Category Archives: Pojok Keluarga

Kasih Kristus Begitu Nyata

Puji Tuhan, syukur kepada Allah atas segala kemurahan dan kerahimanNya yang telah diberikan kepada keluarga kami, keluarga Michael Mustomo Solichin. Kami semua, terlebih mami Lidwina Dwiyani amat sangat berbahagia, bangga, penuh suka cita karena salah satu puteranya telah ditahbiskan menjadi uskup di Keuskupan Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX.

Pada tanggal 3 Juli 2021, ketika kita tahu tentang pengangkatan Pastor Rubianto Solichin menjadi uskup di Padang, kita kaget dan kaget banget. Perasaan waktu itu haru, bahagia, dan penuh suka cita.

Adik Mgr. Vitus Rubianto dari kecil pinter, baik hati, dan tidak nakal sama sekali. Saya yang kurang cakap membaca, melihat adik yang dari taman kanak-kanak (TK) sudah lancar membaca menjadi bersemangat dan giat belajar untuk bisa membaca. Ketika kecil adik Mgr. Vitus sering sakit jadi lebih dekat dengan mami. Mgr. Vitus Rubianto anak kesayangan mami.  Setelah masuk ke Seminari Mertoyudan, adik Vitus semakin sehat dan tambah sehat, maka sampai saat ini rajin berolah raga, karena tidak mau sakit.

Mami pernah sakit yang agak parah. Waktu itu, Mgr. Vitus sedang mempersiapkan seminar yang akan dihadiri banyak orang. Saya memberitahu beliau. Dalam hati kami berdoa dan bermohon mami masih diperbolehkan oleh Tuhan untuk tinggal bersama kami walau sebentar, dan semoga mami berbahagia bersama anak dan cucunya.

Mgr. Vitus datang dan memberi Sakramen Perminyakan Suci kepada mami. Puji Tuhan dan penuh syukur kepada Allah, mami berangsur-angsur pulih dan sehat kembali. Allah sanggup melakukan jauh lebih banyak dari pada yang dapat kita doakan atau pikirkan, seperti ternyata dari kuasa yang bekerja dalam diri kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam Gereja dan dalam Kristus Yesus turun-temurun hingga selama-lamanya (Efesus 3:20-21). Kasih Kristus begitu nyata dalam hidup kami.

Hari ini, tanggal 7 Oktober 2021, ibu kami, Mami Lidwina Dwiyani boleh menyaksikan puteranya yang terkasih Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX ditahbiskan menjadi Uskup Padang. Puji Tuhan, syukur kepada Allah.

Akhir kata dan harapan kami, selamat berkarya, selamat bertugas! Semoga adik, Mgr. Vitus Rubianto selalu menjadi pembawa terang, membawa kasih, berkat, semangat, dan suka cita bagi seluruh umat, para suster, bruder, pastor, romo, diakon. Juga semua orang yang dijumpai di Keuskupan Padang ini. Berkah Dalem!

 

Elisabeth Lisatiningsih Solichin
Kakak perempuan Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX

Berkat Didikan Papi dan Mami

Tatkala ditahbiskan sebagai seorang imam (7 Juli 1997), kami dari keluarga besar Michael Mustomo Solichin tidak pernah punya perasaan seolah-olah ada anggota keluarga yang ‘diambil’. Saat masuk Seminari Mertoyudan, adik Vitus memang jadi lebih jarang pulang ke rumah, namun ia selalu ada di dalam hati kami. Tidak pernah terbersit sekalipun perasaan seakan diambil dari keluarga besar kami. Saat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga, hubungan kami tetap akrab. Adik Vitus tetap bersahaja dan tidak ada yang berubah pada dirinya.

Memang, sedari kecil, kami berempat bersaudara punya hubungan yang erat dan dekat satu dengan lainya, begitupun dengan orangtua. Sejak kecil, kami sering berdoa bersama. Saat adik Vitus berkesempatan mendapat penugasan dan belajar di Roma (Italia), sebelumnya kami bertemu dan bersatu dalam doa. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi warisan iman yang begitu indah kepada kami sekeluarga. Memang, bagaimana pun juga tetap ada perasaan bertanggung jawab membimbing tiga adik selain adanya bimbingan orangtua.

Saya masih mengingat kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga kami. Sejak kami masih kecil, papi suka menempel banyak gambar ‘places’ Bunda Maria, Tuhan Yesus yang masih kecil, dan Santo Yosef. Papi sering bercerita tentang Bunda Maria sebagai Bunda Penolong Abadi. Papi dan mami memang dekat dengan kehidupan agama. Sewaktu muda, mami pernah menjadi penghuni asrama puteri Susteran dan papi penghuni asrama putera Bruderan. Papi juga sering mengajak teman-teman asramanya berdoa bersama ketika kami masih kecil di asrama St. Louis-Ambarawa.

Sewaktu masih murid SD Regina Pacis (kini bernama Marsudirini) -Semarang, setelah menerima Komuni Pertama, adik Vitus rajin bertugas sebagai putera altar/misdinar di gereja Katedral Semarang. Mungkin ada yang beranggapan keluarga kami keluarga religius dan penanaman nilai keagamaan telah dilakukan sedari masih berusia dini. Itu semua tidak luput dari pengaruh didikan papi dan mami kepada kami berempat (saya, adik Vitus Rubianto Solichin, Bernadet Sandra Trisanti Solichin, dan Petrus Donny Solichin)

Memang, papi dan mami mengajar kami agar dapat menjadi manusia yang dekat dengan Tuhan namun tidak menjadi fanatik. Mereka mengajarkan semangat toleransi pada sesama yang berbeda keyakinan/iman. Papi dan mami punya banyak sahabat dari agama lain (Kristen, Islam, Buddha). Bahkan, kakek nenek kami juga penganut Buddha yang taat. Selain bertoleransi, kami juga dididik peduli pada sesama yang miskin. Mami termasuk tidak sungkan memberi makan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) – yang lebih dikenal dengan sebutan orang gila.

Namun, kebersamaan kami dengan papi tidak berlangsung lama. Saat saya masih berusia 15 tahun – saat masih kelas VIII SMP – dan adik Vitus berumur 13 tahun, papi dipanggil ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa pada tanggal 19 April 1981. Papi meninggal akibat sakit gagal ginjal yang dialaminya. Mami menjadi orangtua tunggal (single parent) yang mengurus kami anak-anaknya. Sewaktu masih hidup, papi – dibantu mami – punya warung sembako yang cukup lengkap. Papi memperbolehkan pegawai atau guru-guru di depan rumah sekolah untuk mengambil kebutuhan sembakonya terlebih dulu. Pembayaran setelah gajian. Tentu saja, kepergian papi membuat kami kehilangan figur/sosok seorang ayah.

Sepeninggal papi, mami masih tetap menekuni usaha warung sembako sembari berjualan kue, es cincau, nasi untuk murid sekolah dasar (SD). Adik saya, Sandra, masih kelas IV SD. Bungsu, Donny masih berumur empat tahun. Rencana masuk sekolah terpaksa diurungkan. Tahun berikutnya (1982), barulah Donny masuk sekolah. Memang, itu adalah saat-saat berat bagi mami mengurus empat anak yang masih butuh perhatian dan kasih sayang seorang ayah. Saya sebagai sulung pun ikut merasakan hal ini, terutama untuk ikut bantu mengurus tiga adik. Sempat muncul pemikiran mami untuk menjual rumah di Semarang dan kembali ke Muntilan, bersama kakek-nenek. Akhirnya, saya dan adik Vituslah yang bersekolah di Muntilan. Mami tetap di Semarang mengurus adik Sandra dan adik Donny. Tidak jadi pindah.

Karena kondisi ekonomi saat itu, sewaktu masih SMA di Muntilan, sepulang sekolah, saya membantu jaga toko sembako milik kakek. Tugas jaga toko berakhir bila saya menutup toko. Walau jarak dengan adik Vitus berjauhan, sejak masuk Seminari Mertoyudan, tetapi kami selalu bertemu dan bersatu dalam doa. Saya remaja Legio Maria kala itu. Kini ikut terlibat dalam aktivitas Kerabat Kerja Ibu Teresa, ikut serta di lingkungan dan gereja; bahkan sebagai prodiakon Paroki Kumetiran-Yogyakarta.

Selesai SMA, saya bekerja pada sebuah bank swasta. Di tempat ini, saya selalu pulang hingga sore bahkan petang hari. Saya berusaha mengikuti perkuliahan sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka (UT) pada pertengahan tahun 1985 hingga 1987. Namun, hanya bertahan selama dua tahun atau empat semester.  Adik Vitus tetap menjalani pendidikannya. Semua adik saya berkesempatan mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi dan menyelesaikannya. Mereka menyandang gelar sarjana.

Walau sejak kecil terlibat aktivitas putera altar/misdinar atau kerap berdoa Rosario bersama-sama, namun kepada saya sebagai kakak tertua, adik Vitus belum pernah membicarakan niatnya masuk seminari atau keinginan menjadi seorang imam/pastor. Saat masih SD, kami bertiga saudara (saya, adik Vitus, adik Sandra) kerap berdoa Rosario di sore hari. Namun, tahu-tahu, adik Vitus masuk seminari, setamat SMP. Meski sempat bingung, namun saya senang juga saat adik Vitus memutuskan masuk Seminari Menengah St. Petrus Kanisius di Mertoyudan (1984). Saya senang punya adik-adik yang tidak bandel ataupun nakal. Mereka adik yang penurut, taat, patuh, dan tidak pernah membantah. Saya dan adik-adik tahu diri dengan situasi keluarga kami.

Adik Vitus terlibat sebagai putera altar. Namun, karena tidak boleh misdinar perempuan di Katedral Semarang – padahal sudah latihan lama akhirnya saya tidak jadi bertugas. Saya masih melibatkan diri dalam aktivitas kegerejaan sebagai legioner Legio Maria saat remaja. Kini ikut dalam Kerabat Kerja Ibu Teresa. Sewaktu pindah sekolah di Muntilan, adik Vitus masih ikut melibatkan diri di gereja Muntilan sebagai misdinar. Memang kesukaan dia. Suasana Katolik sangat terasa kental di Muntilan. Misa pagi hari pasti dipenuhi umat. Saat itu, jam lima pagi, banyak umat berjalan kaki menuju gereja setempat. Sepulang Misa Kudus, kami sarapan pagi dan seterusnya berangkat ke sekolah. Masa lalu yang penuh kenangan. Dari pengalaman keluarga kami, saya merasakan kemurahan dan kerahiman Allah. Orangtua yang menyayangi kami. Begitupun kami sebagai anak yang patuh dan rajin bersekolah. Kami saling bantu dan kompak sedari kecil.

 

diadaptasikan dan disarikan dari perbincangan GEMA
Ibu Elisabeth Lisatiningsih Solichin
Kakak perempuan Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX/hrd

Luar Biasa Kuasa-Mu Tuhan!

Namaku Magdalena Nurlia Manullang. Saat ini (2021), usiaku 25 tahun. Aku berdomisili di Paroki Santo Petrus Kota Batak, Riau, Keuskupan Padang. Aku anak kelima dari 6 bersaudara dari keluarga sederhana.

Aku punya cita-cita yang tinggi. Jika ada yang bertanya, berseloroh kujawab, “Ingin menjadi Presiden!” Aku yakin dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah ada dalam skenario Tuhan. Tahun 2015, aku lulus SMA dan berhasil masuk perguruan tinggi di Medan (UNIMED) lewat jalur SNMPTN. Awalnya, semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Aku yakin bisa lulus sarjana tepat waktu di tahun 2019. Namun saat semester VII (masa PPL), aku dihadapkan pada kenyataan pahit. Aku terkena suatu penyakit yang serius.

Pada 30 Oktober 2018, awal dari perjalanan panjang dan melelahkan, aku masuk ke rumah sakit swasta Medan yang dekat dengan kosku. Untuk pertama kalinya jarum infus ‘menusuk’ pembuluh darahku. Aku rawat inap. Aku demam tinggi hingga 40 derajat Celcius. Tenggorokan sakit bahkan menelan air liur pun sangat menyakitkan. Rahang sakit. Sekedar membuka mulut pun aku tidak kuat. Seluruh tubuh terasa remuk. Saat cek darah, laboratorium menyatakan aku kena “gejala tipes dan leukositku sangat tinggi”. Hanya semalam aku menginap di rumah sakit ini dan belum ada tanda-tanda perubahan.

Setiba mamakku  di Medan, aku segera dipindahkan ke RSUD Medan dan bisa menggunakan BPJS. Di RSUD ini aku menginap sebulan penuh. Hasilnya masih sama “gejala tipes dan leukosit sangat tinggi”. Selama sebulan ini, aku tidak merasa perubahan. Bahkan, demamku pun tak kunjung berhenti. Sampai sebulan tidak ada diagnosa yang tegas. Segala pemeriksaan sudah dilakukan, mulai dari cek darah, rontgen, USG, dan akupuntur. Semula dokterku adalah dokter spesialis penyakit dalam, namun karena tidak bisa memecahkan masalah demam ini, aku pun dialihkan ke dokter spesialis darah. Dokter ini mendiagnosa “aku ada kelainan darah”. Aku disarankan pindah ke RS Lubuk Pakam untuk menegakkan diagnosa dengan pengambilan sum-sum tulang belakang. Aku dan keluargaku menolak. Akhirnya, aku dibawa pulang ke kampung halamanku dan memilih berobat di Pekanbaru saja. Sesampai di rumah, aku senang. Rasanya terbebas dari rumah sakit, selang infus, antibiotik, bubur, dan kumpulan para pejuang sembuh. Selama di RS, dalam satu ruangan, aku menyaksikan para pasien silih berganti. Ada yang menyerah dan kembali kepada-Nya. Tepat 1 Desember 2018, aku di rumah. Saat itu, teman OMK mendapat kabar kepulanganku datang mengunjungiku. Aku merasa dikuatkan, dihibur, dan merasa banyak yang peduli padaku.

Namun, aku hanya dua hari di rumah. Keadaan kembali drop. Aku dilarikan ke rumah sakit. Semua langkah pemeriksaan dilakukan. Namun, karena kamar rawat inap penuh, kami kembali ke rumah. Belum ada perubahan. Aku mulai jenuh dan penasaran dengan penyakit ini.  Siangnya, aku baca hasil pemeriksaan. Aku terkejut sekali dengan hasilnya. “Leukimia (kanker darah)”. Meski demikian, aku pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Sore harinya, selesai makan, aku merasa ada hal tidak beres. Kepalaku terasa berputar hebat dan mulai merasa dingin dari ujung kaki hingga ke jantung. Jantungku berdetak sangat cepat, nafasku mulai tidak teratur. Bahkan, aku melihat tangan dan kakiku sangat pucat. Aku merasa inilah akhir hidupku. Aku mulai berkata yang tidak-tidak. Aku nyaris menyerah. Namun ketika melihat tangisan orangtuaku serta anggota keluarga, sekuat mungkin aku lawan dan tidak ingin kehilangan kesadaranku.  Mamak dan bapak cepat ambil tindakan. Mereka melarikanku ke RS lagi. Sepanjang perjalanan, aku menenangkan detak jantungku, menghalau rasa dingin yang kurasakan agar tidak sampai ke jantung. Air panas dalam botol selalu kugenggam. Sesampai di IGD RS, aku jalani pemeriksaan darah dan rontgen lagi.

Esok harinya, perawat mengatakan hanya ada satu dokter spesialis darah di Pekanbaru sehingga mesti sabar menunggu dokter tersebut dari RSUD hingga sore. Karena dokternya sama, akhirnya keluarga berunding memindahkanku kembali ke RSUD Pekanbaru dan BPJS bisa digunakan lagi. Sebelum pindah, perawat memberikan rekam medis kepada keluarga. Aku ingin tahu karena alat di RS ini diyakini baik adanya sehingga diagnosa sudah tegak. Aku terdiam dan sepenuhnya berserah tatkala didiagnosa “leukimia”. Selepas RS ini, aku melemah. Cahaya matahari pagi bahkan cahaya lampu dalam ruangan itu terasa menyakitiku.

Nyanyian Rohani Penguatku

Setiba di RSUD Pekanbaru, aku masuk IGD lagi. Semua pemeriksaan ulang dilakukan. Aku mulai lelah berpindah-pindah rumah sakit dalam waktu dekat, selalu cek darah setiap saat, pemeriksaan lanjut yang tak kunjung mendapatkan diagnosa yang akurat. Aku sering menangis dan bingung.  “Apa rencana Tuhan dalam hidupku?” Meskipun konsentrasiku di titik terendah, aku tidak pernah lupa berdoa memanggil nama Tuhan dan meminta kekuatan. Dalam ketidakberdayaan, aku sering menyanyikan lagu  rohani sambil mengangkat tangan. Lagu paling sering kunyanyikan adalah “Yesus Kau andalanku” dan “Dalam Tuhan Aku Bersyukur”. Saat seperti ini, aku melihat kehidupanku sebelumnya. Dari awal masuk SMP (2009), aku sudah mengikuti kegiatan OMK meski belum terlalu aktif. Namun, mengapa Tuhan menguji aku sekeras ini? Aku yakin ada rencana besar yang Tuhan siapkan dalam hidupku.

Aku menginap selama dua minggu di RSUD Pekanbaru. Hasil pemeriksaan  menyatakan “tipes, leukosit tinggi, anemia akut, dan infeksi hati”. Aku merasa lega tatkala dokter menyampaikan hal tersebut. Aku tidak mengidap “leukimia”. Karena seringnya diambil contoh darahku untuk cek ke labor, aku dinyatakan “anemia Akut” dan mesti tranfusi darah sebanyak dua kantong. Namun, demam masih terus berlanjut. Dokter spesialis darah menyerahkan penanganannya pada dokter spesialis penyakit dalam. Ternyata ada infeksi bagian hatiku.

Aku merasa aneh karena di rumah sakit ini kerap mendengar suara seseorang yang terus berdoa. Setelah ditanya pada perawat, tidak ada orang. Suara itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Aku pun bertanya kepada mamak. Ternta mamak pun tidak mendengar suara apapun. Suatu malam, aku mengalami kesulitan bernapas dan kelelahan luar biasa. Mamak memanggil perawat yang segera memasang selang oksigen ke hidungku. Kembali aku merasa maut ada di depan mataku. Pandanganku kabur. Aku hampir kehilangan kesadaranku. Namun melihat kembali tangisan mamak dan bapak, aku selalu berdoa, “Tuhan, aku mohon jangan sekarang. Lihatlah perjuangan mamak dan bapak untuk kesehatanku. Izinkanlah aku membahagiakan mereka terlebih dahulu”.

Aku berhasil melalui masa-masa sulit itu di RS ini. Kali ini aku diizinkan pulang oleh dokter karena keadaan mulai berangsur membaik. Jika sebelumnya kami keluar sendiri, kali ini dokter yang mengizinkannya. Aku bersyukur, aku pulang sebelum Natal, 21 Desember 2018. Doaku didengar Tuhan Aku tidak ingin Natal ada di RS, aku ingin mengikuti Misa. Setiba di rumah, demam mulai bisa dikendalikan, tidak setiap hari lagi, namun nafas masih belum teratur. Berdiri pun belum kuat, namun sudah mampu duduk bertahan setidaknya 20 menit. Tidak terbilang lagi orang-orang yang membezukku, mendoakan, memberi semangat, dan menghiburku di rumah sakit maupun di rumah.

Malam itu, teman OMK kembali hadir membezukku di rumah dan memberikan aksi solidaritas kepadaku, disusul pastor paroki. Jujur, aku bahkan sampai tidak ingat berapa kali pastor membezukku di RS maupun ke rumah. Aku merasa sungguh terberkati. Dari sejak itu aku bertekad tidak akan melepaskan OMK ini. Aku mau lebih sungguh lagi melayani di altar Tuhan. Aku tidak pernah menyangka bisa bertahan sampai saat ini jika tidak karena dukungan dan doa semua orang yang mendoakanku. Suatu ketika, aku lupa tanggalnya, pastor rekan datang ke rumah bersama prodiakon memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Jujur aku takut dan merasa akan kembali kepada-Nya. Ternyata menerima perminyakan bukan berarti akan ‘pergi’, malah memberikan kekuatan besar dalam hidupku.

Aku belum bisa ikut Misa di Gereja pada malam Natal tahun itu. Namun, Natal pagi, aku bertekad ikut Misa. Sepanjang Misa berjalan, aku hanya duduk dan berupaya ikut bernyanyi meski nafasku belum terlalu kuat. Aku merasa ada kekuatan besar ketika saat berada dalam Gereja. Aku mampu bertahan selama di dalam Gereja serta dilanjutkan acara pesta di luar Gereja. Aku sungguh bersukacita dalam Natal ini. Mukjizat di bulan Desember kurasakan sangat nyata. Banyak yang mengatakan tidak menduga aku tak mampu bertahan dalam kondisi itu. Namun, memang Tuhanlah yang memiliki hidup ini.  Jika Dia mengatakan “Tidak”, separah apa pun kondisinya itu takkan terjadi.  Meski sakit belum sepenuhnya hilang, kini aku berdamai dengan-Nya. Hari-hari selanjutnya yang kujalani adalah berobat jalan dan terus berobat.

Awal tahun 2019, saat ingin melanjutkan kuliah, aku kembali cek darah di RS karena tidak ada perubahan pada hampir seluruh persendiaanku (bengkak, kaku, hangat), ternyata aku mengidap penyakit “autoimun jenis RA (Reumatik Antristik)”. Suatu penyakit langka dan belum diketahui penyebabnya serta obatnya. Untuk berjalan saja sangat sakit. Saat itu aku hampir menyerah. Kuliahku terhenti tiga semester. Selama itu pula aku bergumul dengan Tuhan. Pada Agustus 2020, aku menemukan jawaban atas doaku. Aku merasa pulih kembali dan Tuhan mengizinkanku lanjut kuliah. Puji Tuhan, tahun 2021 aku hampir berhasil mendapat gelar Sarjana Pendidikan. Tinggal menunggu jadwal ujian komprehensif. Terimakasih Yesusku, Engkau selalu punya cara menolongku. Engkau selalu ada bagaimanapun kondisiku. Ampuni aku Tuhan jika sering tidak mengerti akan rencana-Mu. ***

Cemburu Dengan Waktu

Selama dua puluh tahun usia pernikahannya (2001-2021), pasangan Petrus Nyoto Triatmojo dan Nunung Kristayuni hanya mengalami ‘cemburu waktu’ karena membuat kebersamaan tidak maksimal, berkurang.  “Tidak cemburu karena wanita idaman lain (WIL) atau pria idaman lain (PIL), karena kami saling percaya. Saya pernah cemburu waktu, saat itu suami sedemikian aktif dalam kegiatan gereja sehingga kebersamaan dalam keluarga berkurang. Namun, seiring waktu, saya dapat memahaminya. Itu semua menjadi berkat bagi keluarga dan sesama,” ucap Nunung.

Ibu dua anak ini mengungkap upaya yang dilakukan untuk menjaga kepercayaan, yakni saling mendoakan. “Walau terkadang dirasa berat, apalagi kalau pasangan berada di tempat berbeda, namun jadi lebih ringan saat komunikasi berlangsung dengan penuh kejujuran. Kami pernah jalani hubungan jarak jauh atau LDR selama empat bulan. Saat istri sedang hamil tiga bulan dan sedang butuh perhatian, kami saling mendoakan dan berkomunikasi lewat telepon. Dengan mempertimbangkan persalinan pertama dijalani, kami berkumpul lagi. Justru saat persalinan, saya dan bidan bekerja sama mengurusnya,” ungkap Petrus.

Dari pengalaman berumah tangga, langkah-langkah atau resep yang dapat dilakukan pasangan suami maupun isteri adalah saling mendoakan dan mengandalkan Tuhan, saling percaya dan mencinta, selalu terjalin komunikasi, dan kejujuran/tidak ada dusta di antara pasangan. (hrd)

Yang Utama & Pertama Seiman

Kelahiran dan kematian bagian dari misteri kehidupan. Begitupun dengan jodoh atau pasangan hidup. Tiada yang dapat memastikan suami atau istri seseorang. Ada yang beranggapan,  jodoh dianggap takdir,  walaupun  ada perjodohan atau diatur  “mak comblang”.

Ketika Anak Berani Bertanya

“Sudahlah jangan banyak bertanya!”,  ” Cerewet amatlah kau!”   Tanpa disadari orangtua sering mengatakan  dua kalimat tersebut kepada anak-anaknya.  Masih banyak kalimat lain yang senada dan dianggap sebagai hal biasa.  Tetapi sesungguhnya,  kalimat tersebut menjadi “pembunuh” kreativitas anak.

Tetap Merasa Khawatir

Tentu ada kekhawatiran atas pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19), walau sekarang dalam era New Normal. Kekhawatiran tersebut beralasan, karena hingga kini belum ada vaksin atau obatnya. Atas keadaan ini, langkah pencegahan diri sendiri dan keluarga, saya selalu ingatkan agar selalu memakai masker dan selalu menyediakan hand sanitizer saat bepergian.

Terpaksa Banting Stir

Saat mendampingi tiga anak belajar dari rumah (learning from home) silam dalam masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19), banyak waktu saya tersita karena harus menemani mereka belajar secara online. Ada sisi positifnya juga bagi saya: harus bersikap lebih cerdas agar dapat menambah penghasilan keluarga dan asap dapur terus mengepul.  Semula, saya tidaklah pandai berjualan, kini banting stir berjualan dari rumah, karena penghasilan suami berbeda dibandingkan waktu sebelumnya.