Saatnya Semua Bersinerji

Saat ini, perkembangan teknologi komunikasi bergerak sedemikian cepat. Dari anak-anak hingga orangtua (dewasa), kini  tidak canggung lagi menggunakan sarana komunikasi di antaranya handphone  (HP). Mereka menggunakannya  untuk berbagai keperluan, sepeti berkomunikasi, hiburan, dan berbisnis. Sarana komunikasi ini ibarat pisau bermata dua, ada segi positif dan negatif.  Hanya saja, akhir-akhir ini, saya melihat sisi negatifnya  lebih menonjol, misalnya anak-anak lebih banyak bermain game sehingga lupa waktu dan meng­ganggu prestasi belajarnya. Bahkan ada anak yang kecanduan game. Sisi positifnya, anak-anak mampu dan terampil memanfaatkan alat komunikasi, men­cip­takan ide kreatif hingga produktif meng­hasilkan uang.

Ada  remaja yang ‘berbisnis online’ memanfaatkan teknologi komunikasi. Kemampuan anak remaja menggunakan alat komunikasi semakin baik dan maksimal dibandingkan orangtua. Mereka sangat cepat mempelajari hal-hal baru. Selama masa pandemi Covid-19 ini, telepon pintar (smartphone) semakin maksimal dimanfaatkan kalangan pelajar dan mahasiswa untuk melaksanakan pembelajaran online.

Dalam hal pemanfaatan produk teknologi komunikasi, orangtua (dewasa) justru banyak belajar dari mereka.  Orangtua  jangan pelit mengapresiasi hasil kerja mereka.  Dalam hal ini, tidak zamannya orangtua melarang mereka. Orang­tua bertanggungjawab mengarahkan mereka, misalnya membatasi waktu pemakaiannya, menjelaskan efek negatifnya kalau memakai dalam waktu lama atau terus menerus.  Orangtua mesti bersikap bijak dan tegas. Sebelum orangtua memberikan smartphone, sebaiknya menegaskan waktu pemakaiannya. Orangtua juga jangan bosan mengingatkan dan memantau anaknya. Orangtua juga harus membangun komunikasi agar mengerti perkembangan fitur dan aplikasi yang memancing rasa penasaran. Singkat kata, di tengah kesibukan mencari nafkah, orangtua tetap harus memantau anaknya agar tidak salah arah dan menyalahgunakan sarana komunikasi miliknya.

Masa kini, sekolah dan guru juga tidak lagi sebagai satu-satunya  sumber belajar anak. Mereka bisa belajar dari rekan sebaya dan internet.  Kemampuan ‘menguasai’ dan adaptif  anak dan remaja terhadap teknologi internet juga luar biasa cepat. Hal itu disebabkan beberapa faktor antara lain daya serap mereka masih besar, rasa keingintahuan sangat kuat, dan kecukupan gizi.

Masa remaja adalah masa pancaroba, kalau terpukau dan terbius dengan kemajuan teknologi bisa limbung kalau tidak mampu mengendalikan diri. Maka orangtua wajib mengawasi dan mengarahkan mereka.  Begitupun dalam penanaman  nilai moral dan etika. Kalau orangtua tidak pandai-pandai dan lalai mengawasi anaknya akibatnya bisa fatal.  Di sekolah memang diajarkan moral dan etika, namun belum cukup. Di rumah, orangtua mesti memberi teladan, sehingga nilai-nilai etika dan moral tertanam dan terpancar dalam perilaku anaknya.   Saya berharap pendidikan moral dan etika lewat mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) seperti dulu digalakkan lagi.

Begitupun dengan lembaga keagamaan. Gereja, lewat berbagai pembinaan dan pendampingan BIA-BIR dan OMK juga berperan dalam penanaman nilai-nilai terse­but dan cara memanfaatkan produk teknologi komunikasi secara tepat dan bertanggungjawab.  Di tahun 2020 ini, kami – Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Paulus Pekanbaru memiliki program yang membantu orang­tua, anak-remaja agar bijak meng­gunakan alat komunikasi modern, tetapi tertunda pelaksana­anya ka­rena pandemi Covid-19. Di kalangan Orang Muda Katolik (OMK), kami pernah melaksanakan Seminar dan Pelatihan Jurnalistik (singkat), tetapi rasanya belum cukup. Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu sehingga semua aktivitas kembali normal.  (hrd)

 (Andreas Kurniadi Soetanto – Mantan Koordinator Seksi Komunikasi Sosial/Komsos Stasi Santa Lusia-Rumbai. Anggota Seksi Komunikasi Sosial Paroki Santo Paulus, Pekanbaru dan Anggota LP3KD Kota Pekanbaru)