Akhirnya Selesai Juga!

Pembangunan Gereja Paroki Santo Paulus (Labuhbaru) Pekanbaru menyisakan banyak kenangan. Setelah melalui perjuangan panjang, menguras tenaga dan biaya akhirnya selesai juga.  Proses pembangunan gereja di Jalan Soekarno Hatta Pekanbaru tidaklah lancar dan tidak mulus seperti yang dibayangkan. Dua hal utama yang mesti dibereskan dengan penuh perjuangan dan doa adalah perizinan dan pendanaan. Walau banyak juga rumah ibadah agama lain yang belum tentu mengurus perizinannya, namun demi ‘keamanan’ dan tidak menimbulkan persoalan di masa mendatang, panitia sekuat tenaga memberaskan dua hal tersebut.

Itulah yang saya alami dan rasakan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Renovasi (Pembangunan) Gereja Paroki Santo Paulus, Pekanbaru. Saya ingat, sebelum pembentukan panitia, sangat terasa kebutuhan pembangunan baru gereja, karena bangunan serba guna yang ada tidak sanggup lagi menampung jumlah umat yang terus membludak tatkala Misa Kudus berlangsung. Gedung serba guna milik paroki saat itu hanya berukuran 8 meter kali 12 meter. Pada mulanya, karena Labuhbaru  saat itu masih kawasan pinggir kota masih memungkinkan dan memadai. Namun, seiring perkembangan Kota Pekanbaru dan pertambahan jumlah umat yang signifikan, walau ditambahi tenda di kiri-kanan bangunan serba guna tersebut, tetap saja tidak memadai

.

Paroki St. Paulus Pekanbaru yang diresmikan oleh Bapa Uskup Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap. (1999) mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang cepat. Umat paroki mencapai seribuan orang, sementara kapasitas tampung bangunan serba guna beberapa kali Misa Kudus hanya sanggup menampung 500-an umat. Dari situasi tersebut, tahun 2007, Pastor Paroki kala itu (P. Germano, SX) bersama Dewan Pastoral Paroki (DPP) sepakat membentuk panitia pembangunan gereja. Saat itu, saya Wakil Ketua DPP didaulat secara aklamasi sebagai ketua. Demi kemajuan Gereja dan telah menjadi kebutuhan mendesak di kalangan umat untuk beribadah dengan baik serta nyaman, saya menerima hasil pemilihan aklamasi tersebut.

Panitia yang terbentuk segera bergerak cepat. Langkah pertama: mengurus perizinan. Jujur, hal inilah yang sempat membuat kami (panitia) kewalahan dan sangat melelahkan. Mengapa? Sebab setahun sebelumnya, terbit Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006, Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat. Sebenarnya, sebelum PBM terbit, pihak paroki telah mengurus rencana ini hingga tingkat kelurahan dan kecamatan. Hanya saja, saat pengajuan kepada Wali Kota Pekanbaru ada benturan dan kendala. Pangkal balanya  terbitnya PBM ini. Mau tidak mau, kami mesti mulai lagi langkah dari awal. Dari nol, misalnya mengumpulkan tanda tangan dan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga dalam rangka pengurusan izin, sebanyak 90 (umat Katolik) dan 60 (non-Katolik).

Kami butuh waktu dua tahunan untuk mengurus  perizinan  lingkungan, dari tingkat rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), kelurahan, dan kecamatan.  Selanjutnya panitia meminta rekomendasi pada Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Pekanbaru. Panitia mengajukan pembangunan gereja. Ada pihak-pihak yang berkeberatan. Kami terus bergegosiasi dan melakukan berbagai pendekatan. Akhirnya, setelah beberapa kali pertemuan dengan FKUB, disepakati ‘jalan tengah’ sebagaimana dianjurkan FKUB, yakni pengajuan izin renovasi bangunan lama. FKUB mengungkapkan bahwa rekomendasi untuk hal ini lebih mudah dan lebih gampang pengurusannya. Disarankan agar tidak ajukan pembangunan gereja baru karena akan sulit. Panitia pun  mengikuti saran FKUB. Rekomendasi FKUB Kota Pekanbaru terbit pada Desember 2010. Enam bulan kemudian, Juni 2011, terbit izin pelaksanaan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Dinas Tata Ruang Kota Pekanbaru yang ditandatangani Wali Kota Pekanbaru.  Sebenarnya, saat pengajuan izin renovasi kepada Wali Kota Pekanbaru (dalam hal ini Dinas Tata Ruang), panitia telah membuat rancangan gambar, beserta rekomendasi FKUB Kota Pekanbaru pada Desember 2010. Akhirnya yang terjadi adalah renovasi bangunan berbentuk gereja.

Segera, setelah IMB di tangan, panitia bergerak vepat memperbaiki Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan (renovasi) sekaligus menggencarkan gerakan  pelibatan umat untuk penggalangan dana periode enam bulan pertama, Juni – November 2011. Tepat 1 November 2011, berlangsung peletakan batu pertama pembangunan (renovasi) gereja Paroki St. Paulus-Pekanbaru oleh P. Nattie, SX – mewakili Parokus P. Franco Qualizza, SX yang sedang menjalani cuti. Pembangunan gedung terus berlangsung, hingga akhirnya diberkati Uskup Padang Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap dan diresmikan bersama dengan Penjabat Gubernur Provinsi Riau pada 23 Agustus 2015. Memang cukup panjang waktu dan prosesnya, penuh dinamika, melelah dan suka-duka. Setelah kendala perizinan teratasi, kami terus gencar melakukan gerakan penggalangan dana karena kebutuhan dana untuk membangun gereja berukur 32 meter kali 59 meter ini mencapai nilai 12 miliar Rupiah. Pembangunan (renovasi) gereja ini menghasilkan bangunan baru yang mampu menampung kapasitas maksimal 2500 umat.

Dalam kepanitiaan – yang bersifat suka rela keanggotaannya – pun banyak dinamika yang terjadi. Ada personil yang penuh semangat, ada pula yang kurang bersemangat – meski mulanya juga bersemangat. Anggota kepanitiaan ada yang aktif dan pasif. Banyak pula usul-saran yang masuk, namun tidak semuanya bisa diterapkan atau digunakan. Saya berusaha dapat ‘merangkul’ semua pihak, termasuk para tokoh umat dan luar umat Katolik, terutama saat penggalangan dana. Syukurlah, berkat Tuhan pula, akhirnya pembangunan (renovasi) dapat selesai dan tuntas. Kini umat dapat beribadah dengan baik dan tenang. Saya melihat, umat semakin banyak datang ke gereja, bahkan selalu penuh setiap minggu. Selesai  pembangunan (renovasi) fisik gereja, diharapkan beriringan pula dengan peningkatan kekhusukkan dan akhlak umat. Ada peningkatan kualitas hidup beragama dan beriman umat.  Pembangunan fisik bangunan gereja boleh berhenti atau berakhir, tetapi pembangunan iman umat (Gereja) tidak akan pernah berhenti.  (hrd)

(Viktor Sihotang – Mantan Ketua Panitia Pembangunan Gereja St. Paulus, Pekanbaru)