuka hati agar mampu menjawab pangggilan Tuhan dengan sadar dan penuh sukacita. Gereja dan dunia membutuhkan kalian untuk menjadi saksi-saksi dalam mewartakan Suka Cita kepada sesama dan mereka yang belum mengenal-Nya. Dengan demikian, semakin banyak orang yang hidup dalam cinta, kasih,  dan pengharapan sehingga nama Kristus semakin dikenal dan dicintai semua orang. ***

Tuhan yang Memanggil & Merencanakan

Apakah Anda sejak kecil ingin menjadi imam (pastor)? Jawaban saya:  “Tidak ada sama sekali!”  Saya lahir di (Malaysia), anak ketiga dari 4 bersaudara.  Orangtua merantau di negeri Jiran itu untuk menyambung hidup. Meskipun dibesarkan di tanah rantau, kedua orangtua selalu membawa kami mengikuti perayaan Ekaristi hari Minggu. Setelah perayaan Ekaristi,  kami disuruh mengikuti kegiatan Bina Iman Anak (BIA). Namanya anak-anak, semuanya saya jalani karena takut dengan orangtua. Dari situ saya tahu, orangtua kami tidak membiarkan iman anak-anaknya terabaikan.

Saat saya umur 7 tahun,  kami diantarkan orangtua ke kampung di Adonara, Flores Timur, NTT. Kami berempat hidup bersama keluarga Om.  Kedua orangtua kami kembali lagi ke Malaysia mencari uang untuk biayai hidup dan sekolah kami. Om seorang tentara, sehingga mendidik kami dengan sangat disiplin dalam berbagai hal. Tak terkecuali dalam hal iman. Setiap ada kegiatan Gereja selalu kami ikuti.

Setelah tamat SD, saya keluar dari Adonara melanjutkan ke SMP dan tinggal di asrama menyusul kakak. Pengalaman hidup bersama di keluarga Om yang serba disiplin membuat  saya  tidak  kesulitan  hidup  di asrama.  Jarak asrama kami ini tidak terlalu jauh dengan seminari menengah. Setiap sore, kadang kami bertegur sapa dan bercerita dengan anak-anak seminari yang keluar dari asramanya untuk belanja keperluan pribadi. Sampai dititik ini,  saya belum tahu seminari itu sekolah untuk calon imam (pastor). Ketika kelas III SMP, seorang teman mengajak setelah lulus nanti melamar masuk seminari. Saya pun mengiyakan saja, sekedar coba-coba. Ehh…. ternyata kami berdua diterima.

Pengalaman hidup di seminari membuat saya mendalami aspek kehidupan, yaitu: kepribadian, kerohanian, intelektual, relasi dengan teman-teman dari budaya lain. Saya belajar berkomunikasi, melatih kepekaan, tanggung jawab,  dan banyak hal lain yang menunjang kepribadian. Boleh saya katakan, panggilan saya berawal  dari coba-coba, saya rawat tumbuhkan secara perlahan. Di seminari saya begitu bersemangat, orangtua terlebih ibu sangat mendukung. Demi membiayai saya di seminari sampai selesai, meski kondisinya sakit., ibu tetap berangkat lagi ke Malaysia untuk bekerja. Tuhan berkehendak lain. Dua minggu menjelang ujian akhir nasional, saya mendapatkan kabar ibu dipanggil Tuhan. Peristiwa duka ini pukulan berat di awal panggilan saya. Ibulah salah satu mendukung kuat panggilan saya. Jiwa saya bergejolak. Ada perasaan ingin keluar dan menyerah. Tetapi selalu saja ada pihak-pihak yang memberi masukan, memotivasi yang menguatkan saya untuk melanjutkan pilihan ini. Saya juga tidak ingin mengecewakan ibu.

Di seminari banyak romo SVD.  Awalnya saya tertarik dan ingin masuk ke ordo ini. Hampir setiap tahun banyak kakak kelas yang memilih masuk ke ordo ini. Namun saat kelas III, pilihan saya berubah. Saat itu seorang romo SSCC mengadakan promosi panggilan. Salah satu yang memotivasi saya memilih SSCC bisa

keluar negeri. Di biara SSCC, tahun kedua (masa novisiat)  dijalani di luar negeri,  yaitu Filipina. Awalnya,  bersama saya,  ada 11 yang melamar, tetapi hanya 5 yang diterima. Teman seangkatan saya di postulan 18 orang, namun dalam perjalanan waktu,  17 orang memilih untuk menjalani panggilan hidup lain. Tinggal saya sendirian.

Perjalanan panggilan saya di formasi SSCC pun tidak berjalan mulus. Di tahun kedua (masa novisiat),  saya mendapat kabar duka, ayah meninggal.  Untuk kedua kalinya saya terpukul. Duka dan sedih atas kepergian ibu belum berlalu, sekarang ditambah kepergian ayah. Beberapa hari setelah kabar duka ini, saya mencoba memutuskan keluar saja. Saya merasa orang-orang yang mendukung panggilan saya tiada lagi. Ada pergolakan batin. Saya benci Tuhan!  Mengapa kedua orang yang begitu saya cintai diambil-Nya.

Sebelum mengambil keputusan final, saya mendapatkan kesempatan untuk berefleksi. Pertanyaan yang begitu kuat muncul saat itu adalah:  “Apakah panggilanku ini panggilan kedua orangtuaku?”  Pertanyaan inilah yang secara perlahan-lahan kembali memberiku kekuatan. Jika panggilanku ini rencana Tuhan, jika ini panggilan Tuhan,  saya akan melanjutkan.  Perjalanan selanjutnya, dari setiap proses yang saya jalani, pendampingan dari tim formator di setiap stage dan moment penyertaan Tuhan,  membuat saya menjadi sangat yakin bahwa “jika Tuhan yang memanggil, jika Tuhan yang merencanakan semuanya ini,  segala sesuatunya akan indah pada waktunya.”

Tuhan Punya Cara yang Unik

Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau ” (Yohanes 21:17). Berangkat dari pengalaman hidup dan dibantu lewat permenungan, saya terinspirasi akan dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam dialog itu Yesus ingin melihat dan mendengar jawaban tegas,  penuh tanggungjawab dari Petrus akan suatu tugas yang dipercayakan oleh Yesus kepadanya.

Jika dibaca sekilas, pertanyaan yang disampaikan Yesus kepada Petrus tampaklah sederhana. Akan tetapi jika dipahami dengan baik, pertanyaan tersebut memiliki arti dan makna terdalam.  “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?”  Pertanyaan ontologis dari Yesus ini saya jadikan jembatan untuk melihat kembali perjalanan panggilan hidup saya hingga sampai pada titik ini.

Nama saya Andreas Dedi Dores Salamanang. Andreas adalah nama pelindung yang diambil dari salah satu nama ke dua belas Rasul.  Dedi Dores adalah penyanyi yang saat saya lahir lagi ngetop. Salamanang adalah marga saya. Nama salah satu marga dari sekian banyak marga orang Mentawai. Saya lahir di Matobe Sarere (Sikakap-Mentawai), dari keluarga sederhana. Saya bungsu dari empat bersaudara.

Saya tertarik masuk seminari pertama-tama bukan untuk menjadi imam. Saat itu, saya kagum sedikit cemburu terhadap para seminaris dan suster yang memiliki bakat dan kemampuan lebih setelah di seminari dan di biara.  Saat liburan, mereka aktif di Gereja; melatih koor, bermusik, menganimasi perayaan Ekaristi,  dan liturgi lainnya. Saya juga terkagum melihat kemampuan mereka di bidang olahraga. Kemampuan empirik yang mereka tampilkan membuat saya penasaran. Ada apa?   Apa yang mereka makan dan pelajari sehingga hampir semua bidang dikuasai?  Itulah yang menggelitik hati saya.  Saya mau masuk seminari supaya bisa seperti mereka.

Niat itu semakin membara ketika kelas III SMP Yos Sudarso, Paroki  Muara Siberut. Saya tinggal di asrama paroki yang diasuh Imam Misionaris Serikat Xaverian. Para imam Xaverian ini membentuk kelompok panggilan. Saya mendaftarkan diri sebagai anggotanya. Selama tiga tahun saya aktif  dalam berbagai kegiatan,  baik dalam mengolah kemampuan diri di bidang intelektual, bermusik,  dan olahraga. Saya juga merasa beruntung bersekolah di sekolah Katolik yang tidak hanya berfokus pada intelektual, tetapi juga disiplin dalam memanfaatkan waktu, membina moral dan karakter.

Di seminari, mulai dari rhetorika sampai tingkat II (Semester IV) orientasi hidup saya tergantung pada ritme dan formalitas di seminari. Rutinitas harian menjadi jembatan bagi  saya untuk bisa mengimbangi dan menyesuaikan diri dalam formatio (pembinaan). Ada rasa bahagia tertanam dalam hati, karena  bisa tinggal dan hidup bersama di komunitas orang-orang terpanggil. Namun waktu itu saya sadari bahwa kebahagiaan itu belum sampai pada esensi panggilan yang sesungguhnya. Artinya, motivasi awal  masuk seminari untuk mengembangkan bakat dan kemampuan diri masih mendominasi arah dan sikap saya dalam pembinaan diri sebagai calon imam.  Ketidakpuasan saya dalam mengolah bakat ini justru membuat saya percaya bahwa seminari bukanlah tempat khusus untuk mengembangkan bakat dan kemampuan. Bakat itu sebenarnya sudah ada dalam diri, tergantung cara mengolah dan mengembangkannya agar lebih berdayaguna bagi diri dan orang lain.

Kesadaran dan kemauan menjadi imam justru saya rasakan saat tingkat III (setelah rutin berkunjung ke stasi). Kerasulan yang diprogramkan oleh kampus dan rumah sungguh menyadarkan saya betapa umat sungguh-sungguh membutuhkan dan merindukan kehadiran imam. Kegiatan kerasulan membangkitkan gairah saya untuk menjadi imam. Pengalaman perjumpaan dengan umat di stasi-stasi ruang awal bagi saya semakin mengenal rahmat dan panggilan Allah ini.

Kenyataan pastoral yang sesungguhnya saya alami ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Air Molek, Riau. Wilayah pastoral yang berat dengan jumlah 37 stasi dan 9 lingkungan semakin menguatkan dan memotivasi saya untuk tetap menjadi imam. TOP mengajarkan saya banyak hal,  terutama soal tanggungjawab dan makna kehadiran seperti pesan Mgr.  Martinus (Alm.):  “Umat tidak menuntut ilmu filsafatmu, teologi,  dan gelar akademik…yang dibutuhkan umat pertama-tama adalah arti kehadiranmu. Karena kehadiranmu berarti untuk umat, persiapkanlah dirimu…jangan biarkan umat pulang tanpa bawa apa-apa”. Pesan ini bermakna untuk saya,  bukan semata-mata memiliki nilai dan kandungan pastoral dan teologis yang luhur, tetapi Bapa Uskup ingin menekankan bahwa betapa berharga dan bernilainya panggilan. Pengalaman berpastoral sungguh mengubah hidup dan paradigma saya tentang panggilan imam. Menjadi imam berarti berani melibatkan dan ikut ambil bagian dari imamat Kristus. Untuk itu seorang imam harus berupaya semaksimal mungkin menghadirkan Kristus di dunia lewat tutur kata, pola hidup, sikap,  dan praksis hidup yang tampak dalam pelayanan.

Imam adalah pancaran konkret dari wajah kasih Allah di tengah dunia. Dengannya, para imam diharapkan bertindak dan berperilaku seperti Kristus yang berbelas kasih terhadap dunia. Imamat yang diterima oleh para imam merupakan kelanjutan dari Imamat Kristus. Mereka adalah orang-orang yang dipanggil dan dipilih oleh Allah dari antara seluruh manusia yang berada di muka bumi ini. Mereka berperan sebagai wakil-Nya, menghadirkan Kerajaan Allah dan mewartakan sukacita Injili.

Sebagai pribadi yang dipanggil dan dipilih, para imam tentu tidak terlepas dari unsur kemanusiaannya, dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Sakramen Imamat yang diterima tidak menjadikan imam otomatis sebagai manusia yang sempurna, yang tidak terluput dari dosa dan kesalahan. Namun di balik semua itu ada hal yang menarik yakni berkat rahmat tahbisan yang mereka terima menjadikan para imam sebagai manusianya Allah “Man Of God ”. Berkat rahmat tahbisan itu pula, imam dipercaya untuk menguduskan, mengajar,  dan memimpin umat Allah. Untuk itu,  bagi saya,  imam hendaknya menjadi berkat bagi semua orang. Berkat rahmat tahbisan, imam diharapkan menjadi representasi kehadiran Allah,  sehingga umat mampu menjadi jembatan yang menghubungkan umat untuk bertemu dengan Allah. Bukan malah menjadi batu sandungan!

Dari seluruh perjalanan hidup, dengan segala jatuh bangun,  saya menarik kesimpulan panggilan adalah rahmat dan karunia terindah dari Allah. Sehebat apa pun seseorang untuk melarikan diri,  tak akan mungkin bisa bersembunyi dari bisikan dan panggilan Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Sebab Tuhan memanggil dan memilih kita dengan cara-Nya yang unik dan khas. Maka, dengan pilihan yang bebas: “Saya memutuskan untuk melanjutkan panggilan ini  dengan menjadi imam Diosesan Keuskupan Padang”. Keputusan ini saya ambil dengan sadar, bebas, dan tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan mematahkan panggilan saya,  meskipun sudah terkulai dan tidak akan memudarkan panggilan saya,  kendatipun tawaran dan kenikmatan dunia berusaha meredupkannya. ***

Imam: Jangan Aji Mumpung!

Di tengah kondisi Pembatasan Pergerakan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat pandemi Covid-19, tiga diakon ditahbiskan menjadi  imam di Gereja Santa Teresia Katedral Padang, Rabu, 15 Juni 2021. Ketiga diakon tertahbis ialah calon imam Keuskupan Padang Diakon Andreas Dedi Dores Salamanang, Diakon Marcelinus Yerisko, SX (Kongregasi SX), dan Diakon Felix Kapitan Goran, SSCC (Kongregasi SSCC).  Sebagai uskup penahbis  Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Mendampingi selebran utama Administrator Diosesan Keuskupan Padang P. Alex I. Suwandi,  Pr, Pastor Paroki Katedral P. Matheus  Tateburuk, Pr.,  Provinsial Serikat Xaverian Indonesia P. Suhut Budi Pranoto, SX, dan Kongregasi SSCC, P. Bonifasius, SSCC.

Prosesi tahbisan dengan protokol kesehatan yang ketat ini hanya dihadiri kalangan terbatas.   Sejumlah imam Diosesan Padang,  Xaverian, dan  Hati Kudus Yesus  yang hadir tidak berada di panti imam, tetapi duduk di barisan bangku umat. Perayaan ini tanpa kehadiran umat, selain panitia dan petugas liturgi.  Kehadiran anggota keluarga diakon tertahbis pun jumlahnya terbatas.  Di penghujung perayaan ini, dalam sambutannnya Administrator Diosesan Keuskupan Padang P. Alex I. Suwandi, Pr. menginformasikan tentang tempat tugas pelayanan imam baru ini.  P. Andreas Dedi Dores Salamanang, Pr. berpastoral di Paroki Santo Ignasius Pasirpengaraian, Riau. P. Felix Kapitan Goran, SSCC berpastoral di Paroki Santo Damian Saibi, Kepulauan Mentawai, dan P. Marcelinus Yerisko, SX menjalani perutusan sebagai imam misionaris di Brazilia Utara.

Mgr. Kornelius dalam homilinya menyatakan para diakon yang ditahbiskan menjadi imam adalah  bagian dari keluarga dan Umat Allah. Para  diakon sesudah dengan pertimbangan yang matang meminta untuk ditahbiskan menjadi imam. Dengan menjadi imam mereka ingin mengabdikan dirinya kepada Kristus, yang adalah Guru, Imam, dan Gembala. Mereka mau bersatu dengan uskup dalam imamat dan ditahbiskan menjadi imam Perjanjian Baru, dengan maksud untuk mewartakan Injil, menggembalakan umat, dan merayakan liturgi, terutama Ekaristi hari Minggu. “Dukunglah  mereka dan para imam dalam karya dan pelayanan dengan doa-doa”, katanya.

Kepada para diakon tertahbis, Uskup Agung Medan ini mengingatkan akan martabat imamat yang diterimanya. Para diakon diharapkan senantiasa insyaf bahwa yang dilakukan dan hidupnya sesuai  dengan misteri wafat dan kebangkitan Kristus yang dirayakan. Hendaknya menjaga diri agar jangan dinodai oleh segala macam cela. Dengan liturgi harian, haturkanlah doa pujian syukur dan permohonan, bukan hanya untuk Umat Tuhan (Gereja) melainkan untuk seluruh umat manusia. Tunaikan jabatan Kristus dengan hati gembira dan dengan cinta ikhlas. “Jangan mencari kepentingan sendiri, utamakanlah kepentingan Kristus. Jangan aji mumpung!” tegasnya. (ws)