Membangun Gereja – Memberdayakan Umat

BAGANSIAPIAPI –  Berhubung bangunan lama gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius-Bagan Tanjung, Paroki St. Petrus dan Paulus-Bagansiapiapi, Riau kurang memadai perlu dibangun baru. Peletakan batu pertama pembangunan baru gereja oleh Pastor Paroki St. Selengkapnya

Kala Gereja Kembali Dibuka

PADANG – Setelah pemerintah menyatakan masuk masa New Normal dalam pandemi Covid-19,  dalam waktu yang sama Paroki Santa Maria Bunda Yesus dan Paroki Santo Fransiskus Assisi  Padang membuka kembali gereja meng­adakan Perayaan Selengkapnya

Koperasi Sehat

PADANG –  Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2019 Koperasi Kredit (Kopdit) Lestari Padang berbeda  dari biasanya. Pelaksanaan RAT yang sudah matang direncanakan Minggu, 22 Maret 2020 dua hari sebelumnya terpaksa dibatalkan.   Selengkapnya

Salah Masuk Gereja

Saat awal-awal tinggal di kota Padang, Beneditus Kurniawan Zai, SE, 26 tahun sempat salah masuk gereja. Tahun 2014, dosen mata kuliah agama Katolik “mengarahkan” mahasiswa Katolik aktif dalam satu organisasi atau kelompok Katolik. Karena sanak saudaranya ke­banyakan Protestan, pemuda kelahiran Saiwahili Hiliadulo, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias Induk, Provinsi Sumatera Utara 17 Februari 1995 ini ‘salah masuk’ gereja. Tetapi hanya tiga bulan. Setelah mendapat informasi dari teman kuliahnya, Beni “berminggu” di gereja Katolik, Gereja Santo Fransiskus Assisi Padangbaru.
Aktivis Komunitas Pemu­da Lintas Agama (Pelita) Padang ini, selanjutnya aktif di OMK Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang. Warga Rayon Igna­tius Loyola ini juga aktif dalam berbagai kepanitiaan (Natal dan ulang tahun paroki), sebagai seksi acara. Selain kuliah dan berorganisasi, anggota Kelompok Maena Santa Maria Bunda Yesus ini juga bekerja. Beni jarang istirahat. Kuliah, kerja, hari Minggu meski capek kegiatan OMK. Ketika ikut kegiat­an OMK beban pikiran berkurang,” kata anggota Ikatan Masyarakat Nias (IMN) Padang ini. Sejak 2017, alumni strata satu (S1) Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Eka Sakti (Unes) – Akademi Akuntansi Indonesia (AAI) Padang ini aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Bunda Yesus-Padang.
Empat tahun di OMK (2017-2021), Beni merasa mendapatkan banyak te­man dan bertambah wawasannya. Ia makin tahu arti hidup sesungguhnya, yakni harus berbagi dan menjadi pela­yan Tuhan dengan ikhlas. Aktif meng­gereja telah dijalaninya sejak SD, di Sekolah Minggu (Bina Iman Anak atau BIA), berlanjut hingga SMK di kam­pung­nya, di Stasi Rafael-Hiliadulo, Paroki St. Michael Tetehesi-Idanogawo, Pulau Nias. Saat kelas X SMK (2011), ayahnya meninggal sehingga saat tamat tidak bisa langsung kuliah. Sulung tujuh bersaudara ini bekerja untuk membiayai kuliahnya.
Di luar paroki, Beni aktif di Kope­rasi Simpan Pinjam “Usaha Bersama” (KSP UB) Padang. Ia terpilih sebagai ketua dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) TB 2020 KSP “Usaha Bersama”, Minggu (28/2). Di antara ketua pengurus primer koperasi simpan-pinjam (KSP) dalam koordinasi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) “Bekatigade Sumbarinci”, Beni merupakan ketua termuda. (hrd)

 

PERUTUSAN & PEMBERIAN KUASA

Minggu Biasa XV (4 Juli 2021)
Ams 7:12-15; Mzm. 85:9ab, 10, 11-12, 13-14
Ef 1:3-14; Mrk 6:7-13

SETIAP ORANG memiliki gaya hidup dengan penampilan masing-masing. Ada orang yang meniru gaya hidup tokoh idolanya, dari cara berbusana hingga penampilannya. Ada juga orang yang punya style, gaya sendiri, tidak mau meniru siapa pun. Orang ini menjalani hidup seperti dirinya, berjalan apa adanya dan semestinya, tanpa melihat, meniru yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Seseorang dengan gaya hidupnya yang khas dan unik ini sulit dicapai.

Yesus Teladan Kepemimpinan

Hari Minggu Palma (28 Maret 2021)

Yes 50:4 – 7 Mzm. 22:8-9, 17-18a, 19-20, 23-24, Flp 2:6 – 11,

Mrk 14:1 – 15:47 (singkat Mrk 15:1-39)

 

Sejak zaman raja-raja hingga sekarang, perebutan kekuasaan terus terjadi. Bedanya,  dulu diwarnai  pertumpahan darah, tetapi sekarang tidak. Sekarang ini para elit politik dan penguasa tetap saja gontok-gontokkan, sikut sana sikut sini, saling menyerang dan memojokkan dengan intrik-intrik.  Tidak jarang menggunakan kampane hitam, menyerang pribadi lawan politik. Suasana politik pun menjadi gaduh. Mereka sesungguhnya sudah saling membunuh. Namun tidak kasat mata, layaknya perang dengan pertumpahan darah.

YESUS IMAM SELAMANYA

Hari Minggu Prapaskah V (21 Maret 2021)

Yer 31: 31-34, Mzm. 51:3,4, 12-13, 14-15, Ibr. 5:7-9

Yoh 12:20 – 33

 

Hari ini  adalah Minggu Prapaskah  terakhir. Minggu depan Gereja merayakan Hari Minggu Palma, dimulainya  Pekan Suci yang berpuncak pada Perayaan Paskah. Bacaan-bacaan Kitab Suci semakin menegaskan  posisi Tuhan Yesus sebagai penyelamat yang mesti menderita, sengsara, wafat, dan bangkit.

DALAM MURKA TUHAN ADA CINTA

Hari Minggu Prapaskah IV (14 Maret 2021)

2Taw 36:14-16,19-23; Ef 2:4-10; Yoh 3:14-21

 

BACAAN PERTAMA hari ini menampilkan renungan tentang hancurnya kerajaan Israel yang dibangun sedemikian kokoh. Kehancuran itu  berakar pada ketidaksetiaan umat terpilih kepada Allahnya. Tidak hanya sampai di situ, mereka bahkan menertawakan para nabi utusan Allah, sehingga Allah marah terhadap umat-Nya. Akhirnya bangsa terpilih ini pun dibuang oleh Allah sebagai hukuman.

YESUS BAIT ALLAH YANG SEMPURNA

Minggu Prapaskah III (7 Maret 2021)

Kel 20:1-17 (Singkat: Kel.  20:1-3, 7-9, 12-17); Mzm. 19:8-11; 1Kor. 1:22-25;

Yoh 2:13-25

DARI INJIL hari ini kita mendengarkan kisah yang agak aneh mengenai sikap Tuhan Yesus. Biasanya Tuhan Yesus bersikap lembut kepada semua orang, tetapi hari ini Tuhan Yesus marah besar saat berada di Bait Allah. Yesus  mengobrak-abrik dagangan dan mengusir para pedagang yang berjualan di Bait Allah. Yohanes mengisahkan bahwa tidak lama setelah Yesus mulai mengajar, pergi ke Bait Allah di Yerusalem. Bait Allah pada waktu itu merupakan tempat ibadat paling penting dan bergengsi bagi umat Israel.

Seperti Ular atau Ulat?

Setelah menerimakan abu sesuai pola New Normal (bukan di dahi tetapi di atas kepala), Romo Kebet duduk-duduk di beranda pastoran sambil membolak-balik buku renungan.
Romo Kebet menemukan dongeng tentang ular dan ulat. Untuk mengubah dirinya (bermetamorfosis) ular dan ulat sama-sama “bersemedi” (menyendiri) dan berpuasa.
Seekor ular, ketika akan berganti kulit (nglungsungi – Jawa) menjalani puasa. Ular akan bersembunyi, berdiam diri, dan tidak makan beberapa waktu lamanya sampai proses ganti kulitnya selesai.
Usai menjalani ritual itu, badan dan wajah ular tetap sama. Namanya tetap ular, baik sebelum dan sesudah puasa. Cara bergeraknya, sebelum dan sesudah puasa juga tetap sama. Tabiat dan sifatnya sebelum dan sesudah puasa pun sama. Bahkan setelah berganti kulit, tabiat dan sifat ular lebih ganas.
Seekor ulat, ketika akan bermetamorfosis (berganti rupa) juga menjalani puasa. Ulat binatang yang sangat rakus makan dedaunan, bahkan merusak. Wajahnya ada yang menakutkan, karena merusak tanaman mengganggu dan merugikan makhluk lain. Setelah berdiam diri dan berpuasa, ulat mengubah dirinya menjadi kepompong. Setelah itu kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Wajah dan penampilan ulat sesudah berpuasa berubah.
Kini ulat menjadi kupu-kupu yang cantik. Makanannya berubah, bukan lagi dedaunan, tetapi madu. Cara bergerak ulat pun beruvah dari merayap, setelah menjadi kupu-kupu terbang dengan sayapnya. Tabiat dan sifatnya pun berubah total. Ketika masih ulat sifanya perusak, penampilan wajahnya seram. Setelah menjadi kupu-kupu sangat berguna bagi makhluk lain, membantu penyerbukan sehingga membantu kelangsungan hidup tanaman dan makhluk hidupnya lainnya. Hidupnya menjadi indah, menyenangkan, dan bersemarak karena bisa menolong dan hidup berarti bagi makhluk lain.
Lalu Romo Kebet menutup buku dongeng itu, diam termenung mengucapkan kalimat pendek: “Bagaimana dengan puasa dan hidupku….?”, “Seperti ular atau ulat…?” (ist)

Berkat Dukungan Keluarga

Meski berbekal pendidikan menengah pertama di SMP Madya Wiyata, Kudap (1989) – kini menjadi SMP negeri – dan tidak punya pengalaman memimpin kelompok atau organisasi, Fran­siskus Mulyadi (45) menerima kepercayaan warga Stasi Kudap, Paroki St. Fransiskus Xaverius-Dumai, Riau. Bahkan sampai tiga periode. Stasi Kudap terletak di Kecamatan Tasik Putri Puyu, Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Umat stasi ini berjumlah 14 keluarga (60-an jiwa) mayoritas bekerja sebagai nelayan, buruh, tukang, dan sebagian kecil guru. “Saya meneladan almar­hum Pastor Ferarro Pasquale, SX yang datang dari tempat jauh untuk melayani umat,” ujarnya.
Tahun 2013, untuk pertama kalinya ayah dua putera dan satu puteri ini terpilih sebagai ketua stasi hingga dua periode. Setelah dua periode kepemimpinannya berakhir, terpilih ketua baru. Karena tidak mendapatkan dukungan keluarganya, ketua baru terpilih mengundurkan diri. Saat diadakan pemilihan ulang, tidak ada umat bersedia sebagai ketua. Karena situasi, pastor paroki mem­buat “kebijaksa­naan” memperpanjang kepe­mimpinannya ke periode ketiga.
Suami Margaretha Ling Ling (35) ini teringat peristiwa nyaris sama yang dialami ayahnya, almarhum Paulus Salim yang menjadi ketua stasi hampir tiga puluhan tahun lamanya. Lelaki kelahiran Kudap, 21 September 1975 ini berharap ada regenerasi dan pergantian ketua stasi dengan ‘wajah baru’. Adi berkisah, ayah dan keluarga besarnya adalah Suku Akit pertama yang menjadi Katolik di Kudap. P. Guido Paolucci, SX yang membaptis mereka tahun 1982. “Saya ingin stasi tetap mem­punyai pemimpin. Saya jalani semua dengan hati terbuka, senang, dan segenap kemam­puan yang ada. Saya bersyukur istri dan anak-anak mendukung,” ujarnya.
Adi menambahkan, selama dua periode menjadi ketua stasi, duka yang paling terasa dirasakannya adalah minimnya dukungan umat. Adi prihatin umat stasi kurang berpar­tisipasi dalam aktivitas stasi dan kehidupan menggereja. Ada kesan, warga merasa kurang penting aktif di gereja, dengan berbagai alasan, antara lain tidak ada waktu karena mencari nafkah,” ucapnya. (hrd)

Akhirnya Saya Luluh Juga

Mulanya, Margaretta Tapokapkap (43) sempat menolak permintaan pastor paroki untuk memimpin kelompok perem­puan yang tergabung dalam Wanita Katolik Re­publik Indonesia (Wanita Katolik RI) Cabang Be­taet. Namun, hati ibu tiga anak ini luluh juga. Ia bersedia dan menjalankan roda organisasi bagai air mengalir. Tanpa terasa, telah dua tahun dijalaninya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC).
Istri Arsenius Taporuk (46) ini dilantik sebagai Ketua DPC WKRI Cabang Betaet pada 4 November 2018 berbarengan dengan peresmian cabang. Saat peresmian, anggota 35 orang, kini terbentuk lima ranting. Empat ranting di pusat paroki (St. Cicilia, St. Elisabet, St. Dominikus, St. Fransiskus) dan Ranting St. Monika di Simalegi Muara. Hingga medio Januari lalu, Margaretta sedang menunggu kesiapan sejumlah perempuan Katolik untuk peresmian ranting baru di Simalibeg dan Sakaladat.
Sebelum sebagai Ketua WKRI Cabang Betaet, ibu rumah tangga yang berhasil menyelesaikan pembelajaran Paket C (2009) ini dikenal sebagai aktivis Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) “Semangat Jaya” Dusun Betaet Utara, Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat, Mentawai, sejak tahun 2005. Selain mengurus rumah tangga, ia berladang kelapa dan pinang. Margaretta mengaku sempat mengalami kesulitan saat pertama kali cabang terbentuk, karena salah satu pengurus inti andalannya akan bersalin. “Setelah pengurus bersangkutan bersalin dan beraktivitas kembali, kegiatan organisasi berjalan normal kembali. Saya juga merasa ringan memimpin cabang ini karena didukung keluarga dan anggota organisasi. Saya akan terus lanjutkan memimpin cabang ini hingga akhir periode kepemimpinan,” ungkapnya. (hrd)

Berkat Dukungan Keluarga

Meski berbekal pendidikan menengah pertama di SMP Madya Wiyata, Kudap (1989) – kini menjadi SMP negeri – dan tidak punya pengalaman memimpin organisasi atau organisasi, Fransiskus Mulyadi (45) menerima kepercayaan warga Stasi Kudap, Paroki St. Transiskus Xaverius-Dumai, Riau. Bahkan sampai tiga periode. Stasi Kudap terletak di Kecamatan Tasik Putri Puyu, Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Stasi ini asyik sebagai 14 keluarga (60-an jiwa) berfungsi sebagai nelayan, buruh, dan sebagian kecil guru. “Saya meneladan almarhum Pastor Ferarro Pasquale, SX yang datang dari tempat jauh untuk melayani umat,” ujarnya.
Tahun 2013, untuk pertama kalinya ayah dua putera dan satu puteri ini terpilih sebagai ketua stasi hingga dua periode.Setelah dua periode kepemimpinannya berakhir, terpilih sebagai ketua baru. Karena tidak mendapatkan dukungan keluarganya, ketua baru mengundurkan diri. Saat diadakan pemilihan ulang, tidak ada umat yang bersedia sebagai ketua. Karena situasi, pendeta paroki membuat “kepemimpinan” kepemimpinannya ke periode ketiga.
Suami Margaretha Ling Ling (35) ini teringat pada peristiwa yang nyaris sama yang diperlihatkan, ditulis oleh almarhum Paulus Salim yang menjadi ketua stasi hampir tiga puluhan tahun. Lelaki kelahiran Kudap, 21 September 1975 ini berharap ada regenerasi dan pergantian ketua stasi dengan ‘wajah baru’. Adi berkisah, ayah dan keluarga sebagian besar adalah Suku Akit pertama yang menjadi Katolik di Kudap.P. Guido Paolucci, SX yang membaptis mereka pada tahun 1982. “Saya ingin tetap menjadi pemimpin. Saya jalani semua dengan hati terbuka, senang, dan segenap kemampuan yang ada. Saya bersyukur istri dan anak-anak mendukung, “katanya.
Adi menambahkan, selama dua periode menjadi ketua stasi, duka yang paling dirasakannya adalah dukungan umat. Adi prihatin umat stasi kurang menghitung dalam aktivitas stasi dan kehidupan menggereja. Ada kesan, warga merasa penting aktif di gereja, dengan berbagai alasan, antara lain tidak ada waktu karena mencari nafkah, ”ucapnya. (hrd)