Category Archives: Renjana Sabda

Doa  Bagi yang Meninggal

Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman (2 Nopember 2021)
2 Mak 12:43-56; Mzm. 130:1-2,3-4, 5-6a. 6-7, 8;
1 Kor 15:12-34; Yoh 6:37-40

 

Mengapa orang meningggal kita doakan? Mendoakan arwah orang yang meninggal berarti mempercayakan mereka kepada Tuhan. Orang yang sudah meninggal kembali bersama Allah di dalam sorga. Namun, belum tentu semua orang yang meninggal langsung masuk sorga. Mereka berada di api pencucian. Maka sering orang berpikir bahwa mendoakan arwah, berarti memohon supaya arwah itu dikeluarkan dari api pencucian. Maka, tanpa sadar kita berpikir bahwa api pencucian adalah tempat membersihkan arwah dari dosa-dosanya. Ada yang menggambarkan api pencucian itu seperti neraka untuk dosa kecil. Api pencucian dimengerti sebagai tempat hukuman sehingga mendoakan arwah dianggap sebagai upaya untuk memohonkan keringanan atas hukuman atau bahkan pembebasan.

Pandangan di atas kurang tepat. Api penyucian adalah tempat untuk membuat orang menjadi lebih suci. Naik ke surga adalah menghadap dan bersatu dengan Allah. Maka bila manusia diperkenankan menghadap Allah, menjadi satu dengan Allah, orang itu pun disucikan. Bagi manusia ini adalah suatu perubahan total bagi manusia yang mengarahkan hidupnya kepada Allah. Boleh diharapkan, orang beriman sudah terarah kepada Allah, tetapi mungkin belum cukup. Allah masih menuntut penyerahan total. Doa yang kita panjatkan itu untuk mendukung penyerahan orang yang meninggal itu untuk menghadap Allah.  Kita menghadap Allah bersama mereka, dan mempercayakannya  kepada cinta dan belas kasihan Tuhan. Maka, mendoakan arwah berarti menghadap Tuhan bersama dengan mereka dan mengalami kesatuan dengan mereka.

Yang paling pahit dalam kematian adalah keterpisahan. Orang yang sudah meninggal secara ragawi (kasat mata) tidak ada. Semua ikatan lahiriah diputuskan oleh kematian. Segala kontak kita dengannnya seakan tenggelam dalam kehampaan, tidak ada tanggapan. Apakah itu berarti musnah juga cinta kita kepada mereka atau sebaliknya? Kita percaya, orang masih bisa berkomunikasi, hanya saja kita tidak bisa mendengarkan jawabannya secara lisan. Salah satu sarana berkomunikasi dengan mereka sudah meninggal melalui doa.  Melalui dan di dalam doa kita bersama mereka menghadap Allah. Kita berdoa dalam kesadaran bahwa kita sama-sama dicintai Allah. Kita masuk dalam persekutuan orang kudus, sebab sama-sama dicintai oleh Yang Kudus. Doa kita untuk para arwah adalah penghayatan dan pengungkapan iman dalam kesatuan dengan mereka di hadapan Tuhan.

Kita merasa diri bersatu dalam iman dengan mereka yang telah meninggal. Maka kita tidak hanya berdoa bersama mereka, tetapi juga berani memohon bantuan dari mereka. Mereka tetap hidup, namun tidak secara ragawi.

Hari ini mendoakan arwah semua orang beriman. Kita memperluas perhatian, jauh di luar lingkungan sendiri, mendoakan mereka yang terlupakan;  yang tidak punya orang yang bisa diajak menghadap Tuhan bersama. Dengan mendoakan arwah orang yang sudah meninggal, sekaligus kita merenungkan hidup sendiri dan ikut menyerahkan diri kepada Alah. Peringatan arwah semua orang beriman ini hendaknya menjadi jalan perenungan mengenai misteri maut dalam kehidupan kita pribadi. Kita pun suatu waktu seperti mereka yang sudah meninggal. ***

Sukses Menurut Injil

Hari Raya Semua Orang Kudus (1 Nopember 2021)
Why 7:2-4, 9-14; Mzm. 24:1-2, 3-4ab, 5-6;
1Yoh 3:1-3. Mat 5:1-12a

 

Apakah Anda ingin hidup sukses? Ada banyak tawaran melalui brosur, buku, seminar, internet, dan aneka penawaran lain sebagai jalan sukses.  Sukses juga menjadi kata kunci dalam setiap kegiatan dan perjuangan manusia. Setiap orang ingin sukses dalam karier, studi, bisnis, percintaan, keluarga, dan sukses dalam banyak hal lain.  Sukses tidaknya seseorang kadang hanya diukur dari penampilan luarnya. Orang yang berdasi, bermobil pribadi ke kantor sering dipandang sukses dalam kariernya. Orang yang tinggal di perumahan mewah pandang sukses hidupnya. Sukses tidaknya seorang murid kadang diukur dari prestasinya; misa menjuarai aneka lomba akademis dan non akademis. Pada saat level inilah kesuksesan seseorang diukur dari prestasi, kekayaan, kehormatan, jabatan, status sosial, gaji dan harta yang melimpah.

Lalu siapakah yang disebut sukses menurut Injil? Injil hari ini tidak secara langsung berbicara  tentang kesuksesan. Makna kesuksesan menurut bacaan Injil ini tersirat dalam sabda bahagia Yesus. Sabda bahagia ini harus ditempatkan dalam konteks keseluruhan pewartaan Yesus, terutama khotbah Yesus di bukit. Dalam khotbah di bukit Yesus mewartakan Kerajaan Allah – Allah yang memerintah dan berkuasa. Kuasa Allah ini bekerja di tengah-tengah kehidupan manusia. Di mana dan kapan Kerajaan Allah itu bekerja dan berdaya guna? Kerajaan Allah hadir, bekerja dan berdaya guna pada orang miskin, orang yang berdukacita, orang yang lembut hati, orang yang haus akan kebenaran, orang yang berbelaskasih pada orang  lain, orang yang suci hatinya, orang yang mengusahakan perdamaian, dan  murid-murid Kristus yang rela menderita demi nama-Nya. Sebab mereka yang hidup miskin, terhina, tertindas, menderita merupakan orang-orang yang paling mudah  membuka diri kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang mudah merasa bergantung pada Allah. Mereka yakin bahwa dirinya sendiri tidak mampu berbuat apa  pun demi keselamatan dan kebahagiaannya.

Sikap yang sama ditujunjukkan oleh Yesus dengan contoh dan perumpamaan tentang anak kecil, “Biarkanlah anak-anak itu…. sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 19:14). Anak kecil adalah pribadi yang paling bergantung pada orang lain, paling terbuka bagi dominasi dan kekuasaan orang lain. Demikianlah hendaknya manusia di hadapan Allah. Manusia seperti inilah yang merasa bergantung dan bisa menyandarkan diri kepada Allah. Bagi merekalah Kerajaan Surga. Kalau begitu sukses menurut Injil bukan terletak pada kekayaan, kehormatan, kedudukan, atau status sosial seseorang, melainkan pada sikap sejauh orang itu rela dan membuka diri untuk dipimpin dan dikuasai oleh Allah.

Hari Raya Semua Orang Kudus mengingatkan kita akan identitas dan tujuan hidup manusia. Hidup dan perjuangan manusia tidak memiliki tujuan pada dirinya sendiri, tetapi hanya pada Allah. Kapan manusia mencapai kesuksesan dan keberhasilan hidupnya secara sempurna? Kesuksesan dan keberhasilan hidup menjadi sempurna  tatkala manusia sudah masuk dalam himpunan besar umat Allah di kerajaan-Nya. Kebahagiaan sejati terwujud ketika seseorang sepenuhnya menaruh harapan kepada Kristus, seperti dikatakan pada bacaan kedua. Ketika karier dan kekayaan kita terhambat, karena kita adalah murid-murid Kristus, saat itulah kita mulai menjejakkan kaki dalam barisan orang kudus. Bukankah ini memenuhi sabda Tuhan, “Berbahagialah kamu, kalau diejek, dianiaya dan difitnah karena Aku; bersukacita dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di Surga” (Mat 5:11-12a).***

Cintai Allah – Cintai Sesama

Hari Minggu Biasa XXXI (31 Oktober 2021)
Ul 6:2-6;  Mzm 18:2-3a. 3bc–4, 47, 51ab;
Ibr 7:23-28; Mrk 12:28b-34

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang menjawab dengan tepat pertanyaan dari seorang ahli Taurat tentang hukum yang paling utama. Sebelumnya, Yesus tiga kali ditanyai oleh imam, orang Farisi, dan orang Saduki tentang hal yang sama. Pertanyaan keempat itu ternyata dengan motivasi yang tulus, bukan untuk mencobai atau menjebak Yesus.

Pertanyaan tentang hukum utama merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para ahli Taurat pada zaman Yesus. Pada waktu itu orang-orang Yahudi harus menghafalkan ratusan hukum tambahan yang berasal dari adat nenek moyangnya. Karena sekedar menghafal, mereka tidak bisa membedakan antara hukum yang penting (utama) dan hukum yang kurang penting. Pertanyaan itu sesungguhnya sudah dijawab oleh beberapa ahli Taurat dan pemimpin agama Yahudi. Tetapi jawaban mereka umumnya menyangkut hukum-hukum tertentu, yang darinya dapat dilekatkan hukum-hukum yang lain, sehingga mereka berhasil menyusun berbagai kelompok hukum.

Jawaban Yesus atas pertanyaan penting tersebut sangat memuaskan ahli Taurat. Dilihat dari “kacamata” masyarakat Yahudi jawaban tersebut asli dan tegas. Perintah untuk mencintai Allah dengan seluruh pribadi dan perintah untuk mencintai sesama sudah ada dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Hanya saja, kedua perintah itu disebutkan secara terpisah, amat berjauhan satu dengan yang lain. Lihat dan baca Kitab Ulangan (Ul 6:4-5) dan kitab Imamat (Im 19:18). Orisinalitas jawaban Yesus terletak pada makna “sesama” yang harus  dicintai. Dalam pandangan Yahudi waktu itu, sesama yag pantas dicintai hanyalah mereka yang beragama Yahudi. Pandangan Yesus tentang sesama adalah siapa saja yang paling membutuhkan cinta kita.

Hal lain yang penting diperhatikan dari rumusan hukum yang utama itu ialah motivasi dari cinta kepada Allah. Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa itu bukan sekedar kepercayaan rasional teoritis yang berarti kepercayaan tentang Allah, melainkan juga dasar dari praktek ibadah kepada-Nya, bahkan dasar moral untuk mengasihi-Nya dengan seluruh kepribadian kita. Hal ketiga yang dapat digali dari Injil hari ini adalah bahwa pelaksanaan cinta kepada Allah dan sesama yang lebih penting dari semua korban bakaran dan korban sembelihan yang menjadi ibadat penting  bagi orang Yahudi pada zaman Yesus itu. Bila ajaran itu diterapkan pada diri kita sekarang, dapat berarti bahwa pelaksanaan cinta kepada Allah dan sesama lebih penting daripada ibadat-ibadat lahiriah. Tentu saja, ajaran itu tidak dapat ditafsirkan secara ekstrim, seolah-olah ibadat lahir itu tidak penting sehingga mengabaikan pelaksanaan cinta kepada Allah dan sesama.

Di samping tema pokok tentang kasih, Gereja menyediakan tema lain melalui bacaan kedua hari ini, yakni dari Surat Ibrani. Tema itu menyangkut soal Imamat Tuhan Yesus Kristus. Berbeda dengan imamat para imam Yahudi pada zaman-Nya, Yesus memiliki imamat yang lain, yang jauh lebih luhur dan lebih tahan uji, yang sudah dilambangkan oleh imamat dari tokoh Perjanjian Lama, yakni Imam Melkisedek. Selain itu, keunggulan Imamat Yesus juga ditegaskan dengan menunjukkan kebesaran-Nya sebagai Imam Besar yang saleh, tanpa salah, dan  tanpa noda.***

Erat Bersatu Dengan-Nya

Hari Minggu Biasa XXX (24 Oktober 2021)
Yer 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab, 2dc-3, 4-5, 6;
Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52

 

Kebingungan generasi sekarang ini diwarnai oleh ketidakpastian akan kebenaran suatu berita, terutama hoax. Kebenaran suatu berita mutlak diperlukan, agar orang dapat bersikap secara benar pula. Demikian juga dengan nenek moyang kita, sejak dulu mereka membutuhkan nabi-nabi sejati yang mampu memberitakan kebenaran suatu peristiwa yang menuntut sikap yang benar terhadap kenyataan peristiwa tersebut.

Salah satu nabi utusan Allah adalah Yeremia  yang hidup sekitar tahun 650-586 SM. Pada masa itu Kerajaan Israel di Utara sudah mengalami kehancuran dan kerajaan Yehuda di Selatan juga menjelang kehancuran dan pengasingan ke Babilonia. Semua peristiwa itu akan terjadi, tetapi Nabi Yeremia menubuatkan suatu kenyataan bahwa Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya; dan menunjukkan sikap  umat yang sepantasnya terhadap Tuhan, yaitu memuji syukur kepada-Nya. Karena dosa, umat Allah akan mengalami penderitaan dan bahkan kehancuran dalam segala bidang. Namun demikian Nabi Yeremia tetap melihat bahwa Allah akan menolong umat-Nya dari segala penindasan yang membawa penderitaan dan kesengsaraan. Kepercayaan Nabi Yeremia begitu kuat, sehingga mampu berkata,  “Allah telah menyelamatkan umat-Nya”.

Penyelamatan telah terjadi, sedang terjadi,  dan akan terus terjadi dalam kehidupan manusia. Tuhan selalu menyelamatkan umat- Nya. Keyakinan iman akan Tuhan yang selalu menyelamatkan inilah keyakinan yang berdasarkan pada kenyataan sejarah. Kembalinya umat Allah dari Mesir, dari penindasan bangsa  kafir adalah bukti tindakan tangan Allah dalam menyelamatkan umat-Nya. Tema pembebasan adalah tema pokok penyelamatan Allah yang nyata, dimulai dari pembebasan Abraham dari lingkungan kafir, pembebasan  Israel dari Mesir, dari Syria, dari Babilonia, dan akhirnya pembebasan umat manusia. Umat manusia diselamatkan  bukan hanya dari penindasan sesamanya, tetapi juga dari kuasa dan perbudakan dosa.

Yesus Kristuslah  pengantara keselamatan Allah bagi manusia digambarkan dalam Surat Kepada Orang Ibrani. Yesus digambarkan sebagai Sang Imam Agung Sejati yang tidak mencari penghormatan bagi diri-Nya sendiri. Di dalam pribadi Yesus, Allah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban penebusan dosa umat manusia. Persembahan diri yang hidup dan berkenan bagi Allah dalam persatuan dengan Imam Agung Yesus Kristus adalah sikap dan usaha untuk semakin bersatu dengan Yesus Kristus.

Injil hari ini mengungkapkan kepekaan dan keterlibatan pribadi Yesus akan keluhan dan permohonan seorang pengemis yang buta. Pengemis ini mewakili golongan lemah, miskin, dan tertindas. Golongan ini tidak mempunyai tempat terhormat di masyarakat, tetapi Yesus menyapa dan menempatkannya sebagai sahabat yang berhak dilayani. Yesus pun mengabulkan permohonannya, sehingga pada saat itu juga orang buta itu bisa melihat.

Tuhan Yesus Kristus sebagai raja keselamatan bagi manusia tidak memerintah dengan kuasa demi kemuliaan-Nya, tetapi melayani manusia dengan kepekaan sempurna. Tuhan Yesus terut merasakan dan mengalami penderitaan manusia. Namun karya penyelamatan Allah ini menuntut sikap iman,  yaitu: mengakui kuasa pribadi Yesus yang mampu membebaskan segala penderitaan manusia dan mengakui diri sendiri sebagai orang yang sungguh membutuhkan kerahiman Allah. Pengalaman akan karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus, membuat si buta yang tadinya hanya duduk di pinggir jalan, menjadi berinisiatif dan aktif mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Akhir perjalanan Yesus adalah Kalvari, Gunung Tengkorak, alias penderitaan dan maut. Kita telah menerima karunia keselamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus sehingga kita pun semakin erat bersatu dengan-Nya. Hal itu dapat kita lakukan dengan sikap serta tindakan nyata terhadap sesama. ***

Kesanggupan Menanggung Penderitaan

Hari Minggu Biasa XXIX (17 Oktober 2021)
Hari Minggu Misi Sedunia
Yes 53:10-11; Mzm. 33:4-5, 18-19, 20,22;
Ibr 4:14-16; Mrk 10:35-45

 

Untuk memahami maksud bacaan hari ini, memerlukan tiga ayat yang mendahuluinya. Dalam ayat sebelumnya, untuk ketiga kalinya Yesus berbicara mengenai sengsara yang akan menimpa-Nya. Tetapi para rasul tidak mengerti perkataan itu. Hal itu kentara dari sikap Petrus yang menarik Yesus ke samping dan menegur Dia. Sikap lebih tegas lagi ditunjukkan Petrus saat Yohanes dan Yakobus memohon supaya dalam kemuliaan Yesus nanti boleh “duduk di sebelah kanan dan kiri-Nya.” Dengan tegas Yesus menjawab, “Kamu tidak tahu yang kamu minta”. Selanjutnya Yesus mulai berbicara mengenai sengsara-Nya, bukan sebagai nubuat atau ramalan, tetapi sebagai pokok kehidupan.

Jawaban Yesus kepada Yakobus dan Yohanes singkat tetapi padat. Yesus mengatakan bahwa mereka harus minum dari piala penderitaan dan ditenggelamkan dalam sengsara. Lagi-lagi, mereka tidak memahami hal itu. Dengan mudah saja mereka menjawab, “Kami dapat”. Mungkin mereka mengira bahwa sengsara itu hanya semacam tes atau syarat untuk masuk ke dalam kemuliaan. Yesus menjawab bahwa dengan penderitaan semacam itu, kemuliaan tidak terjamin. Kemuliaan akan diberikan oleh Bapa dengan sukarela kepada orang yang dipilih-Nya. Orang  yang menyatakan kesatuannya dengan Yesus dalam penderitaan-Nya, boleh berharap menjadi satu dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Yesus telah menyerahkan diri dalam ketaatan mutlak kepada Bapa-Nya waktu tergantung pada salib, begitu juga para murid dan pengikut-Nya dituntut juga setia dalam penderitaannya.

Setelah berbicara mengenai sengsara dan perderitaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa sikap yang dituntut adalah kerendahan yang dinyatakan dalam pelayanan. Kondisi kehidupan sosial dan politik waktu itu,  pihak yang di atas menindas yang di bawah. Yesus tidak mau hal yang sama terjadi di antara para murid. Menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan, orang terkemuka pada dasarnya adalah hamba. Pemimpin adalah orang yang siap dan rela meninggalkan segala keinginan akan kehormatan,  pujian, dan kemuliaan. Inilah jawaban yang jelas dan tegas kepada Yakobus dan Yohanes. Dalam hal kepemimpinan, Yesus memberikan diri-Nya sebagai contoh. Yesus datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Pelayanan-Nya tidak sekedar membantu orang lain, tetapi kalau perlu juga mempertaruhkan jiwa bagi mereka.

Yesus adalah teladan.  Hal ini menjadi amat jelas dari bacaan kedua. Imam besar kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (lih. Ibr 4:15). Yesus menjadi senasib dengan kita, bukan hanya secara lahiriah dengan menerima penderitaan manusia, tetapi juga mengalami kegelapan dan diperlakukan secara jahat oleh pihak-pihak yang tidak menyenangi-Nya. Ia juga mengalami “dicobai” oleh setan sampai tiga kali.  Setan mencobai supaya Yesus memanfaatkan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah demi keuntungan-Nya sendiri. Yesus menolak godaan setan itu. Ia hanya mau taat secara penuh kepada Bapa-Nya seperti terjadi di Taman Getsemani.  “Jangan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mrk 14:36).  Konsekwensi dari semua sikap itu adalah salib.

Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang sengsara Sang Penebus. Pada bacaan hari ini hanya dikutip ayat-ayat terakhir yang berbicara mengenai hasil penderitaan itu. Dalam bacaan ini, sengsara dilihat dari kepenuhan ketaatan sampai mati, bahkan mati di salib. Dalam  Kitab Yesaya juga dikatakan, “Sebagai orang benar, hamba-Ku akan membenarkan banyak orang dan memikul kejahatan mereka.” Ia tidak hanya taat kepada Allah, tetapi Ia juga menjadi senasib dengan orang-orang lain. Karena kesetiaan   Yesus dengan manusia, kita juga bersatu dengan Bapa. Yesus yang menjadi perantara antara Allah dengan manusia. Maka dengan mengambil bagian dalam penderitaan Yesus, kita pun diperbolehkan menempuh jalan kepada Bapa dan bersatu dalam kemuliaan Tuhan Yesus. ***

Totalitas Pengikut Yesus

Hari Minggu Biasa XXVIII (10 Oktober 2021)
Keb 7:7-11;  90:12-13, 14-15, 16-17
Ibr 4:12-13; Mrk 10:17-30

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan seorang pemuda yang kaya, datang  kepada Yesus. ”Apa yang harus kuperbuat agar memperoleh hidup kekal?” tanya pemuda itu. Yesus menjawab  bahwa syarat untuk memperoleh keselamatan adalah mentaati Hukum Taurat, seperti: jangan membunuh, jangan berzinah,  jangan mencuri, jangan mengucap saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, dan hormatilah ayahmu dan ibumu!

Orang muda itu merasa telah melaksanakan segala perintah Allah itu dengan baik, tetapi menurut Yesus ada yang kurang. Ada lagi yang  harus dilakukan orang muda itu. “Pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari, dan ikutlah Aku,” kata Yesus.  Mendengar perkataan Yesus itu, pemuda itu pun kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.  Mengapa?

Dalam kisah di atas, orang muda yang kaya tadi adalah pencari kebaikan sejati. Ia orang yang baik, sebab telah melaksanakan semua perintah Allah. Ia juga sosok orang muda yang ideal, sebab di usia mudanya sudah melaksanakan perintah Allah. Pemuda itu orang yang futuristik, berpandangan jauh ke depan.  Namun di balik kebaikan itu, ada kekurangannya. Pemuda itu belum siap untuk menghidupi kebaikan sejati, yaitu melepaskan semua hartanya. Ia ingin mencapai kebahagiaan sejati, tetapi menjadi ragu dan takut ketika harus melepaskan segala miliknya. Pemuda itu masih mempunyai kelekatan yang kuat terhadap harta bendanya.

Permintaan Yesus terhadap pemuda itu memang sangat radikal, bahkan terkesan tidak masuk akal. Yang dilakukan pemuda itu menurut Yesus sudah baik, tetapi belum cukup. “Juallah semua harta milikmu, berikanlah kepada orang miskin!” kata-Nya. Yesus mensyaratkan untuk mengikuti-Nya adalah tanpa syarat. Jika hal demikian terjadi pada diri kita, apa yang akan kita lakukan?   Dalam Injil tidak dijelaskan secara jelas identitas pemuda tersebut. Maksud kisah itu untuk contoh, bahwa untuk mengikuti Tuhan tidak bisa setengah-setengah, mesti penuh totalitas. Tidak juga cukup dengan melaksanakan perintah  (aturan) dan menjauhi larangan Tuhan, tetapi harus bertindak nyata (menjual harta dan membagikan kepada orang miskin).

Pemuda yang datang kepada Yesus itu menghormati Yesus. “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat?” katanya. Yesus menjawab, “Mengapa kau katakan Aku baik?  Tak seorangpun yang baik selain daripada Allah saja”.  Dengan pertanyaan balik itu, Yesus mau mengarahkan segala perhatian langsung kepada Allah; bahwa yang baik adalah Allah dan datang dari pada-Nya. Selanjutnya Yesus menegaskan semua dilakukan pemuda itu sejak masa mudanya, sudah baik, tetapi belumlah cukup, sebelum pemuda “menjual” semua miliknya. Tetapi apa yang terjadi, pemuda itu tidak berani melakukan yang diperintahkan Yesus.

Bagian kedua kisah itu masih berkaitan dengan kekayaan.  “Alangkah sukarnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah,” kata Yesus. Adalah mustahil seekor unta melewati lubang jarum. Tetapi sesuatu yang mustahil itu, bagi Allah  bisa. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.  Contoh atau perumpamaan tentang pemuda di atas, sebetulnya tekanannya tidak pada kekayaan, melainkan pada kesanggupan mengikuti Yesus secara total dengan meninggalkan segala-galanya. Kalau seseorang melekatkan diri pada harta benda, tidak dapat menjadi murid dan mengikuti Yesus. Lalu bagaimana, kalau tantangan yang sama ditujukan kepada kita?  Sanggupkah?***

Cinta Agama dan Bangsa

Hari  Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 2021)

Sir 10:1-8;  Mzm. 101:1a, 2ac, 3a,6-7;

1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21

 

Hari-hari ini warga bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya.  Rakyat dari kampung, pedesaan hingga perkotaan  memeriahkan kemerdekaan dengan caranya masing-masing.  Mereka mengungkapkan rasa syukur dengan berbagai bentuk; doa bersama (tirakatan), upacara, dan aneka perlombaan dari funny hingga serius.  Gereja pun tidak ketinggalan. Setiap hari kemerdekaan, umat Katolik selalu merayakannya dalam Perayaan Ekaristi. Setelah Perayaan Ekaristi, biasanya juga ada aneka bentuk kegiatan untuk memeriahkannya kemerdekaan

Dalam bacaan pertama, kita menemukan nasihat-nasihat yang berguna, baik untuk pemerintah maupun warga negara. Dikatakan bahwa pemerintah yang baik adalah pemerintah yang diangkat oleh Tuhan sendiri. Pemerintah yang baik adalah yang mempertahankan ketertiban, bersikap arif, menjaga keteraturan, membangun kesejahteraan, tidak lalim, tidak menggunakan kekerasan, tidak main uang, dan tidak membinasakan rakyatnya. Karena kekuasaan itu berasal dari Tuhan, maka pemerintah juga harus menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan, yakni demi kesejahtearaan seluruh rakyat. Hal senada juga diharapkan dari warga negara. Ditegaskan bahwa yang diharapkan dari warga negara sama dengan apa yang diharapkan dari pemerintah.

Bacaan kedua dari Surat Petrus, hal yang sama ditegaskan secara lebih rinci, bahwa warga negara, demi Allah dan karena kehendak Allah, diharapkan tunduk kepada pemerintah. Salah satu tugas pemerintah adalah “menjaga”; menghukum orang  berbuat jahat dan menghormati orang yang berbuat baik.  Orang-orang beriman juga dinasihatkan supaya hidup sebagai orang merdeka dan tidak menyalahgunakan kemerdekaan untuk menutupi kejahatan-kejahatannya. Orang beriman Kristen layak hidup sebagai warga negara yang baik, dengan taat kepada pemerintah yang sah. Pemerintah yang arif juga mesti membangun kesejahteraan tanpa ada diskriminasi.

Tugas warga negara itu lebih rinci dijelaskan dalam Injil. Dalam Injil dikatakan, Yesus menegaskan kepada orang-orang Farisi dan orang-orang pendukung Herodes (yang disebut Herodian) warga negara memang layak memberikan kepada pemerintah apa yang merupakan hak pemerintah (membayar pajak).

Orang-orang Farisi mencoba menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka membawa orang-orang Herodian yang sangat pro pemerintahan Romawi. Mereka ingin menempatkan Yesus pada posisi yang terjepit. Perlukah membayar pajak kepada kaisar? Pertanyaan yang sederhana ini memiliki dampak begitu besar. Jika Yesus menjawab “perlu” maka Dia akan dihina dan dicemooh orang banyak karena dianggap memihak penjajahan Romawi. Tetapi jika Yesus menjawab “tidak perlu”,  maka Dia akan ditangkap karena memberontak terhadap kebijakan pemerintahan Romawi. Pertanyaan ini untuk mengurung Yesus ke dalam situasi harus memilih salah satu sehingga kehilangan kebebasan-Nya karena ditangkap dan dipenjarakan.

Tetapi, tanpa disadari sebenarnya pertanyaan ini menunjukkan kemunafikan orang Farisi. Mereka bersuara keras menentang pemerintahan Romawi, tetapi kali ini memakai orang-orang pro Romawi untuk menangkap Yesus. Kemunafikan mereka dibongkar oleh Yesus. Mereka berpura-pura tidak mau mengakui kedaulatan pemerintah Romawi tetapi mau mengambil semua keuntungan dari pemerintah Romawi. Yesus meminta contoh mata uang untuk pajak. Ternyata mata uang itu adalah mata uang bertanda Romawi. Ini berarti mereka sebenarnya tidak keberatan untuk mengadopsi sistem ekonomi Romawi selama itu menguntungkan mereka. Tetapi mereka anti membayar pajak karena itu merugikan mereka. Jadi, selama pemerintahan Romawi memberikan pertumbuhan di dalam ekonomi, mereka pakai uang Romawi. Tetapi jika kebijakan itu merugikan mereka, mereka menentangnya.

Menjadi orang Kristen tidak melepaskan dari kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga negara. Menjadi orang Kristen tidak akan dibebaskan dari segala hal yang dituntut dari orang lain. Orang Kristen harus taat membayar pajak. Maka menaati pemerintah juga menaati Tuhan. Mengisi kemerdekaan tidak cukup hanya berdoa, mengikuti berlomba, tetapi juga mesti mentaati dan melaksanakan hukum negara. Pemimpin mesti memberikan contoh yang baik bagi rakyat. Sebaliknya, rakyat mesti bersikap kritis terhadap para pemimpin. Setiap warga negara, tak terkecuali umat Katolik tidak boleh acuh tak acuh terhadap nasib bangsa dan negara ini.  ***

Belajar dari Kesetiaan Para Nabi

Hari Minggu Biasa XXI (22 Agustus 2021)

Yos 24:1-2a,15-18b; Mzm 34:2-3, 16-17, 18-19, 20, 21-23;

Ef 5:21-32;

Yoh 6:60-69

 

Sabda Yesus dalam Injil hari ini mungkin membuat orang terkejut. Pertanyaan  Yesus berisi sindiran keras.  “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” kata-Nya.  Bukan hanya Petrus dan kawan-kawannya terkejut, kita pun tentu terkejut kalau mendapat pertanyaan serupa. Apa maksud pertanyaan Yesus itu? Waktu itu, setelah Yesus berbicara mengenai sakramen Maha Kudus, mengenai daging, dan darah-Nya yang mau diberikan, banyak murid mengundurkan diri. Ia tidak mau menahan kepergian mereka dan menerangkan maksud perkataan-Nya tadi. Bahkan para rasul pun, juga dipersilahkan pergi kalau mau. Tetapi Petrus memberikan jawaban yang tegas, dengan memperlihatkan semangat iman yang kokoh.  “Kami percaya dan tahu, bahwa Engkaulah Kristus, Putera Allah,”  katanya.

Petrus tidak hanya menjawab pertanyaan Yesus, sebab jawaban Petrus tersebut punya arti luas. Jawaban itu adalah pengakuan imannya. “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal, dan kami percaya,” katanya.  Barangkali bagi Petrus dan kawan-kawannya, sabda Yesus itu penuh rahasia sehingga mereka tidak bisa menangkap segala yang dikatakan-Nya. Kendatipun tidak seluruhnya jelas dan sulit ditangkap maknanya, bagi Petrus  dan para rasul lainnya, sabda Yesus adalah penuntun kepada hidup yang kekal. Sebab yang menyampaikan kata-kata itu adalah Yesus, yang mereka percayai.

Tidak mengherankan bila banyak orang sulit mengerti dan memahami kata-kata Yesus dalam ajaran-Nya tentang roti hidup. Memang secara logika kata-kata Yesus itu tidak masuk akal. Kita pun mungkin akan sama dengan banyak orang itu, karena kebanyakan orang akan percaya kepada orang lain jika sudah ada bukti. Apa yang dikatakan Yesus memang tidak disertai bukti yang tampak. Dalam kumpulan orang banyak, seseorang biasanya cenderung untuk mengikuti pendapat kelompok orang yang lebih banyak, pendapat yang lebih dominan. Mungkin karena mereka malas berlama-lama berpikir untuk mencerna, tetapi juga karena demi amannya, ikut arus saja orang-orang yang berjumlah lebih banyak.

Perjalanan hidup Abraham dan Musa, banyak mengisahkan tentang kesetiaan. Abraham disuruh meninggalkan negeri asalnya tanpa bekal, selain kepercayaan kepada Tuhan yang akan menuntunnya. Lalu Tuhan mengadakan perjanjian dengannya dan menjanjikan tanah maupun keturunan. Dalam kesetiaan, Abraham harus lama sekali menunggu datangnya janji Allah itu. Akhirnya Ishak dilahirkan, tetapi Abraham disuruh mengorbankannya. Namun Abraham tetap setia dengan janjinya.

Demikian juga dengan Musa. Ia pun makin mengenal Tuhan, semakin banyak mendapatkan ujian. Jalan hidup Musa juga tidak selalu mudah. Ia harus menempuh bersama dengan bangsa yang tidak percaya dan tidak setia. Ketika mereka murtad dan membuat anak lembu emas menjadi Allah mereka, Musa menantangnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk setia kepada Allah nenek moyangnya.

Yosua hamba Musa juga memberi pertanyaan yang sama kepada umat Allah. “Hari ini kepada siapa kamu akan beribadat?” katanya.  Umat menjawab bahwa mereka akan setia kepada Allah yang telah menuntun nenek moyangnya dari tanah Mesir. Mereka tidak mau putus dengan sejarah keselamatan dan kebaikan Allah. Mereka ingin mengalami hal yang sama yang telah dialami oleh Abraham, Musa, dan semua orang yang  telah setia mengikuti Tuhan. Kendati pun tidak jelas tujuannya, mereka mau percaya kepada Tuhan dan berjalan terus pada jalan-Nya. Mereka ingin setia seperti Abraham dan Musa serta Yosua.

Kisah ketiga tokoh Perjanjian Lama bukanlah cerita romantisme, tetapi jalan hidup yang berat dan menantang. Sama seperti jalan hidup kita, hal itu menjadi jalan untuk belajar tentang kesetiaan kepada Tuhan. Dengan menempuh jalan dengan setia,  kita mulai mengenal kesetiaan Tuhan dan merasakan kekuatan yang ada dalam kesetiaan itu. ***

Belajar Mengekang Lidah

Hari Minggu  Biasa XXII

29 Agustus 2021

Ul 4:1-2,6-8;  Mzm 15:2-3a, 3cd-4ab, 5;

Yak 1:17-18, 21b-22,27; Mrk 7:1-8,14-15,21-23

 

Meskipun telah hidup di zaman modern, komunitas masyarakat di bumi Nusantara ini tidak bisa melepaskan diri dari kebiasaan dari budaya  nenek moyangnya. Upacara adat perkawinan, kematian, turun mandi anak dan lain sebagainya tetap dilaksanakan. Bahkan dalam komunitas adat tertentu,  kalau upacara adat  tidak dilakukan akan dianggap sebagai utang yang mesti dibayar. Mereka tidak mempersoalkan apakah budaya itu bertentangan dengan ajaran agamanya atau tidak.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk ke kedalaman batin dalam menjalani hidup.  Ajakan ini tampak jelas dari kata-kata yang berlawanan yang terdapat dalam Injil;  bibir dilawankan dengan hati (Mrk 7:6), adat-istiadat manusia dilawankan dengan perintah Allah, hal-hal yang dari luar, dilawankan dengan hal-hal yang dari dalam. Dalam rangka mengajak masuk ke dalam batin itu, bacaan hari ini ditampilkan. Sebagian besar Kitab Ulangan terdiri dari peraturan atau hukum, sama seperti halnya Kitab Imamat. Namun dibandingkan dengan Kitab Imamat, Kitab Ulangan sungguh istimewa. Kitab Ulangan lebih merupakan homili daripada perintah untuk melaksanakan peraturan.  Dalam pengajaran itu diberikan motivasi-motivasi untuk membangun hidup yang benar dan baik, yaitu hidup yang selalu menanggapi Tuhan dalam kasih. Hidup umat yang seperti inilah yang dapat disebut hidup yang bijaksana dan berakal budi, dan di dalam hal itulah terletak kebesaran manusia yang sebenarnya.

Maka tidak mengherankan kalau dalam Injil,  Yesus sering mengutip Kitab Ulangan. Ketika digoda oleh setan di padang gurun, Ia menangkis godaan itu dengan mengutip kitab itu. Ketika menjawab pertanyaan Ahli Taurat mengenai hukum yang paling utama (Mrk 12:28-34), Yesus juga mengutip Kitab Ulangan. Demikian menjadi jelas bahwa Yesus mau membangun hidup para murid dengan model Kitab Ulangan, yang pada waktu itu boleh dikatakan berperan sebagai suara hati umat Allah. Melalui Kitab Ulangan umat diajak kembali pada pandangan hidup yang paling dasar dan batiniah.

Pembicaraan antara orang Farisi dan Ahli Taurat dengan Yesus yang disajikan Markus menunjukkan bahwa usaha membangun kehidupan yang mendalam dan batiniah, yang dipimpin oleh suara hati yang benar, bukanlah hal yang mudah. Jauh lebih mudah berpegang pada peraturan dan hukum yang memberi petunjuk konkret dengan semua sanksi bagi pelanggarnya, sampai ke hal yang paling kecil sekalipun, misalnya cara mencuci tangan, cawan, dan perkakas lain. Orang-orang yang mempunyai cara berpikir dan bersikap seperti ini merasa cukup mendasarkan pilihan-pilihannya pada pertimbangan “boleh dan tidak boleh.” Mereka tidak berpikir lebih jauh lagi, bukan pada baik atau tidak baik, benar atau tidak benar yang penting “melaksanakan perintah”. Dengan sangat keras,  Yesus berkata kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku.”  Kata-kata ini sangat keras, karena seorang munafik pada dasarnya adalah seorang yang bermain sandiwara dalam hidupnya. Ia tidak pernah bersikap tulus, yang penting baginya adalah yang lahiriah dilakukan, tanpa peduli dengan yang ada dalam hatinya. Demikian juga ia hanya melakukan kegiatan sekedar  rutinitas yang  harus diikuti atau lakukan saja, sehingga orang seperti ini tidak pernah berpikir bahwa setiap ibadah mengajak orang untuk merayakan karya kasih Allah dalam hidup dan mensyukurinya. Salah satu akibatnya, orang itu akan sangat mudah melihat orang lain dan siap menyalahkannya kalau orang itu bersikap dan bertindak tidak sesuai dengan yang dianggapnya benar. Yesus juga mengatakan bahwa segala sesuatu  dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak menajiskannya. Namun, apa yang ke luar dari mulut seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, dan lain sebagainya.

Bagi kita sabda itu kedengaran biasa, tetapi pada zaman itu,  sangatlah revolusioner. Yesus menantang orang untuk berpikir dengan cara yang revolusioner, dengan mata dan hati yang jernih. Yesus mengajak untuk meninggalkan hal-hal sepele mengenai boleh makan ini atau tidak sehingga menyita banyak tenaga dan waktu. Yesus mengajak orang untuk memberikan waktu pada hal-hal yang jauh lebih penting dan hakiki. Surat Santo Yakobus  merumuskan ajakan itu demikian, “…terimalah firman yang tertanam di dalam hatimu yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Baru kalau orang sungguh masuk ke dalam diri batiniahnya, berjumpa dengan Allah yang bersemayam di sana dan mendengarkan firman-Nya, ia dapat menjadi pendengar dan pelaku firman yang benar.

Kita diajak untuk masuk ke dalam batin untuk mengolah hidup dengan harapan dapat menjadi pelaku firman yang benar. Santo Yakobus mengistilahkan dengan “mengekang lidah.” Hal ini, menurutnya dapat dilakukan dengan mengunjungi yatim-piatu dan janda-janda,  dan menjaga diri agar tidak dicemarkan oleh dunia. Sementara itu kita sadar dan mengalami,  di sekitar kita ada bagitu banyak hal yang menghambat untuk sungguh-sungguh masuk ke dalam batin. Tinggal kita sendirilah  yang harus memilih,  ingin menjadi orang yang bijaksana dan berbudi atau pilihan lain?

Mujizat Sarana Pewartaan

Hari Minggu Biasa XXIII – Minggu Kitab Suci  Nasional

(5 September 2021)

Yes: 35:4-7a;  Mzm 146:7,8-9a, 9bc-10; Yak 2:1-5;

Mrk 7:31-37

 

Bagi orang beriman, mukjizat tidak pernah berdiri sendiri. Mukijizat tidak hanya berhenti sebagai tanda-tanda heran. Mukjizat itu harus selalu dilihat dalam rangka pewartaan. Jika mukjizat hanya dilihat sebatas tanda heran,  maka Kitab Suci akan kehilangan makna. Sebaliknya jika nilai pewartaan ini diperhatikan sungguh-sungguh, Kitab Suci akan menjadi sumber inspirasi kehidupan yang tiada kering-keringnya untuk ditimba.

Nilai pewartaan dalam setiap kisah mukjizat membawa kita pada pengenalan akan Allah yang selalu peduli akan keselamatan manusia. Melalui mukijzat itu Allah membuktikan kepeduliannya kepada hidup manusia. Manusia diselamatkan bukan pada suatu titik mati, tetapi dalam perjalanan hidupnya. Sejak zaman Yesus, sejarah umat manusia tidak pernah lagi menjadi sejarah perjuangan manusia semata, tetapi menjadi sejarah manusia bersama Allah. Sejarah dan kehidupan manusia mempunyai nilai Ilahi. Keselamatan manusia pun selalu terjadi dalam suatu lingkungan yang mempunyai pengaruh dan menentukan bagi manusia.

Dengan tegas kisah mukjizat dalam Injil Markus hari ini menunjukkan  keterbukaan pada yang Ilahi (… Yesus menengadah ke atas…) dan perlunya perhatian sehingga orang dapat terbuka hati dan telinga kepada sabda Allah (Yesus memisahkan orang yang tuli dan gagap dari orang banyak). Dari kisah mukjizat yang hanya terdapat dalam Injil Markus ini, kita melihat seolah-olah orang bisu menjadi bisu karena lidahnya terikat. Dalam Injil dituliskan: “… terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya.” Antara pendengaran dan lidah memang erat hubungannnya. Seseorang sebetulnya tidak bisu, tetapi karena lidahnya terikat, maka dia menjadi bisu. Atau  sesungguhnya orang itu tidak tuli, tetapi menjadi bisu karena tuli. Tidak adanya kata yang masuk ke telinga, sehingga alat bicaranya pun tidak dapat memproduksi jenis kata dan bunyi.

Yang jauh lebih mendalam dalam kisah ini adalah bahwa kebisuan dan kesulitan itu bukan hanya sekedar bisu tuli karena alat indera, tetapi karena hatinya. Orang yang hatinya tuli dan bisu,  tidak akan mampu mendengarkan sapaan Allah. Bagi Santo Markus hal ini nampaknya tidak asing. Dari sekian banyak kisah mukjizat yang ditulis dalam Injil-Nya,  hanya satu yang kemudian diikuti suatu sikap untuk bersedia memuliakan Allah, yaitu dalam kisah Bartimeus (10:46-52). Hal itu dimaksudkan untuk menarik pendengar akan kisah perjalanan Yesus yang selanjutnya sudah mendekati Yerusalem, kota kesengsaraan. Ada kesan bahwa lingkungan di sekitar hidup Yesus belum terbuka pada nilai lebih mendalam mukjizat Yesus. Sebaliknya justru setiap kali Santo Markus merasa perlu menyatakan hal ini dengan menuliskan bahwa Yesus mengingatkan orang di sekitarnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada orang lain, kepada orang di lingkungan sekitarnya.

Di akhir kisah dikatakan, “Mereka takjub dan tercengang dan berkata:  Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikannya mendengar, yang bisu dijadikannya berkata-kata.” Orang di sekitar Yesus itu sebenarnya bukan orang jahat, tetapi orang baik dan terbuka akan kesaksian. Tetapi hal ini tidaklah cukup bagi Santo Markus yang mengarahkan perhatian pendengar pada kisah penciptaan yang dikatakan segalanya baik adanya. Syalom – keselamatan di firdaus kini hadir dalam diri Yesus itu melepaskan lidah yang terikat, membuka telinga yang tertutup, membereskan lingkungan yang menyebabkan lidah-lidah terikat kelu.  Yang dikerjakan Yesus jangan dipandang sekedar mukjizat. Jangan hanya sekedar heran karena mkujizat, tetapi harus dicari makna dari semua mukjizat yang dikerjakan Tuhan tersebut. Sejauh mana kita mampu menangkap “mukjizat” yang dilakukan dalam hidup saat ini?